Minggu pagi datang dengan suasana yang jauh lebih ramai dari biasanya. Sejak Kate, Jenny, dan Elizabeth menginap di mansion, rumah besar milik keluarga Vallencio itu terasa hidup. Suara tawa terdengar dari berbagai sudut rumah. Para maid bahkan beberapa kali mengeluh kewalahan karena harus menyiapkan sarapan untuk lebih banyak orang. Namun, berbeda dengan penghuni mansion lainnya, Adrian justru tidak terlalu menikmati keramaian pagi itu.
Anak laki-laki itu berdiri di dekat jendela ruang keluarga sambil memandangi halaman depan. Tangannya memegang segelas susu hangat yang sudah mulai dingin. Matanya sesekali menyapu jalan raya yang terlihat dari balik pagar besi mansion. Sejak semalam, pikirannya terus kembali pada mobil hitam yang ia lihat.
Mungkin memang hanya kebetulan.
Mungkin dirinya terlalu banyak berpikir.
Namun semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas bayangan mobil itu muncul di kepalanya. Terlebih setelah ia berhasil mengingat bahwa kendaraan serupa pernah berada di sekitar Castle Midleton saat dirinya bertemu dengan Madrick.
"Ian."
Suara Olivya membuat Adrian menoleh.
"Hm?"
"Kamu ngapain dari tadi di situ?"
"Nggak ngapa-ngapain."
Olivya menyipitkan mata. Jawaban itu terlalu sering digunakan oleh putranya ketika sedang menyembunyikan sesuatu. Namun ia memilih tidak bertanya lebih jauh. Setidaknya untuk sekarang.
"Kalau nggak ngapa-ngapain, bantu Mommy ambilin piring."
Adrian menghela napas panjang.
"Baik..."
Meski terdengar malas, ia tetap berjalan menuju ruang makan. Olivya tersenyum kecil melihat tingkah anaknya. Dalam beberapa hari terakhir, Adrian memang terlihat lebih banyak diam. Tidak sediam Jenny tentunya, tetapi cukup berbeda dari biasanya.
***
Setelah sarapan selesai, para penghuni mansion memutuskan menghabiskan waktu di halaman belakang. Cuaca pagi sangat mendukung. Langit cerah dan angin bertiup pelan. Kate dan Jenny memilih duduk di bawah gazebo sambil memainkan ponsel. Elizabeth membantu Zakira menyiram tanaman. Sementara Allcy sibuk menemani Adrian yang sejak tadi berlarian bersama beberapa anjing peliharaan mansion.
"Capek nggak?" tanya Allcy ketika melihat Adrian akhirnya menjatuhkan diri di atas rumput.
"Nggak."
Padahal napasnya sudah terengah-engah.
Allcy tertawa kecil.
"Kamu mirip seseorang."
"Daddy?"
"Iya."
Jawaban itu membuat Adrian tersenyum lebar.
Ia menyukai setiap kali seseorang mengatakan dirinya mirip Madrick.
Entah kenapa, hal itu selalu membuatnya bangga.
"Kalau aku gede nanti, aku bakal setinggi Daddy."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Mystère / ThrillerTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
