Chapter 5 : Promise Daddy

5.1K 177 1
                                        

Olivya merasa waktu berjalan terlalu cepat. Langit yang sebelumnya cerah perlahan berubah menjadi jingga, lalu mulai meredup menuju senja. Rasanya baru beberapa saat yang lalu ia memeluk Madrick untuk pertama kalinya setelah enam tahun berpisah. Namun kini jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan ia harus kembali pulang bersama kedua anaknya.

Suasana di halaman Castle Midleton terasa tenang. Angin sore berembus pelan melewati taman luas yang mengelilingi bangunan megah itu. Adrian berdiri di dekat Madrick sambil menggenggam tangan pria tersebut. Sejak tadi ia tidak mau menjauh sedikit pun dari ayahnya.

"Daddy, kapan Daddy pulang ke rumah?" tanya Adrian.

Madrick menatap putranya beberapa saat sebelum berjongkok agar sejajar dengannya. Wajah kecil Adrian dipenuhi harapan. Tatapan mata itu membuat dadanya terasa sesak.

"Saat semuanya sudah aman, Daddy akan pulang."

Adrian mengerutkan dahinya.

"Itu kapan?"

Madrick tersenyum tipis.

"Secepat yang Daddy bisa."

Jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan Adrian. Namun ia memilih diam. Selama ini ia bahkan tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau tidak. Setidaknya sekarang ia sudah bertemu langsung dengan sosok yang selama ini hanya dikenalnya melalui foto-foto lama.

"Kalau Daddy pulang nanti, Daddy nggak boleh pergi lagi."

Madrick terdiam sejenak.

Kemudian ia mengangguk.

"Iya."

"Janji?"

"Janji."

Adrian langsung mengulurkan jari kelingkingnya. Tingkah polos itu membuat beberapa orang yang melihatnya tersenyum. Madrick ikut mengulurkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya dengan milik Adrian.

"Kalau bohong nanti Daddy dihukum."

"Hukuman apa?"

Adrian berpikir beberapa detik.

"Hukuman nggak boleh makan es krim sebulan."

Madrick tertawa kecil.

"Baiklah."

Mendengar itu, Adrian terlihat puas. Ia merasa sudah membuat perjanjian yang sangat penting. Bahkan jauh lebih penting daripada tugas sekolah atau permainan apa pun yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Di sisi lain, Olivya hanya memperhatikan keduanya dalam diam. Berkali-kali ia harus menghapus air mata yang berusaha muncul kembali. Momen sederhana seperti itu adalah sesuatu yang selama ini selalu ia impikan.

Enam tahun.

Enam tahun bukan waktu yang singkat.

Enam tahun cukup untuk membuat seorang anak tumbuh tanpa ayah.

Dan enam tahun juga cukup untuk membuat seseorang hampir kehilangan harapan.

"Sudah waktunya berangkat."

Suara Frans membuat semua orang kembali tersadar. Langit semakin gelap dan perjalanan menuju mansion masih cukup jauh.

Adrian langsung memeluk Madrick sekali lagi.

Pelukan itu begitu erat untuk ukuran anak seusianya.

Seolah takut jika ayahnya akan menghilang begitu ia melepaskannya.

Madrick membalas pelukan tersebut sambil memejamkan mata. Aroma rambut putranya membuat dirinya kembali diliputi rasa bersalah. Ia kehilangan terlalu banyak waktu bersama Adrian.

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang