67 - CALLA LILY

30K 1.5K 184
                                        

67 – CALLA LILY

SEBENARNYA TUJUAN Vannesya setelah ia pulang ke rumah Catalina Morris adalah langsung naik ke lantai dua. Beristirahat. Hal yang ia lalui hari ini terasa melelahkan, pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian impulsif yang ia lakukan kepada Nicholas tadi. 

Perkataan panjang lebar yang dikatakan Dylan sebelum ia pulang menambah beban di otaknya. Selama Vannesya mengenal Dylan, bisa dihitung pakai jari berapa kali ia berbicara dengan Dylan. Dylan yang selama bicara dengannya tidak mengeluarkan banyak kalimat. Namun tadi, Dylan benar-benar bicara panjang lebar. Dan sekalinya pria itu bicara panjang, kalimat demi kalimat yang dia utarakan, benar-benar menapuk sisi terdalam dari perasaan Vannesya yang coba ia tutupi.

“Bukan Nick yang menipu perasaannya kepadamu. Tapi kau yang menipu perasaanmu sendiri.”

“Kenali hatimu, Vannesya.”

Dylan benar.

Vannesya bukan tipe orang yang tidak mau menerima masukkan. Perkataan Dylan padanya tadi, sedikit banyak ia membenarkan. Tapi tetap saja, ia belum bisa menerima Nicholas. Marah kepada Nicholas itu sudah pasti. Kecewa kepada pria itu apalagi. Dylan mungkin benar, tapi perkataan pria itu tidak bisa membuatnya memaafkan Nicholas. Sisi terdalam di hatinya masih melawan, membenarkan bahwa apa yang ia lakukan saat ini sudah benar—menjauh dari Nicholas.

Satu kalimat panjang yang selalu ia tanamkan—jika Nicholas tidak berakhir mencintainya, maka balas dendam itu pasti akan tetap terjadi. Dan lagi, Vannesya merasa sangsi, mempercayai Nicholas mencintai ia sebagai ‘Vannesya’ bukan karena pria itu melihatnya mirip dengan Juliet.

Kehadiran seseorang di ruang tamu membuat langkah Vannesya memelan ketika ia sampai. Edward Morris sudah menunggunya di ruang tamu, membuat ia yakin bahwa sebentar lagi akan ada satu masalah yang menambah beban otaknya. Sungguh, setiap kali bertemu dengan ayahnya sendiri, bukannya merasa bahagia dengan saling memeluk seperti anak perempuan lain kepada ayahnya, Vannesya merasa setiap kali ia bertemu dengan Edward akan ada satu beban lagi yang harus ia galas.

Mencoba untuk bersikap sopan—karena bagaimanapun Edward adalah ayahnya—Vannesya memilih untuk menyapa Edward. Meskipun sapaannya ia lakukan dengan sambil lalu, tetap berjalan sembari mengatakan, “Sore, Dad.”

Akan tetapi, Edward melakukan hal sebaliknya. Dia tidak membiarkan Vannesya pergi begitu saja. “Bagaimana? Sudah tahu kebodohanmu?”

Tiga langkah lagi menuju tangga, Vannesya berhenti jalan. Memutar badan, menghadap sang ayah yang kini tersenyum ganjil kepadanya.

Tidak perlu bertanya kenapa Edward tiba-tiba ada di New York, Dalton—kakeknya sudah beberapa hari ini sakit, dan tidak mau dirawat di rumah sakit. Dan Edward datang untuk membujuk agar Dalton mau dibawa ke rumah sakit. Daripada anak kandungnya—Edrick, Dalton memang lebih dekat dengan Edward. Mungkin Edward bisa membujuk Dalton agar mau dibawa ke rumah sakit.

Vannesya menatap ayahnya dengan kening berpikir. “Apa maksud, Daddy?”

“Tentang kau yang lagi-lagi salah mempercayai pria.” Edward mengatakannya dengan santai.

Vannesya mulai mengerti. “Daddy .… tahu?”

“Tentu saja,” jawabnya lugas. “Bukannya dari awal aku sudah bilang kalau dia bukan pria yang baik? Kau saja yang terlalu bodoh—dua kali masuk ke jurang yang sama.”

ENVELOVECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang