54 - BIG PROBLEM

25.1K 1.2K 28
                                        

54 – BIG PROBLEM

SUASANA KELAS Vannesya yang tadinya tampak tenang karena pembelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba gaduh dengan beberapa guru yang masuk. Salah seorang guru wanita berbicara dengan Miss Sarah di depan pintu—yang saat ini merupakan guru yang sedang mengajar di kelas mereka. Sementara guru yang lain membawa kotak berisi barang-barang siswa yang di razia.  

Hari ini tanpa diketahui oleh semua siswa, sekolah melakukan razia. Razia yang selalu diadakan setiap bulan secara mendadak. Dikatakan mendadak, karena setiap bulan para guru melakukan razia dengan jadwal hari yang tidak menentu. Banyak barang yang tidak dianjurkan sekolah untuk dibawa oleh siswa, seperti rokok dan minuman alkohol.

Tapi tetap saja masih ada beberapa siswa yang tidak mematuhi aturan. Membawa dan menyembunyikan dua barang yang haram dikonsumsi di sekolah tersebut. Tidak sedikit siswa yang menyimpannya di tempat-tempat tertentu, akan tetapi pihak sekolah selalu berhasil menemukannya. Dan kotak yang dibawa oleh salah seorang guru, mereka meyakini isinya adalah barang-barang hasil razia yang ditemukan oleh guru kesiswaan yang melakukan razia hari ini.

“Vannesya, silahkan ikut dengan guru kesiswaan.”

Semua atensi murid yang ada di dalam kelas serentak memandangi Vannesya ketika Miss Sarah memanggilnya. Karena baru saja pihak kesiswaan melakukan razia, maka mereka manaruh curiga jika Vannesya dipanggil karena masalah barang razia.

Terdiam untuk beberapa saat dengan kening berkerut, Vannesya menutup kembali buku pelajarannya, lalu menyimpannya di dalam laci meja. Berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke depan. Semua murid yang ada di kelas menatapnya dengan berbagai macam ekpresi, lebih dominan merasa penasaran. Hal apalagi yang menimpa Vannesya kali ini. Belum lama dari kasus video seks yang mirip dengannya mereda, dan sekarang Vannesya kembali dicurigai melakukan sesuatu yang buruk. Dipanggil oleh guru kesiswaan tentu saja merupakan hal yang buruk, di mana kebanyakan siswa yang dipanggil ke sana adalah siswa yang sedang bermasalah.

Saat Vannesya mengikuti guru kesiswaan, benaknya bertanya-tanya, kenapa ia harus ikut dengan mereka yang baru saja melakukan razia? Apa ada barang yang dilarang yang mereka temukan di loker miliknya? Vannesya merasa ia tidak membawa barang-barang yang dilarang dan menyimpannya di tempat pribadinya seperti loker.

Vannesya semakin heran, guru kesiswaan ternyata tidak membawanya ke ruangan kesiswaan, melainkan membawanya ke ruang kepala sekolah. Saat Vannesya masuk, ia tidak bisa berpikir dengan tenang lagi. Lebih-lebih ketika ia melihat di sana juga duduk dua orang wanita yang memakai jas lab dengan lambang khusus. Vannesya tentu saja tahu lambang apa yang ada di jas dua orang wanita itu.

“Silahkan duduk, Vannesya,” titah kepala sekolah.

Vannesya bisa merasakan suara kepala sekolah yang berat, ketegangan seketika meliputi ruangan bersuhu dingin ini. Vannesya duduk di sofa tunggal yang berseberangan langsung dengan kepala sekolah.

“Apa kau tahu kenapa kau dipanggil langsung ke ruangan ini, Vannesya?”

Vannesya tentu saja menggeleng, karena ia memang tidak tahu kenapa ia dibawa ke ruangan ini. “Tentu saja tidak.”

“Kau benar-benar tidak tahu apa salahmu?” Kepala sekolah bertanya dengan suara yang mulai menajam.

“Katakan saja apa kesalahan saya kali ini, sampai saya harus dipanggil ke ruangan ini lagi.” Vannesya tidak menyukai sikap kepala sekolah yang mulai menghakiminya. Menghakimi sesuatu yang bahkan ia tidak tahu apa kesalahannya.

ENVELOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang