Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
VANNESYA MENATAP Valetta, ragu-ragu ia ingin menceritakan hubungan anehnya dengan Nicholas. Bagaimana ia dan pria itu bisa menjalin hubungan, dan apa yang mendasari ia bisa menjadi kekasih Nicholas. Karena sampai saat ini Valetta belum tahu hubungan seperti apa yang sedang ia jalani dengan pria itu. Ia harus segera menceritakan semuanya, karena sekarang ia telah ‘menjadi Juliet’ otomatis intensitas ia berada di kediaman Nicholas akan bertambah. Carollin tidak mungkin akan jarang menemuinya, oleh sebab itu Nicholas pasti akan memerintahkannya agar selalu berada di penthousenya.
Vannesya tidak mungkin terus-menerus membohongi Valetta dengan mengatakan kalau ia berada di rumah temannya selama ia ada di tempat Nicholas. Ia harus meminta kerja sama Valetta. Karena tidak jarang Edward selalu menghubungi Valetta hanya untuk menanyakan keberadaannya, atau menanyakan apa yang sedang ia lakukan, apakah ia membuat masalah lagi. Edward Morris selalu melakukan hal itu sebagai bentuk pengawasannya. Dan ayahnya lebih suka menghubungi Valetta dibanding ia.
Pukul delapan malam Valetta tidak sibuk, kegiatannya sebagai model berakhir di sore hari. Memang tidak biasa, karena biasanya Valetta baru akan pulang larut malam, namun hari ini dia pulang lebih cepat. Mereka berdua sedang duduk di ruang tamu, menikmati camilan stick kentang yang dibuat oleh Valetta sambil berbincang-bincang santai.
“Erlan cerita ke aku, katanya kamu temenan sama adiknya?” Valetta mengangkat sedikit kepala, hanya sebentar, kemudian menunduk lagi dan sibuk mengetik di ponsel.
Vannesya mengurungkan niat sejenak untuk menceritakan hubungannya dengan Nicholas. “Iya, aku juga baru tahu belum lama ini. Waktu datang ke rumah Emma, aku baru tahu kalau dia adiknya Erlan.”
Valetta tersenyum. “Dunia emang sesempit itu. Padahal setahu aku, Emma orangnya nggak pandai berteman. Dia cenderung pendiam, tapi kalau ke orang yang bisa buat dia nyaman, Emma bisa berubah menjadi ceria.”
Vannesya memandang Valetta tertarik. Sepertinya hubungan di antara Valetta dan Emma cukup baik, sampai kakaknya ini tahu sifat temannya. “Kamu dekat dengan Emma, Kak?”
Valetta mengangguk ringan. “Cukup dekat. Karena setiap kali aku datang ke New York, Erlan selalu ajak aku ke rumahnya. Dan saat orangtua Erlan datang ke LA, Emma selalu diajak Erlan ke tempat aku. Dia anaknya manis, lho, Sya.”
Vannesya membenarkan ucapan Valetta. Emmilia Mille bukan hanya mempunyai wajah yang cantik dan manis, tetapi sifat Emma juga sama manisnya. Dan ia merasa nyaman berteman dengan Emma.
Sedikit cerita mengenai Valetta dan Erlan, bagaimana mereka bisa bertemu sampai akhirnya bisa menjalin hubungan selama ini. Semenjak berusia lima belas tahun Valetta telah tertarik untuk menjadi model seperti Carralyn. Di usianya yang akan beranjak remaja tersebut, Valetta mulai mencari tahu dan mengikuti berbagai macam casting permodelan—tentu saja dengan bantuan Carralyn, dan menjadi hal mendasar kenapa Catalina Morris menyalahkan Carralyn atas keputusan Valetta yang lebih tertarik dengan dunia model daripada bisnis. Karena Carralyn ikut membantu Valetta mewujudkan impian putri sambungnya itu.