Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
VALETTA MEMANDANG Vannesya aneh. Dari tadi makanan yang ada di depan adiknya hanya diaduk-aduk tanpa dimakan, tatapan Vannesya kosong memandang mangkuk berisi sup daging itu. “Kamu kenapa, Sya?” Valetta mengernyit, tidak ada respon dari adiknya. “Hello, Vannesya? VANNESYA!”
Wanita yang semula melamun itu tersentak. Vannesya mengangkat wajah, memandang Valetta dengan tanda tanya di kepala. Wajah bertanyanya membuat Valetta gemas. “Kamu kenapa?” tanya Valetta kembali.
“Aku? Nggak apa-apa. Emang aku kenapa?”
Valetta memutar bola mata. “Dari tadi kamu melamun. Itu sup kamu sampai dingin nggak kamu makan-makan. Kamu ada masalah?”
“Tidak. Aku nggak ada masalah. Nggak terlalu selera makan aja.” Tidak mungkin bagi Vannesya untuk mengatakan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Nyatanya, kejadian tadi di sekolah membuatnya kepikiran, sampai ia tidak berselera makan.
Vannesya heran, kenapa pindah ke New York membuat sisi malaikatnya keluar? Padahal selama ini ia tidak pernah peduli mengenai urusan orang lain.
Apa perkataan Emma benar, kalau selama ini ia adalah orang yang baik?
Ha ha. Vannesya tertawa di dalam hati. Baik? Pemikiran konyol dari mana itu?
Akan tetapi melihat Calila yang hampir ditelanjangi di lapangan tadi memang membuatnya kasihan. Mungkin apa yang ia lakukan hanya sekadar ‘women support women.’
Tapi bagaimana kalau orang yang ia lawan adalah sekumpulan AVES itu. Para unggas itu membuat Vannesya merasa muak. Bagaimana bisa mereka membuat seorang wanita bertelanjang di tengah banyak orang, apalagi itu hanya karena masalah pribadinya. Menurut Vannesya mau Calila bekerja sebagai pelacur sekalipun itu bukan urusan mereka, dan para unggas itu tidak berhak menghukum Calila dengan cara memalukan.
Vannesya tidak buta mengenai dunia bebas yang ada di New York. Banyak wanita yang tidak perawan lagi di benua ini, seks bebas bukanlah hal yang tabu bagi mereka. Ia bahkan sering melihat sepasang kekasih yang berciuman di lingkungan sekolah barunya, dan tidak ada teguran dari guru yang lewat.
Para unggas itu, mereka hanya pamer soal kekuasaan. Setidaknya, itu yang Vannesya pikirkan mengenai AVES. Dan untuk saat ini ia tidak mau memikirkan apa yang akan AVES lakukan padanya nanti, karena sudah berani menantang Nicholas.
“Itu bagus, kalau kamu nggak punya masalah. Aku cuman khawatir sama kamu.”
Mengurangi rasa khawatir Valetta padanya, Vannesya memilih menghabiskan sup daging buatan sang kakak. Kakaknya selain cantik juga pandai memasak.