Bel istirahat baru saja berbunyi ketika Adrian keluar dari ruang kelasnya. Koridor sekolah langsung dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan para siswa yang berhamburan menuju kantin. Namun, alih-alih ikut berlari seperti biasanya, Adrian justru berhenti di depan kelas.
Matanya mengamati halaman sekolah yang terlihat sibuk. Entah sejak kapan, dirinya mulai memperhatikan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatiannya. Mungkin sejak surat misterius itu muncul. Mungkin juga sejak dirinya bertemu kembali dengan Madrick beberapa hari lalu.
"Ian!"
Suara Vallerina membuyarkan lamunannya. Gadis kecil itu berlari kecil menghampirinya sambil membawa kotak makan siang di kedua tangannya. Adrian menoleh dan mendapati Valle menatapnya dengan curiga. "Kamu aneh beberapa hari ini," tuduh gadis itu tanpa basa-basi. Adrian mendengus pelan. Ia sudah mendengar kalimat yang sama lebih dari sekali.
Menurutnya dirinya baik-baik saja, hanya saja pikirannya memang sedang penuh oleh berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
"Aku normal."
"Nggak. Kamu aneh."
"Aku cuma banyak mikir."
Valle menyipitkan matanya. "Nah, itu masalahnya. Anak seusiamu biasanya nggak mikir sebanyak itu."
Adrian memutar bola matanya malas. Ia tidak mungkin menceritakan soal surat misterius yang sampai sekarang masih ia sembunyikan di laci kamar. Bahkan Allcy dan Olivya pun belum mengetahuinya.
Bukan karena ia tidak percaya kepada mereka, melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang ingin menyelesaikan teka-teki itu sendiri. Perasaan yang sulit dijelaskan, tetapi semakin hari semakin kuat.
Sementara itu, di bangunan sekolah yang berbeda, Allcy berjalan menuju kantin bersama Kate, Jenny, dan Elizabeth. Seperti biasanya, Elizabeth berjalan paling belakang sambil menundukkan kepala. Gadis itu belum terbiasa menjadi pusat perhatian sejak pindah ke sekolah tersebut.
Tatapan para siswa yang mengikuti setiap langkahnya membuatnya tidak nyaman. Karena terlalu fokus menatap lantai, tanpa sadar ia menabrak seorang siswi yang datang dari arah berlawanan.
Bruk.
Elizabeth langsung memegang dahinya. "Maaf... aku minta maaf." Namun permintaan maaf itu tidak diterima dengan baik. Gadis di depannya justru mendecak kesal dan mulai menyalahkannya. Kate yang melihat kejadian itu dari beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya. Tanpa ragu, ia melempar kotak susu kosong yang sedang dipegangnya hingga mengenai kepala gadis tersebut. Benturan ringan itu memang tidak menyakitkan, tetapi cukup membuat seluruh koridor mendadak sunyi.
"Bodoh," ujar Kate santai.
"Apa?"
"Jalan itu pakai kaki."
Wajah gadis itu langsung memerah. Ia hendak membalas, tetapi Jenny lebih dulu maju. Tatapan dingin Jenny yang terkenal di seluruh sekolah membuat nyalinya langsung menciut. "Kalau kamu lihat dia jalan sambil nunduk, kenapa nggak menghindar?" tanya Jenny datar. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada bentakan. Namun justru itulah yang membuat suasana terasa menekan. Gadis itu akhirnya memilih pergi sambil menggerutu pelan, sementara Elizabeth hanya bisa berdiri canggung di tempatnya.
Saat mereka tiba di kantin, suasana tidak terlalu ramai. Sebagian besar siswa memilih pulang lebih awal karena hari berikutnya adalah akhir pekan. Allcy duduk bersama Kate sambil memainkan ponselnya. Jemarinya membuka aplikasi Instagram yang sudah cukup lama tidak ia sentuh. Puluhan permintaan mengikuti akun menumpuk di sana. Sebagian besar langsung ia abaikan. Sebagai bagian dari keluarga Vallencio, ia tahu terlalu banyak orang yang ingin mencari informasi tentang Madrick melalui dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Mistero / ThrillerTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
