48 - YOU ONLY MY LIFE

27.1K 1.3K 31
                                        

48 – YOU ONLY MY LIFE

Tidak ada status yang bisa menjamin dalamnya perasaan.

“SYA, AKU boleh masuk?” Valetta mengetuk pintu kamar adiknya. Edward dan Carralyn sudah pulang. Meskipun Valetta berusaha bicara dengan Edward, ayahnya tetap tidak mau merubah keputusannya. Edward adalah orang yang sangat keras dengan perkataannya. Tidak mudah bagi orang lain untuk bisa merubah keputusan Edward Morris.

“Masuk aja.”

Suara serak Vannesya yang menjawab dari dalam membuat Valetta menahan napas. Dia membuka pintu kamar adiknya yang ternyata tidak dikunci. Keadaan kamar Vannesya agak gelap, hanya ada lampu tidur yang adiknya nyalakan, juga tirai jendela yang sengaja dibuka. Valetta melihat adiknya duduk di atas lantai, dengan tubuh yang bersandar lemah di tempat tidur.

Valetta menghampiri adiknya, ikut duduk di samping Vannesya. Dia ingin menanyakan keadaan Vannesya, namun Valetta merasa jika pertanyaannya adalah pertanyaan yang bodoh, jelas adiknya sedang tidak baik-baik saja. Melihat dari keadaan Vannesya yang tampak kacau dengan kedua matanya yang masih memerah karena habis menangis.

“Aku minta maaf, Sya.”

Perkataan Valetta membuat Vannesya menoleh. “Kenapa minta maaf?”

“Aku merasa kalau aku egois sama kamu.”

Vannesya diam. Bukannya ia enggan menanggapi ucapan Valetta. Hanya saja, selama ini ia memang tidak pernah menyalahkan Valetta atas sikap Edward kepadanya. Setiap kali ia dan ayahnya bertengkar ataupun berdebat, Vannesya juga tidak pernah mengungkit ataupun menanyakan kenapa Edward tidak bisa menyayanginya sama seperti Edward menyayangi Valetta. Kenapa Edward acap kali tidak mau mengabulkan apa yang menjadi impiannya.

Berbeda dengan Edward yang langsung menyetujui Valetta yang ingin menjadi model, meskipun Vannesya tahu Edward tidak suka jika putri sulungnya itu masuk ke dunia permodelan, Edward tetap membiarkan Valetta melakukannya. Alasan apalagi yang bisa membuat ayahnya membiarkan Valetta jika bukan karena Edward sangat menyayangi Valetta. Vannesya tidak pernah merasa iri akan hal itu, karena ia tahu Valetta juga sangat menyayanginya. Dan untuk sikap Edward yang pilih kasih, semua adalah murni kesalahan ayahnya sendiri.

“Maaf, karena aku yang memaksa menjadi model, Daddy jadi melimpahkan semua keinginannya ke kamu.” Valetta menghela napasnya yang terasa berat. Dia telah memutuskan satu hal. “Aku …. akan berhenti jadi model, dan kembali ke Indonesia.”

Valetta tersenyum menenangkan, membalas tatapan Vannesya yang menatapnya tidak percaya. Ada pancaran sendu di kedua mata Vannesya.

“Kamu bisa mengejar impian kamu. Kamu bisa masuk ke Juilliard dan menjadi penari—atau kembali ke cita-cita awal kamu yang ingin menjadi dokter. Mulai sekarang, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan. Tidak usah memikirkan Daddy lagi, biar aku yang akan mengurusnya. Daddy juga pasti akan lebih bahagia jika aku berhenti jadi model dan kuliah.”

“Jangan….” Vannesya menggeleng. “Jangan melakukannya.” Vannesya tahu betapa Valetta sangat mencintai dunia model. Saat ini Valetta juga berada di puncak karirnya sebagai model. Lebih daripada itu, Vannesya sangat mengerti bagaimana rasanya melepas impian yang menjadi keinginan kita selama ini. Lagipula Vannesya sangat yakin, Edward akan tetap bersikap diktaktor kepadanya, meskipun Valetta berhenti dari model sekalipun dan mengambil alih untuk belajar bisnis, sang ayah akan tetap mengatur hidupannya.

ENVELOVECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang