Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
MATAHARI MASIH terlihat samar ketika pesawat yang ditumpangi Vannesya mendarat sempurna di Bandara International John F. Kennedy. Ia tersenyum kecil ketika awak pesawat mulai membuka pintu, dan satu per satu penumpang mulai keluar. Tidak ada senyum yang benar-benar membuatnya bahagia ketika pesawat mulai lepas landas dari Indonesia dan mendarat mulus di New York.
Benar sekali—New York. Mari kita ulangi—NEW YORK. New York, bukan LA seperti rencana awal sang ayah. Entah kekuasaan dari mana yang sampai membuat ayahnya mampu merubah rencana hanya dalam semalam. Dari awalnya Los Angeles, berubah menjadi New York. Setelah mendapat telepon mendadak dari Valetta Morris—kakaknya yang berprofesi sebagai model—mengatakan dia harus segera pindah ke New York. Vannesya tidak tahu—atau lebih tepatnya tidak mau tahu kenapa sang kakak harus pindah mendadak. Yang jelas ia kesal dengan pemindahan mendadak kakaknya ini.
Vannesya bukannya membenci kota besar tersebut, hanya saja ada hal yang membuatnya tidak suka dengan salah satu kota di Amerika ini. Karena di dalamnya tinggal spesies manusia seperti sang ayah. Yang punya kemampuan setara dengan ayahnya dalam hal memerintah. Satu pemikiran yang muncul di kepala Vannesya, kalau Valetta tiba-tiba pindah ke negara lain lagi—Prancis misalnya, apa ia harus diawasi oleh orang tua itu selama ada di New York?
Oh, tidak!
Vannesya lebih baik ikut bersama Valetta. Namun hal itu tidak mungkin terjadi, karena ayahnya pasti akan langsung melarang. Orang tua itu sangat tidak suka dibantah, dan Vannesya membencinya.
Dua puluh satu, atau lebih tepatnya dua puluh dua jam kemudian setelah waktu tempuh perjalanan, Vannesya membuang napas lega, melihat koper berwarna biru tua miliknya lewat di conveyor. Ia bukan orang yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke negara lain, jadi untuk urusan bandara, seperti imigrasi, ia tidak punya kendala.
Mengambil koper biru yang berukuran cukup besar, wanita muda berusia tujuh belas tahun itu berjalan menuju pintu keluar. Merapatkan mantelnya karena udara pagi yang cukup dingin, getaran dari Versace shoulder bag-nya membuat Vannesya berhenti melangkah.
“Aku nggak bisa jemput kamu di bandara, Sya. Di depan nanti ada orang yang bawa kertas yang ada nama kamu. Kamu pulang sama dia, ya? Nggak usah khawatir, dia udah jadi sopir pribadi aku di sini.”
Menurunkan kembali ponsel dari telinga, Vannesya membuang napas malas. Kakak cantiknya yang selalu to the point ini, seenaknya langsung berkata tanpa alasan. Padahal Valetta tahu ia malas berurusan dengan orang baru atau yang baru dikenalnya.
Baiklah, wanita yang katanya telah menjadi model profesional itu harus dimaklumi, bukan? Bahkan ia heran, bagaimana Valetta bisa mendapatkan sopir pribadi dalam waktu satu hari? Di teras bandara, kedua matanya saling kerja sama. Mencari sosok yang katanya memegang kertas bertuliskan namanya.