Chapter 9 : Calm Day

3.5K 145 0
                                        

Minggu sore berjalan jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Tidak ada pembicaraan serius. Tidak ada pertanyaan yang membuat suasana menjadi canggung. Mansion Vallencio dipenuhi suara tawa dan obrolan ringan yang membuat rumah besar itu terasa hangat.

Di salah satu ruangan favorit Adrian, sebuah bioskop mini pribadi yang berada di lantai bawah mansion, beberapa orang sedang menikmati waktu bersama. Lampu ruangan diredupkan. Layar besar memenuhi dinding depan. Aroma popcorn dan berbagai camilan memenuhi udara.

Kate sudah menguasai sofa paling empuk sejak lima menit pertama mereka masuk.

"Aku duluan yang duduk di sini!" serunya ketika Jenny mencoba mengambil tempat yang sama.

Jenny hanya menatapnya datar.

"Aku bahkan nggak mau duduk di sana."

"Bagus."

"Aku cuma mau ngambil popcorn."

Kate langsung memeluk mangkuk popcorn miliknya.

"Ini punyaku."

Elizabeth yang duduk di samping Allcy tertawa pelan melihat tingkah mereka. Selama menginap di mansion, dirinya merasa jauh lebih nyaman dibanding yang ia bayangkan. Tidak ada suasana canggung. Tidak ada perlakuan berlebihan. Semua orang memperlakukannya seperti keluarga sendiri.

Sementara itu, Adrian duduk di lantai tepat di depan sofa sambil memangku semangkuk besar keripik kentang. Posisi tersebut sebenarnya sudah beberapa kali diprotes oleh Olivya karena terlalu dekat dengan layar.

Namun Adrian tetap bersikeras.

Menurutnya, menonton film harus dari dekat agar terasa lebih seru.

"Ian, nanti matamu rusak."

"Nggak akan."

"Kata siapa?"

"Kata Ian."

Jawaban itu membuat semua orang tertawa.

Olivya yang baru saja masuk sambil membawa minuman dingin hanya bisa menggelengkan kepala. Anak laki-laki itu memang selalu memiliki jawaban untuk segalanya.

Film yang mereka tonton merupakan film petualangan fantasi pilihan Elizabeth. Awalnya Kate sempat mengeluh karena ingin menonton film horor. Namun setelah Olivya mengingatkan bahwa Adrian masih berusia enam tahun, protes itu langsung berakhir.

"Lain kali kita nonton horor."

"Kalau Daddy ada, pasti boleh." celetuk Adrian.

Ucapan polos itu membuat ruangan mendadak sedikit sunyi.

Namun hanya sesaat.

Karena Adrian sendiri tidak terlihat sedih ketika mengatakannya.

Justru ia tersenyum.

Seolah keberadaan Madrick bukan lagi sesuatu yang terasa mustahil baginya.

Kini ia tahu ayahnya masih hidup.

Dan itu sudah cukup membuat hatinya tenang.

"Kalau Daddy ada, Daddy pasti tidur dulu sebelum filmnya mulai." ujar Allcy sambil terkekeh.

Kate langsung tertawa.

"Bener banget."

"Apa Daddy sering tidur?"

Elizabeth terlihat penasaran.

"Sangat sering." jawab Allcy.

"Kalau lagi libur, Papa bisa tidur seharian."

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang