Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
TURUN DARI taksi Vannesya menengadah, melihat dengan kagum gedung dengan puluhan lantai di depannya. Tepat di badan bangunan luar atas terdapat tulisan besar—LJE ENTERTAINMENT. Di malam hari tulisan itu akan mengeluarkan cahaya berwarna perak dan emas. Tujuan Vannesya datang ke gedung tersebut untuk mengambil kartu akses apartemen yang lupa ia bawa, dan hari ini Valetta tidak pulang. Jadi pulang sekolah Valetta meminta agar ia datang ke gedung ini untuk mengambil langsung kartu akses apartemennya.
Untuk hari ini Vannesya tidak pulang bersama Nicholas. Pria itu tidak masuk sekolah karena ada urusan pekerjaan bersama William Willson. Vannesya merasa heran sekaligus kagum, di mana untuk remaja seusia AVES mempunyai tanggung jawab besar yang harus mereka jalani sejak dini. Para AVES telah diajak melakukan berbagai macam perjalanan bisnis. Harus tahu sejak awal bagaimana menjalankan bisnis keluarga dengan baik.
“Aku udah sampai, Kak.” Adalah kalimat yang Vannesya ucapkan ketika Valetta mengangkat panggilan teleponnya.
“Masuk aja, Sya. Tunggu di lobby bawah.”
Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas punggung YSL yang ia kenakan, Vannesya masuk sesuai arahan Valetta. Di pintu masuk seorang petugas keamanan mencegat, menanyakan ada tujuan apa ia datang ke gedung itu. Vannesya menjawab seadanya, mengatakan jika ia ingin bertemu dengan Valetta. Kemudian petugas keamanan bertanya lagi, ada hubungan apa ia dengan Valetta, Vannesya menjawab jika ia adalah adik Valetta.
Mungkin untuk alasan keamanan, petugas berbadan tinggi kekar tersebut meminta bukti. Vannesya terpaksa membuka kembali tasnya, mengeluarkan kartu identitas dari dalam dompet, kemudian memperlihatkan fotonya bersama Valetta dari ponsel. Petugas keamanan mengangguk dengan senyum ramah setelah melihat nama belakang Vannesya yang sama dengan nama salah satu model terkenal di agensi tempatnya bekerja ini.
“Silahkan masuk. Maaf untuk ketidaknyamannya.”
Vannesya hanya mengangguk ringan sebagai bentuk balasan.
Di dalam gedung ada banyak orang yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Gedung LJE Entertainment yang ia datangi saat ini adalah gedung utama dari perusahaan industri hiburan keluarga Davidson. Setahunya LJE Entertainment mempunyai beberapa gedung. Terbagi menjadi beberapa bidang, antara bidang industri musik, permodelan, fashion, surat kabar dan majalah, serta pertelevisian. Semuanya mempunyai gedung masing-masing. Dan gedung yang Vannesya masuki saat ini adalah pusatnya.
Menoleh ke kiri, Vannesya melihat ada satu set sofa berwarna biru. Ia menuju ke sofa, duduk di sana sampai Valetta datang. Sepanjang duduk ia menemukan ada banyak orang yang lewat dengan beberapa pengawal yang mengikuti. Vannesya memang tidak terlalu mengikuti dunia hiburan Amerika, kecuali industri musik dan perfilman. Melihat bagaimana cara mereka berjalan, juga pembawaan mereka, ia menyimpulkan bahwa orang-orang ini adalah model, dan sebagian dari mereka adalah artis.