Beberapa bulan berlalu sejak Adrian dan Alex menjadi sahabat. Kehidupan sekolah mereka berjalan cukup normal. Nilai Adrian selalu berada di jajaran terbaik, sementara Alex terus berjuang agar nilainya tidak membuat ayahnya menghela napas panjang setiap menerima rapor. Meskipun berbeda dalam banyak hal, keduanya justru semakin akrab seiring berjalannya waktu.
Namun ketenangan itu tidak bertahan selamanya.
Suatu pagi, suasana International Middle School berubah drastis.
Semua bermula dari kerumunan siswa yang memenuhi halaman depan sekolah. Para guru terlihat sibuk mengatur murid-murid agar tidak mendekati area tertentu. Beberapa mobil polisi terparkir di depan gerbang. Garis pembatas kuning terbentang di sekitar taman belakang sekolah.
Saat Adrian dan Alex tiba, mereka langsung menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
"Wah..." gumam Alex.
"Jangan bilang yang kupikirkan." tebak Adrian.
"Kalau yang kau pikirkan adalah sesuatu yang buruk, sepertinya iya."
Mereka mempercepat langkah menuju kerumunan siswa.
Seorang guru segera menghentikan mereka. "Jangan mendekat." ucapnya sambil merentangkan tangan kirinya agar Alex dan Adrian tidak melampaui batas yang telah ditetapkan.
"Memangnya ada apa, Miss?" tanya Alex.
Guru itu tampak ragu sebelum akhirnya menjawab pelan.
"Ada penjaga sekolah yang ditemukan meninggal pagi ini."
Alex membelalakkan mata.
"Meninggal?"
Adrian langsung menangkap satu kata yang lebih penting.
"Ditemukan?"
Guru itu mengangguk.
"Polisi sedang menyelidiki."
Setelah itu guru tersebut meminta mereka kembali menjauh. Namun rasa penasaran sudah terlanjur tumbuh dalam diri Adrian.
Dan itu bukan pertanda baik.
***
Pelajaran hari itu berlangsung kacau. Tidak ada siswa yang benar-benar fokus belajar. Semua orang sibuk membicarakan kejadian pagi tadi. Berbagai rumor mulai beredar. Ada yang mengatakan penjaga sekolah terkena serangan jantung. Ada yang bilang dirinya dirampok. Bahkan ada yang percaya bahwa pelakunya masih berada di dalam lingkungan sekolah.
Alex memutar kursinya menghadap Adrian.
"Kita harus menyelidikinya." bisik Adrian.
"Tidak." sahut Alex dengan cepat.
"Kenapa tidak?" tanya Adrian.
"Karena itu tugas polisi."
Alex menunjuk dirinya sendiri. "Daddy ku sheriff." lanjutnya dengan nada penuh kebanggaan.
"Baguslah, kita kerja sama dengan Daddy mu." kata Adrian. "Dan aku punya bakat alami." sambungnya.
Alex mengerutkan dahinya. "Aku juga!"
"Kau bahkan tidak bisa menemukan kaus kakimu sendiri kemarin."
"Itu berbeda."
Adrian menggeleng pelan.
Namun semakin ia mencoba mengabaikan kasus itu, semakin besar rasa penasarannya.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Sangat janggal.
***
Saat jam pulang sekolah tiba, Adrian justru tidak langsung menuju gerbang. Ia berjalan menuju taman belakang sekolah, lokasi tempat kejadian ditemukan pagi tadi. Garis polisi masih terpasang, meskipun sebagian besar petugas sudah pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Misterio / SuspensoTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
