13| Bagaimana Dengan Aku?

5.2K 287 0
                                        

Hal yang dilakukan Mas Andra beberapa menit lalu membuatku sadar bahwa ia sebenarnya orang baik. Ketidakmauannya bertanggung jawab hanya karena adanya Mbak Shila yang telah berstatus sebagai istrinya. Juga karena rasa cinta Mas Andra begitu besar terhadap wanita itu. Sehingga ia tidak ingin menduakan Mbak Shila dengan siapapun. Kalau saja Mas Andra masih sendiri, aku yakin tanpa pikir panjang ia akan segera menikahiku tanpa aku harus mengemis tanggung jawab padanya.

"Memangnya sering begitu?"

Lamunanku sirna. Buru-buru kualihkan pandanganku dari mengamatinya. "Lumayan."

"Salat magrib dulu setelah itu makan."

"Mas ... aku nggak makan ...."

"Yaudah terserah. Kalau sakit juga yang ngerasain kamu sendiri."

Huft. Bagaimana jujurnya ke Mas Andra kalau perutku sedang tidak ingin berinteraksi dengan apapun? Aku tidak berani. Mendengar kata makan saja rasanya ingin mual lagi.

Kuperhatikan lagi Mas Andra yang memusatkan atensi pada jalanan. Hatiku dilema. Apa kupaksa makan saja, ya? Mas Andra sudah mau berinteraksi denganku bahkan sudah naik tingkat ke level peduli. Seharusnya aku mampu memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa mengambil hatinya. Tidak malah membuatnya marah seperti ini.

"Iya udah, makan."

Aku yakin Mas Andra mendengar. Namun responsnya hanya diam dan tetap fokus pada jalanan. Tak lama, mobilnya dibelokkan ke sebuah resto ayam goreng crispy bertajuk KFC.

Mas Andra memasuki area DRIVE THRU. Lalu menawariku pesanan. "Mau apa?" tanyanya.

"Hah?" Responsku cengo. Aku tidak pernah makan di tempat seperti ini sehingga aku tidak mengenal apa saja menu-menu yang dijual. "Katanya salat dulu?" balasku.

"Dimakan nanti bisa kan? Cepet mau apa?"

Mulutku gagu. "Terserah kamu aja."

"Bisa nggak sih kalau ditanya itu jawab? Nanti kalau nggak suka nggak dimakan lagi. Mual lagi, ujung-ujungnya aku juga yang repot."

"Aku nggak tahu menu-menunya apa aja ... kamu jangan marah-marah terus kenapa sih ...? Dari tadi marahin aku mulu ...."

Mataku berkaca-kaca. Seharian ini Mas Andra memang memberikan suaranya untukku. Namun mayoritas berisi omelan. Dan entah mengapa perasanku begitu sensitif. Aku malah lebih kebal dengan sikapnya yang dingin daripada sikapnya yang cerewet seperti ini. Huh, menyebalkan sekali.

Kuusap mataku yang akan meneteskan bulir permata. Mas Andra melirikku sekilas. Tanpa mengatakan apapun segera dipesannya dua menu KFC yang aku tidak tahu itu apa. Sedengarku dada atas plus dua gelas chocomilk.

Mas Andra mengitari resto tersebut lalu mengambil pesanan sekaligus membayarnya. Diberikannya satu kepadaku. Sementara yang satu lagi diletakkan di jok belakang. Tidak usah bertanya. Aku sudah tahu bahwa sebungkus itu pasti diberikan untuk Mbak Shila. Sejak tadi Mas Andra memang begitu. Apapun yang dibelinya Mbak Shila harus turut merasakan. Padahal di Jakarata pun juga banyak KFC yang bertebaran. Berbagai oleh-oleh khas Jogja juga sudah dibelinya khusus untuk perempuan itu. Mbak Shila sangat menguasai hati Mas Andra. Walau tidak ada di sini, tetapi, pikiran lelaki itu terus tertuju padanya.

Detik demi detik berlalu. Akhirnya kami menemukan masjid cukup besar di tepi jalan. Mas Andra memberhentikan mobilnya di area parkir. Begitu kami keluar adzan magrib berkumandang. Sekalian saja kami mengikuti salat berjamaah. Aku tidak meminjam mukena di masjid itu sebab aku sudah mempersiapkannya sendiri dari rumah.

MIHRAB [AKAN TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang