72 - PLOT TWIST

25.2K 1.2K 119
                                        

72 – PLOT TWIST

“DADDY DI mana?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“DADDY DI mana?”

“Ada di samping.”

Valetta yang ingin segera menemui ayahnya, menjeda langkah saat Catalina memanggil.

“Apa mereka sudah pergi?”

Valetta mengerti maksud Catalina, kemudian dia mengangguk. “Ya. Siang tadi mereka berangkat.”

Catalina menghela napas yang terasa berat. Meskipun dulu diawal dia tidak menyukai Carralyn, bukan berarti Catalina ingin Edward berpisah dengan istrinya. Tapi apa yang dilakukan oleh Edward membuat Catalina mengerti perasaan Vannesya, sehingga membuat anak dan ibu itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Edward. Melihat Edward yang lebih banyak diam dan termenung sudah cukup bagi Catalina memahami perasaan Edward saat ini, anaknya pun sedang tidak baik-baik saja.

Tapi entah apa yang ditahan-tahan Edward sampai membuatnya tidak mencegah atau menahan istri dan putrinya tetap tinggal. Edward malah membiarkan dua orang—yang Catalina tahu betapa sang anak mencintai mereka—pergi meninggalkannya. 

Catalina membiarkan Valetta menemui ayahnya sendiri.

Di samping rumah, Valetta melihat ayahnya duduk dengan mata menyorot lurus ke arah kolam renang. Wanita yang telah memutuskan satu hal besar ini menghampiri sang ayah setelah membuang napas pendek. Valetta duduk di samping Edward. Di depan ayahnya ada cangkir dan teko. Saat Valetta menyentuh teko tersebut, teko itu sudah tak panas atau hangat lagi, melainkan dingin. Valetta kembali menghela napas, entah sudah berapa lama ayahnya duduk di sini, sampai teko berisi teh sudah mendingin.

Valetta menuang teh yang sudah dingin itu ke cangkir Edward. Melihat cangkir dalam keadaan bersih, Valetta yakin ayahnya belum menyentuh teh ini sama sekali. “Untuk orang yang sudah membuat Mommy dan Vannesya pergi—Daddy terlihat menyedihkan.” Valetta tidak tanggung-tanggung menyindir ayahnya.

Edward memberi respon dengan mengambil cangkir yang baru diisi Valetta dengan teh yang sudah mendingin.

Valetta berdecak samar. Dia ingin ayahnya menyesal, tapi entah kenapa ayahnya sangat sulit mengakui dengan mulutnya sendiri kalau dia sedih Carralyn dan Vannesya meninggalkannya. Karena meskipun diam dan tidak merespon, Valetta bisa melihat pancaran sedih itu nyata di mata Edward, tetapi tidak dikeluarkan ayahnya menggunakan kata-kata.

“Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Daddy. Dad, apa Daddy tidak menyesal sudah membuat Mommy dan Vannesya pergi?” Dari samping, Valetta bicara dengan tidak melepas tatap dari sang ayah. “Kenapa sangat sulit bagi Daddy untuk menahan mereka? Kenapa Daddy tidak mencegah mereka pergi? Aku yakin—Daddy ingin Mommy dan Vannesya tetap tinggal.” Valetta menghembuskan napas. “Aku tidak ingin Daddy bercerai dengan Mommy.”

ENVELOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang