Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
DI TEMPAT parkir khusus mobil AVES, banyak orang yang lewat mencuri pandang pada Nicholas yang berdiri di samping mobilnya. Tidak sedikit dari mereka yang tersenyum, dan hanya diabaikan oleh pria yang saat ini memakai kacamata hitam tersebut.
Nicholas sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu Vannesya. Selama ini ia sangat anti yang namanya menunggu, orang lainlah yang selalu menunggunya. Tapi kali ini—entah untuk alasan apa, ia berdiri bagai sopir yang sedang menunggu sang nyonya datang.
Sebelumnya Nicholas telah mencari Vannesya di kelas wanita itu, akan tetapi saat ia datang ke sana kelas Vannesya sudah sunyi. Dan hal terakhir yang ia lakukan adalah mengirim chat kepada Vannesya agar segera datang ke tempat parkir. Akan tetapi sampai waktu menunjukkan jika ia telah berdiri di sini selama hampir tiga puluh menit, Vannesya tidak juga muncul. Dan ini membuatnya jengkel, kalau saja Vannesya tidak membalas chatnya dengan mengatakan kalau dia akan segera menuju ke tempat parkir.
Beberapa orang yang lewat masih mencuri-curi pandang pada Nicholas, kecuali satu orang. Wanita berambut pirang panjang yang saat ini berdiri di dekat pilar bangunan yang tidak jauh dari sana. Posisinya yang membelakangi pria itu membuat Nicholas tidak melihatnya. Sebenarnya Vannesya sudah sampai di tempat parkir tidak lama setelah Nicholas datang, hanya saja ia memilih untuk berdiam diri dulu. Menguji apakah pria itu bisa sabar menunggunya dan tidak marah saat ia telat.
Vannesya masih ingat perkataan Nicholas tadi siang—soal Nicholas yang cemburu karena ia menelepon Gerald. Meskipun pembicaraan di antara mereka mengenai ‘cemburu’ tadi berujung ia yang merasa jengkel.
“Apa kau percaya jika aku mengatakan kalau aku cemburu?” Adalah kalimat pertama yang Nicholas tanyakan saat keheningan lebih mendominasi.
“Kau ingin aku percaya jika kau cemburu?” Vannesya menjawabnya dengan tenang, meskipun ia sadar sesuatu di dalam dirinya merespon sebaliknya.
“Kenapa kau balik bertanya?”
“Aku hanya penasaran, apa yang kau pikirkan tentangku.”
“Maksudmu?”
Vannesya tersenyum tipis. “Nick, sangat terlihat jelas di wajahmu, kau hanya ingin aku luluh kepadamu. Kenapa? Apa kau mulai merasa kau akan kalah? Tidak percaya diri lagi kau bisa membuat aku luluh pada pesonamu?”
Nicholas menghembuskan napas kasar. “Sudah kuduga, kau pasti mengatakan hal ini. Sepertinya apa pun yang akan aku lakukan ke depannya nanti, kau hanya akan mengaitkannya dengan taruhan sialan itu.”