Chapter 19 : Petty Disputes

1.1K 47 7
                                        

"Ian, bantu Mommy mengangkat kardus itu."

Suara Olivya terdengar dari dalam rumah baru mereka. Namun Adrian yang sedang jongkok di halaman depan pura-pura tidak mendengar. Perhatiannya justru tertuju pada seekor anjing berbulu cokelat yang sedari tadi mengikutinya ke mana-mana. Matanya menyipit ketika membaca tulisan yang tertera pada kalung anjing itu.

"Lopi..." gumam Adrian. "Jadi namamu Lopi."

Anjing itu menggonggong pelan sambil mengibaskan ekornya.

"Tunggu di sini sebentar ya. Aku sedang dipaksa kerja rodi."

Adrian berdiri dan berjalan memasuki rumah. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Italia, keluarga Vallencio akhirnya tiba di Los Angeles. Rumah baru mereka memang tidak sebesar mansion di Milan, tetapi tetap terlihat megah dan elegan.

Interior bergaya klasik yang mendominasi seluruh ruangan langsung menunjukkan siapa pemilik selera di rumah ini. Tentu saja, semuanya dipilih langsung oleh Olivya.

"Ian, kardus itu."

"Iya, iya."

Dengan malas Adrian mengangkat satu kardus kecil dan meletakkannya di dekat ruang keluarga. Beberapa bodyguard dan pekerja masih sibuk memindahkan barang-barang lainnya. Meski begitu, Olivya tetap ikut membantu mengatur beberapa barang pribadi, sementara Madrick mengawasi proses pemindahan sambil sesekali memberi instruksi.

"Acy, istirahat dulu." ujar Madrick saat melihat Allcy membawa kardus yang cukup besar. "Papa lihat kamu sudah kelelahan."

"Iya, Pa."

Allcy meletakkan kardus itu di lantai.

"Tinggalkan saja. Biar anak buah Papa yang membereskannya."

Allcy mengangguk sebelum berjalan menuju lantai dua. Melihat kakaknya pergi beristirahat, Adrian langsung mendapat ide cemerlang. Jika Allcy boleh beristirahat, maka dirinya juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Setidaknya begitu menurut logikanya.

"Ian juga mau istirahat."

"Tidak." sahut Madrick cepat. "Kamu baru bantu dua kardus."

"Aku capek."

"Kamu lebih banyak main sama anjing daripada kerja."

Adrian langsung memicingkan mata.

"Mommy."

"Iya sayang?" sahut Olivya.

"Aku mau istirahat."

Olivya tersenyum lembut.

"Iya. Istirahat saja kalau memang capek."

Wajah Madrick langsung berubah datar.

"Lihat? Kau terlalu memanjakan dia."

"Itu namanya perhatian."

"Itu namanya pilih kasih."

Adrian langsung tersenyum penuh kemenangan. Begitu Olivya menoleh ke arah lain, ia menjulurkan lidah ke arah Madrick sebelum berlari menuju tangga. Hal itu membuat pria dewasa itu hanya bisa menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

"Anakmu semakin tidak sopan."

"Anak kita." koreksi Olivya.

"Itu lebih buruk."

Olivya tertawa pelan.

Sesampainya di lantai dua, Adrian langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya berkeliling memperhatikan kamar baru yang kini menjadi miliknya. Kamar itu sebenarnya sangat luas untuk ukuran rumah biasa, tetapi tetap terasa jauh lebih kecil dibanding kamar yang ia miliki di Milan.

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang