"Anak nggak punya Daddy!"
Suara ejekan itu kembali terdengar di telinga Adrian. Anak laki-laki berusia enam tahun itu yang semula sedang duduk di bangku taman sekolah langsung menghentikan aktivitasnya. Di hadapannya berdiri tiga anak lain yang seusia dengannya. Mereka tertawa sambil saling mendorong bahu satu sama lain, seolah apa yang mereka katakan adalah sesuatu yang lucu.
"Katanya Daddy Adrian pergi."
"Iya, nggak pernah kelihatan."
"Jangan-jangan Daddy Adrian nggak mau sama dia."
Tawa mereka kembali pecah. Adrian menunduk dan mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar ejekan seperti itu. Hampir setiap minggu selalu ada yang menanyakan keberadaan ayahnya. Semakin lama, pertanyaan itu berubah menjadi ejekan yang membuatnya tidak lagi nyaman berada di sekolah.
"Aku punya Daddy," ucap Adrian pelan.
Salah satu anak mendengus.
"Kalau punya, mana orangnya?"
"Kenapa nggak pernah jemput kamu?"
"Kenapa cuma Mommy sama Kak Allcy terus?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam Adrian bertubi-tubi. Ia membuka mulut untuk menjawab, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Karena kenyataannya, ia memang tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak pernah melihat ayahnya datang ke sekolah. Tidak pernah dijemput olehnya. Bahkan kenangan tentang wajah ayahnya hanya berasal dari foto-foto lama yang terpajang di rumah.
"Diam!"
Suara Adrian tiba-tiba meninggi. Ketiga anak itu terkejut. Wajah Adrian memerah dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku punya Daddy!"
"Kalau punya, suruh datang besok."
Kalimat itu diikuti tawa yang lebih keras. Salah satu anak bahkan menambahkan sesuatu yang membuat Adrian kehilangan kesabarannya.
"Atau jangan-jangan Daddy kamu udah mati?"
Bruk!
Tubuh anak itu terdorong hingga jatuh ke tanah. Semua orang langsung terdiam. Adrian sendiri tampak terkejut dengan tindakannya. Ia belum pernah mendorong siapa pun sebelumnya. Namun amarah yang selama ini dipendam akhirnya meledak begitu saja.
"Jangan bilang Daddy aku mati!" teriaknya.
Tangisan anak yang terjatuh segera mengundang perhatian guru. Dalam hitungan detik, suasana taman sekolah berubah kacau. Beberapa guru berlari menghampiri mereka sementara Adrian berdiri mematung dengan napas memburu.
***
Satu jam kemudian, Adrian duduk di ruang guru dengan kepala tertunduk. Kedua kakinya yang pendek menggantung dari kursi. Sesekali ia memainkan jemarinya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup. Di depannya, guru kelas sedang berbicara dengan Olivya yang baru saja datang.
"Ini bukan pertama kalinya Adrian diejek mengenai ayahnya," ujar sang guru dengan nada hati-hati.
Olivya mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada kesedihan yang samar di matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Mistério / SuspenseTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
