Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
“JADILAH JULIET untukku.”
Vannesya segera sadar setelah kalimat ambigu itu Nicholas ucapkan lagi. “Apa sekolah kita akan mengadakan pentas seni? Dan kau sedang mencari wanita untuk dijadikan pasangan dalam drama? Kalau seperti itu lebih baik kau mencari pasangan lain. Karena aku bukan orang yang pandai bersandiwara.”
Hanya itu asumsi yang bisa ia pikirkan. Pria ini pasti sedang mencari pasangan yang cocok untuk melakon bersamanya. Kalau seperti itu jawaban Vannesya benar. Ia bukan orang yang pandai bersandiwara, meskipun itu di atas panggung sekalipun.
“Apa yang kau katakan?”
Vannesya kian kebingungan mendengar pertanyaan balik Nicholas. “Kau sedang mencari pasangan untuk drama, bukan?”
“Memang.”
“Dan aku bukan orang yang cocok. Aku tidak bisa bersandiwara denganmu. Itu bukan keahlianku.”
“Apa aku memberimu pilihan?”
“Kau memang tidak memberiku pilihan. Tapi aku berhak menolak.” Vannesya harus mengatakan ini dengan tegas.
Nicholas Sky Willson, pria ini pasti akan menggunakan kekuasaannya agar ia mau melakon bersama dia. Tidak. Untuk kali ini Vannesya akan menolaknya dengan tegas. Sekali lagi ia bukan orang yang mau ditindas dengan mudah. Lagipula tidak ada yang salah dengan ucapannya barusan. Kecuali kalau pria ini tipe orang yang tidak mau ditolak. Tapi Vannesya bukan orang yang mau diperintah seenaknya. Bahkan dengan ayahnya saja ia masih sering membantah.
“Kau tidak takut padaku?” Nicholas mulai menampilkan wajah dingin.
Tapi Vannesya tidak memiliki rasa takut dengan wajah dingin itu. Ia sudah biasa melihat wajah bengis sang ayah. “Apa aku harus takut padamu?”
“Semua orang melakukan itu.”
“Lantas apa yang akan kau lakukan padaku, kalau aku tidak takut padamu?”
Nicholas diam selama beberapa saat, hanya menatapnya tajam. Vannesya yakin, kalau orang yang ada di posisinya saat ini adalah Emma, wanita polos itu pasti akan langsung ketakutan. Untung saja Tuhan memberkatinya dengan keberanian yang tinggi. Bahkan untuk menonton film horor sendiri pun Vannesya tidak takut.
Tidak. Sebenarnya Vannesya tidak ada maksud ingin menantang Nicholas. Ia tahu apa yang akan terjadi dengannya jika menantang pria ini. Tapi sebagai manusia yang mempunyai hak asasi, Vannesya rasa tidak ada salahnya kalau ia harus mempertahankan pendirian. Setiap manusia diberikan hak untuk menolak, bukan?