Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Bagaimana kau menyukaiku? Dengan semua pemikiran baru itu, semua begitu sulit. Semua tidak mudah, tapi terasa manis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
PUKUL 11:35 Nicholas dan Vannesya keluar dari hotel. Hari ini mereka akan jalan-jalan di sekitar Kota Los Angeles, baru besok pagi kembali ke New York. Nicholas menunggu Vannesya di lobby, sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya wanita itu terlihat.
Hari ini dia mengenakan pakaian yang cukup santai. Camisol berwarna putih dipadukan dengan cardigan rajut yang panjangnya sampai paha. Cardigannya mempunyai warna yang sama dengan camisolnya, kemudian untuk bawahan dia memakai celana jeans pendek. Kalau biasanya untuk alas kaki Vannesya selalu memakai sepatu—entah itu boots, sneakers, atau converse—maka hari ini dia memakai sandal ankle strap flat berwarna putih. Sementara untuk rambut, Vannesya mencepolnya menjadi satu, dengan menyisakan anak-anak rambut tipis yang terurai di samping telinganya.
Saat wanita itu semakin dekat, Nicholas bisa melihat wajah cantik yang terlihat tegas tersebut. Nicholas mengakui, meski kadang Vannesya suka berwajah galak, namun kecantikan yang dimiliki oleh Vannesya tidak pernah pudar. Seperti halnya saat ini, Nicholas bahkan masih sempat-sempatnya memaparkan keindahan Tuhan yang ada di depannya.
Vannesya mempunyai hidung yang mancung, alis yang lebat, bibir ranum berwarna merah muda, serta rahang lancip yang tegas—menyempurnakan kecantikan ciptaan Tuhan yang sedang dinikmati oleh Nicholas—juga pria-pria muda lain yang ada di lobby. Sial. Untuk yang satu ini Nicholas tidak menyukainya.
“Kita akan makan siang dulu,” ujar Nicholas, tepat saat Vannesya berdiri di depannya. Nicholas merangkul pinggang Vannesya, menyatakan kepemilikannya kepada pria-pria bermata keranjang yang ada di sana, bahwa wanita cantik yang ada di sebelahnya ini adalah kekasihnya.
Vannesya menyetujui dengan sekali anggukan ringan. Membiarkan Nicholas merangkulnya. Di depan hotel petugas valet telah siap dengan mobil Audi R8 berwarna hitam, kemudian saat Nicholas tiba, dengan sigap pria yang masih tampak muda tersebut membukakan pintu kemudi untuk Nicholas. Petugas valet juga akan membukakan pintu penumpang untuk Vannesya, namun Vannesya mengatakan jika ia bisa membuka pintu sendiri.
“Kita akan makan siang di mana?” tanya Vannesya, setelah selesai memakai sabuk pengamannya.
“Di kawasan Beverly ada restoran yang cukup terkenal. Kita akan makan siang di sana.” Nicholas mulai menyalakan mesin mobil. Saat suara mesin mobil mulai mengaum dari belakang, Nicholas menekan salah satu tombol, kemudian atap mobil berwarna hitam yang mereka naiki perlahan terbuka. Tidak lupa Nicholas menyalakan audio, lagu Justin Bieber berjudul Stay mengalun dengan lembut.