Enam tahun berlalu sejak berbagai peristiwa yang pernah mengguncang kehidupan keluarga Vallencio. Adrian kini telah berusia dua belas tahun dan akan memulai babak baru dalam hidupnya sebagai siswa International Middle School.
Tubuhnya tumbuh tinggi untuk anak seusianya. Wajahnya semakin mirip dengan Madrick, terutama pada bagian mata dan garis rahangnya. Namun sifatnya jauh berbeda. Adrian lebih mudah tersenyum, lebih ramah, dan memiliki rasa ingin tahu yang sering kali membuatnya terlibat dalam berbagai hal yang tidak sengaja.
Pagi itu, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang International Middle School. Sekolah bergengsi yang menjadi tujuan banyak keluarga terpandang untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Suasana di depan gerbang terlihat ramai. Para siswa baru berjalan mondar-mandir mencari kelas mereka masing-masing, sementara beberapa orang tua masih sibuk memberikan nasihat terakhir sebelum anak mereka masuk ke lingkungan baru.
Adrian keluar dari mobil sambil memanggul tas ranselnya. Ia berdiri sejenak di depan gerbang dan mengamati bangunan sekolah yang menjulang megah di hadapannya. Dinding berwarna krem, jendela-jendela besar, dan taman yang tertata rapi membuat sekolah itu lebih mirip kampus kecil daripada sekolah menengah pertama.
"Semoga tidak membosankan," gumam Adrian.
Bodyguard yang mengantarnya hanya menggeleng pelan.
"Kau selalu bilang begitu setiap memulai sesuatu."
"Karena biasanya memang membosankan."
Adrian tersenyum lalu melangkah masuk ke area sekolah. Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Tidak ada satu pun siswa yang sudah saling mengenal. Semua datang sebagai orang asing dan berharap pulang membawa setidaknya satu teman baru.
Koridor sekolah dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan siswa. Adrian berjalan santai sambil membaca petunjuk arah yang ditempel di beberapa dinding. Sesekali ia memperhatikan detail-detail kecil di sekitarnya. Letak ruang guru, ruang kesehatan, perpustakaan, dan lapangan olahraga langsung tersimpan di dalam ingatannya.
Saat sedang memperhatikan papan informasi sekolah, seseorang tiba-tiba menabraknya dari belakang.
Bruk.
"Holy—!"
Suara terkejut itu terdengar cukup keras.
Adrian menoleh dan melihat seorang anak laki-laki yang hampir kehilangan keseimbangan. Rambutnya cokelat tua dengan mata biru terang yang langsung menatap Adrian dengan kesal.
"Kau berhenti mendadak." ketus anak laki-laki yang sedang mendumal kesal pada Adrian.
"Kau jalan terlalu cepat." Balas Adrian santai.
"Kau berdiri di tengah jalan." serunya lagi, tak mau kalah.
"Kau punya mata."
"Kau juga."
Beberapa detik mereka hanya saling menatap sebelum akhirnya sama-sama tertawa.
"Oke. Mungkin kita berdua salah." putus anak laki-laki itu.
"Nah, itu lebih masuk akal."
Anak laki-laki itu mengulurkan tangan. "Alex O'Brien."
Adrian menyambut uluran tangan tersebut. "Adrian Vallencio."
"Senang bertemu denganmu."
"Sama."
Alex tersenyum ramah. Tidak seperti banyak anak lain yang terlihat gugup di hari pertama sekolah, anak itu justru tampak santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Mistério / SuspenseTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
