18 – BE CAREFUL, BABY
PERJALANAN MENUJU rumah Juliet membutuhkan waktu yang cukup lama, mereka telah menghabiskan sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Setelah jauh dari pusat kota, mobil Nicholas memasuki kawasan perbukitan. Vannesya melihat jalanan di sekitar, gedung-gedung tinggi berganti menjadi perkebunan, kalau di Indonesia ini ibaratnya daerah puncak. Pemandangannya terlihat sejuk.
Mobil Nicholas berhenti di halaman depan rumah dua tingkat bercat putih. Rumah berpagar kayu itu terletak agak jauh dari rumah-rumah yang lain, di sekitar sini hanya ada rumah ini saja. Di halaman depan tumbuh satu pohon yang cukup rindang. Tepat di mana Vannesya dan Nicholas berdiri sekarang ada jalan berdiameter sekitar seratus centimeter, dibuat menggunakan paving blok, di mana jalan itu dibentuk menyerupai garis-garis miring. Tepat di antara celah garis-garis tersebut ditumbuhi rumput rawat. Ada banyak tanaman di halaman depan rumah.
Jika Vannesya membandingkan, rumah Juliet memang tidak sebesar rumahnya di Indonesia, akan tetapi pengaturan garden atau taman di rumah ini sangat indah.
Vannesya mengikuti Nicholas. Sesampainya di teras depan ada pelayan wanita berseragam yang langsung membukakan pintu.
“Selamat datang, Tuan Muda.”
Nicholas hanya mengangguk singkat, kemudian masuk ketika pelayan membuka pintu lebih lebar.
Berbeda dari halaman depan yang bernuansa garden, arsitektur di dalam rumah Juliet kebanyakan menggunakan tema vintage. Kalau seperti ini, Vennesya menjadi bingung menebak kesukaan Juliet. Jika tadi ia menebak Juliet sama seperti Catalina yang menyukai tanaman dan bunga, maka setelah ia melihat isi di dalam rumah Juliet, Vanneysa berpikir sebaliknya.
Mulai dari ruang tamu terdapat beberapa lukisan yang menempel di dinding. Vannesya memang tidak tertarik mengenai lukisan, tapi ia tahu lukisan yang ada di dinding rumah ini merupakan karya dari beberapa pelukis terkenal. Karena Dalton menyukai lukisan, Vannesya mengenali beberapa tanda yang dibuat oleh pelukis di setiap karya yang ada di dinding rumah Juliet sama dengan lukisan di kediaman kakeknya. Tidak ada guci-guci mahal yang berisi bunga hias, yang ada hanya ornamen-ornamen yang terbuat dari kayu yang diukir rumit.
Ada satu ornamen yang menarik perhatian Vannesya, ornamen yang terbuat dari kayu—terletak di atas meja sudut ruangan. Ornamen itu berbentuk burung pegasus, yang menarik perhatian Vannesya adalah mahkota kecil yang menghiasi kepala pegasus tersebut. Vannesya baru pertama kali melihat ada ornamen kayu burung pegasus dengan mahkota seperti itu. Sangat cantik.
“Tuan Muda, ingin minum apa?”
Nicholas tidak langsung menjawab pertanyaan pelayan, melainkan melihat ke arah Vannesya yang masih memfokuskan pandangan pada ornamen burung pegasus. “Kau ingin minum apa?”
Vannesya menelengkan kepala. “Tidak. Aku tidak ingin minum apa-apa.”
“Nanti saja,” ujar Nicholas pada pelayan.
Pelayan kemudian meninggalkan mereka di ruang tamu.
“Ayo.”
Vannesya mengikuti Nicholas menuju ruang tengah. Berbeda dari ruang tamu yang dindingnya terdapat banyak lukisan, ruang tengah ada banyak foto Juliet. Vannesya melihat foto-foto Juliet. Dari foto-foto ini ia bisa menebak, Juliet adalah wanita yang sangat feminim dan anggun. Dia banyak menggunakan gaun di setiap fotonya. Selain itu ada satu foto berukuran besar, foto Juliet di atas panggung ketika sedang menari. Dia terlihat begitu cantik di foto itu. Dari foto ini saja Vannesya bisa melihat dan merasakan gerakan menari Juliet Velovy yang lembut, anggun, dan ringan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENVELOVE
RomanceKarena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York. Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
