Adrian keluar dari ruangan interogasi dengan langkah tenang. Di belakangnya, Antonio dan Benny mengikuti sambil membawa beberapa lembar catatan hasil pemeriksaan. Begitu melihat putranya keluar, Olivya langsung menghampiri dan memeluk Adrian erat seolah memastikan bahwa anaknya benar-benar baik-baik saja setelah kejadian mengerikan hari itu.
"Mr. Marlon Vallencio, silahkan ikut kami."
Olivya mengernyitkan dahinya. Kepalanya langsung menoleh ke arah Madrick. Dalam hitungan detik, seluruh pasang mata yang berada di lorong rumah sakit ikut mengarah pada pria itu.
"Ada perlu apa dengan suami saya?" tanya Olivya dengan gugup.
Allcy yang sejak tadi berdiri cemas segera menghampiri Adrian.
"Adrian, kamu mengatakan apa pada Polisi itu?" tanyanya.
"Mereka terus mendesak ku dengan pertanyaan yang tidak penting. Jadi aku menyebutkan namanya saja." jawab Adrian dengan enteng.
"Adrian, apa yang kamu lakukan sayang? Menuduh Daddy mu sendiri?" tanya Olivya masih dengan nada lembutnya.
Madrick menatap tajam ke arah Adrian. Rahangnya sedikit mengeras. Ia sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dikatakan putranya di dalam ruangan tadi hingga namanya ikut terseret ke dalam penyelidikan yang bahkan tidak ia pahami sepenuhnya.
"Mari, sir." pinta Antonio.
Olivya segera berdiri di depan Madrick, seolah menjadi penghalang antara suaminya dan kedua polisi tersebut.
"Suami saya tidak bisa pergi sendiri, saya harus ikut bersamanya."
"Tenang saja, miss. Ini hanya pembicaraan biasa. Semakin kamu melarangnya, semakin besar kecurigaan kami padanya."
"Curiga? Kalian mencurigai seseorang yang sama sekali tidak tahu kronologinya?" sentak Allcy tak terima.
"Silahkan, ikut kami dahulu. Ini tidak akan lama."
Marlon Vallencio adalah identitas baru yang digunakan Madrick selama tinggal di Amerika Serikat. Nama itu sengaja dibuat untuk mengubur identitas lamanya yang penuh masalah di Italia. Berbeda dengan Olivya, Allcy, dan Adrian yang tetap menggunakan identitas asli mereka tanpa perubahan apa pun.
Adrian membuang pandangannya ke arah lain saat tatapan tajam Madrick kembali mengarah padanya. Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Adrian merasa sedikit bersalah. Namun perasaan itu cepat-cepat ia singkirkan.
Antonio dan Benny kemudian membawa Madrick masuk ke ruangan yang sebelumnya digunakan untuk menginterogasi Adrian.
"Adrian, kamu tidak menyalahkan Daddy mu atas semua kejadian ini kan?" tanya Alex yang sejak tadi memilih diam.
Adrian terdiam beberapa detik. Sebelum ia sempat menjawab, Olivya melangkah maju dan berdiri tepat di hadapannya. Matanya memerah, namun kali ini tidak ada kelembutan yang biasa Adrian lihat. Tatapan wanita itu terasa lebih tajam dari biasanya.
"Sayang, Mommy tahu jika kamu membenci Daddy. Tapi ingat, kebencian mu tidak akan berarti apapun." ucap Olivya pada putra bungsunya.
"Mom, benar aku membenci dia. Tapi percayalah, aku tidak menyalahkan dia atas kasus penembakan ini. Suami mu akan baik-baik saja, aku janji." balas Adrian dengan nada sedikit frustasi.
Di sisi lain, Gerald yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada tampak semakin tidak nyaman berada di tempat yang sama dengan Madrick.
"Alex, ayo pulang." ajak Gerald.
"Tunggu—"
"Ayo sayang, kita pulang. Kita tidak ada urusan disini." potong Lina, istri Gerald sekaligus ibu Alex.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Mystery / ThrillerTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
