Chapter 26 : Elva's Suspicion

115 13 2
                                        

Elva menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Tatapan Adrian tak pernah berpindah dari wajahnya. Sorot mata pemuda itu tajam, dingin, dan mengintimidasi. Seolah-olah ia sedang menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Elva untuk mencari kebohongan yang tersembunyi di baliknya.

"A-aku tidak tahu... aku tidak tahu pesan itu!" jawab Elva terbata-bata. Kedua tangannya terangkat sedikit seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan kejahatan yang bahkan tidak pernah ia sadari.

Adrian mengerutkan alis.

"Kamu punya kunci gudang. Kamu tahu tempat ini. Kamu tahu soal penembakan yang orang lain tidak tahu. Dan kamu punya-"

Ia menurunkan ponselnya, lalu menunjuk gambar wajahnya yang tergeletak di atas meja.

"-ini."

"Elva..."

Alex menatap gadis pirang itu. Nada suaranya kini jauh lebih serius dari sebelumnya.

"Kamu harus jujur. Kalau kamu bohong sekali saja, Adrian akan tahu."

Napas Elva tersengal.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu Adrian, ketakutan yang sesungguhnya terlihat jelas di matanya. Ia memalingkan wajah, berusaha menyusun kalimat yang tepat, tetapi suaranya tetap bergetar saat akhirnya berbicara.

"Tempat ini... gudang ini... bukan milikku. Bukan milik Papa. Ini milik seseorang yang... yang hilang."

Kening Adrian mengernyit.

"Hilang?"

Elva mengangguk cepat.

"Siapa?" potong Adrian tanpa mengurangi intensitas tatapannya.

Elva membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar. Jemarinya mencengkeram ujung jaketnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, ia akhirnya kembali menatap Adrian.

Ada rasa bersalah di sana.

Dan ketakutan.

"Ini adalah tempat milik sahabatku. Namanya Victoria."

Adrian dan Alex saling berpandangan.

"Victoria?" tanya Alex.

Elva mengangguk lagi.

"Ya. Sahabatku. Namanya Victoria London. Dia menghilang... satu bulan sebelum penembakan pertama terjadi."

Suaranya pecah.

"Dan tidak ada yang tahu ke mana dia pergi."

Adrian memicingkan mata. Ia perlahan menjauhkan tubuhnya dari meja, seakan sedang menyusun potongan-potongan informasi di dalam kepalanya.

"Apa hubungannya ini denganku?"

Elva menggigit bibir bawahnya. Sesaat kemudian ia berjongkok dan mengambil sebuah map lusuh dari bawah meja. Debu tipis beterbangan saat benda itu ia letakkan di hadapan Adrian.

"Ini... Victoria sudah menyelidiki sesuatu. Tentang sekolah ini. Tentang perekrutan, penculikan, dan seseorang yang mereka cari."

Elva menunduk.

"Aku tidak tahu semuanya. Tapi... dia selalu menggambar orang-orang yang menurutnya berkaitan."

Adrian segera meraih map itu.

Halaman demi halaman dibaliknya dengan cepat.

Puluhan sketsa memenuhi lembaran-lembaran kertas yang mulai menguning. Wajah murid. Wajah guru. Orang-orang asing yang bahkan tak pernah ia lihat sebelumnya.

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang