Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
“KITA AKAN ke mana?”
Hari Minggu sore, Nicholas mengajak Vannesya pergi bersama. Awalnya Vannesya kira mereka akan pergi menemui Carollin, tapi ternyata dugaannya salah. Ia masih belum tahu ke mana Nicholas akan membawanya pergi.
“Kita akan menemui seseorang.”
“Siapa?”
“Mm …. seseorang….” Nicholas tampak ragu untuk mengatakannya.
Vannesya mengernyit. “Di mana?”
Nicholas menoleh padanya sebentar. “Lincoln Center.”
“Lincoln Center?” Vannesya semakin bingung. “Siapa yang akan kita temui di sana?”
“Apa kau tahu tempat yang terkenal di Lincoln Center?” Alih-alih menjawab pertanyaan Vannesya yang tadi, Nicholas malah menanyakan hal yang lain.
Vannesya tampak berpikir. Selama berada di New York, ia hanya satu kali pergi ke sana. Namun, ada satu tempat yang Vannesya tahu sangat terkenal di Lincoln Center. “Juilliard?”
“Ya, tepat sekali. Kita akan pergi ke Juilliard.”
“Untuk apa?”
Kali ini Nicholas terdiam cukup lama. Ia beberapa kali membasahi tenggorakannya. Mencoba merangkai kalimat yang pas di otaknya agar Vannesya tidak marah. “Mm .... kau tahu, setiap kali ulang tahun pernikahan orangtuaku, ibuku selalu meminta Juliet mengisi acara dengan menari.”
Kedua mata Vannesya mulai menajam. Ia mulai paham ke mana arah pembicaraan ini akan berakhir. “Kau memintaku untuk belajar menari?”
Nicholas mengangguk dengan wajah masam, mendengar nada bicara Vannesya yang mulai tidak ramah. “Sebenarnya aku tidak tahu, kalau tahun ini ibuku akan memintamu menari di acara ulang tahun pernikahan mereka atau tidak. Tapi—hanya untuk berjaga-jaga….” Nicholas menoleh dengan wajah lirih. “Kau bisa mulai belajar menari dari sekarang.”
“Kau gila! Menari bukan basic-ku.”
“Ya, aku tahu. Tapi tenang saja, acaranya masih lama. Beberapa minggu setelah lomba marching-mu.”
Vannesya mendesah keras. Menyandarkan tubuhnya ke jok mobil dengan wajah lelah. “Kau selalu saja memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuanku.”