Dua hari berlalu sejak keluarga Vallencio menetap di Los Angeles. Rumah baru itu mulai tertata rapi, tetapi Adrian masih belum bisa merasa nyaman. Baginya, tempat ini tetap terasa asing. Ia kehilangan sekolah lamanya, kota tempat ia dibesarkan, dan yang paling menyebalkan, ia harus memulai semuanya dari awal. Pagi itu, Adrian duduk di meja makan dengan wajah murung sambil menusuk-nusuk sosis di piringnya menggunakan garpu.
"Kamu terlihat seperti habis diputusin pacar." komentar Allcy santai.
"Aku tidak punya pacar."
"Syukurlah. Dunia masih aman."
Adrian memutar bola matanya malas.
Di ujung meja, Madrick sedang membaca berita dari tablet miliknya. Sesekali pria itu melirik Adrian yang sejak bangun tidur terus memasang wajah seperti orang paling menderita di dunia.
"Hari pertama sekolah saja sudah seperti ini." ujar Madrick.
"Bukan urusanmu."
Suasana meja makan langsung hening sesaat.
Allcy menghela napas pelan. Olivya yang baru datang membawa segelas susu hanya mengusap puncak kepala Adrian dengan lembut.
"Jangan cemberut terus, sayang."
"Aku tidak cemberut."
"Kamu cemberut."
"Aku hanya tidak bahagia."
Madrick kembali membuka mulut. "Kalau terus seperti itu, teman-teman barumu akan kabur."
"Aku tidak peduli."
"Kau harus belajar beradaptasi."
"Kau juga harus belajar tidak mengatur hidup orang lain."
"Adrian." tegur Olivya lembut.
Namun Adrian hanya menundukkan kepalanya dan melanjutkan sarapan. Ia memang masih marah. Sangat marah. Setiap kali melihat Madrick, ia kembali teringat bagaimana pria itu menghilang bertahun-tahun lalu dan muncul kembali hanya untuk mengubah seluruh hidup mereka dalam hitungan hari.
Tak lama kemudian Adrian berdiri sambil menyampirkan tas ke pundaknya.
"Aku berangkat."
"Hati-hati, sayang." ujar Olivya.
Adrian hanya mengangguk sebelum berjalan menuju pintu utama rumah. Langkahnya terasa berat. Hari pertama sekolah baru tanpa Alex terdengar seperti mimpi buruk yang harus ia jalani.
Tangannya meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
"Selamat pagi." seru remaja laki-laki
Adrian membeku.
Matanya membulat.
Di depan pintu berdiri seorang remaja laki-laki dengan balutan kaos hitam dan celana jeans. Tak lupa tak yang disampirkan begitu saja di pundak kirinya. Rambutnya sedikit berantakan seperti biasa. Senyum jahilnya juga masih sama.
Alex O'Brien.
Beberapa detik Adrian hanya berdiri mematung.
Alex melambaikan tangan. "Hallo?"
"Aku lagi halusinasi?" tanya Adrian dengan nada tak percaya.
"Bukan."
"Alex?"
"Ya."
"Alex?!"
Tanpa berpikir panjang, Adrian langsung menarik tubuh sahabatnya ke dalam pelukan. Alex yang tidak siap hampir kehilangan keseimbangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Misterio / SuspensoTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
