Karena kasus bullying, Vannesya Morris dipindahkan ayahnya ke New York.
Vannesya mengira kehidupan barunya di Negeri Paman Sam tersebut akan membawa perubahan yang signifikan. Menjadi anak sekolahan yang baik dan tidak peduli dengan kehidupan New Yo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
VANNESYA MEMPERHATIKAN kakaknya dari pintu. Wanita cantik itu sedang sibuk merias diri di depan cermin. Tangan rampingnya begitu lincah menyapu berbagai jenis alat kecantikan yang tersusun rapi di meja rias, mengambil satu per satu secara teratur. Dari samping, Valleta terlihat begitu anggun dan berkelas. Tidak heran kenapa Valetta bisa menjadi model terkenal. Satu hal yang harus Vannesya akui—kakaknya memang sangat cantik. Mungkin kecantikan itu juga yang membuat Edward Morris membiarkan putri keyangannya ini menjadi model. Karena kalau itu ia, Tuan Terhormat itu pasti akan langsung melarang.
Vannesya bahkan masih ingat ketika sang ayah mengatakan dengan tegas ia harus belajar bisnis dan menggantikannya kelak, karena Valetta memilih menjadi model. Padahal sebelumnya, tampuk besar itu diberikan Edward Morris pada Valetta. Tetapi Valetta tidak tertarik, dan memilih jadi model. Dari dulu Vannesya tidak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan dengan mudah seperti Valetta. Jika menginginkan sesuatu ia harus bersusah payah lebih dulu membujuk sang ayah. Hal yang membuat Vannesya curiga ia bukan anak kandung ayahnya.
Vannesya melakukan tes DNA sendiri. Dan fakta yang ia temukan justru membuatnya kecewa, karena ia benar-benar putri kandung Edward Morris. Akan lebih menyenangkan jika ia ternyata bukan anak kandung ayahnya, sehingga bisa Vannesya gunakan untuk lepas dari belenggu pria otoriter itu.
Akan tetapi, satu hal yang tidak disembunyikan oleh siapa pun, fakta kalau ternyata ia dan Valetta mempunyai ibu yang beda. Valetta adalah anak dari istri pertama Edward—Cassalyn—yang meninggal saat Valetta baru berusia lima tahun. Kemudian Edward menikah lagi dengan Carralyn, ibunya. Ya, ibunya dan ibu Valetta adalah saudara kembar.
Meskipun sama-sama mengetahui kalau mereka adalah saudara se-ayah beda ibu, Vannesya tahu Valetta sangat menyayanginya. Meskipun sering kali ia merasa iri dengan sang kakak yang bisa menjadi kesayangan Edward Morris, tapi Valetta tidak pernah menunjukkan hal sebaliknya. Vannesya bisa merasakan, tidak ada kepura-puraan dalam hal kasih sayang Valetta padanya. Hal yang membuatnya sedikit lebih tenang, karena yang mengawasi ia selama tinggal di New York adalah Valetta sendiri.
“Kamu ngapain berdiri di depan pintu situ? Sini masuk.”
Menurunkan kedua tangan dari depan dada, menarik kembali tubuhnya dari sandaran pintu, Vannesya berjalan ke arah tempat tidur, duduk di sana. Menatap Valetta dari pantulan kaca. “Kamu kenapa, sih, Kak, tiba-tiba pindah ke New York?” Vannesya belum bertanya mengenai hal ini sebelumnya. “Bagusan juga tinggal di LA. Kenapa tiba-tiba pindah ke sini?”
Memikirkan ia yang mungkin akan mendapatkan ENVELOVE dari AVES, membuat Vannesya berpikir lebih baik tinggal di LA. Kalau saja Valetta tidak pindah tiba-tiba ke New York, ia tidak akan pernah bertemu dengan sekumpulan unggas itu.