Siang ini aku mengenakan dress renda berwarna maroon yang kupadukan dengan blazer polos berwarna Soft Mint. Sebelum turun dari mobil, aku mengambil lip cream bermerk Dior dari tasku, memulaskannya ke bibirku dan mengecek penampilanku sekali lagi.
Memasuki lobi Perusahaan, tiba-tiba aku dikagetkan oleh Shanly, salah satu karyawan di Divisi Keuangan.
"Selamat siang Bu Rosa. Maaf Bu, saya mengejutkan Ibu." ujar Shanly dengan agak gemetar.
"Astaga Shanly! Untung saja saya tidak punya riwayat penyakit jantung. Saya pikir siapa yang tiba-tiba menarik blazer saya. Lain kali jangan ceroboh seperti itu!"
"Maafkan saya sekali lagi Bu. Sungguh saya tidak sengaja." ujar Shanly sembari menundukkan kepalanya.
"Lagian jam segini kamu baru masuk kantor? Ini belum jam istirahat kan Shanly?" tanyaku kepada Shanly sembari melihat ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul 11.00.
"Mohon maaf Bu, sa...sa...ya. Sa...saya..."
"Saya apa Shanly? Nggak usah gugup gitu jawabnya. Jawab dengan tegas pertanyaan saya!"
"Mohon maaf Bu. Tadi saya harus mengantarkan ayah saya terlebih dahulu ke Rumah Sakit karena tiba-tiba beliau demam tinggi. Tetapi saya sudah minta izin kepada Pak Toyib dan Ibu Alfa tadi, Bu." jawab Shanly dengan cepat.
Aku yang mendengar penuturan Shanly yang sangat cepat tersebut pun segera menganggukkan kepala dan tersenyum, kemudian berkata "Kenapa nggak ngomong daritadi Shan? pakai segala acara gugup lagi. Saya nggak bakal nerkam kamu. Jadi bicara aja dengan jujur."
"Ibu DirCan!"
Panggilan membahana yang tiba-tiba dari Alfa kembali membuatku terkejut. Tadi Shanly sekarang Alfa, nanti siapa lagi yang akan membuatku terkejut. Sekali lagi ada orang yang membuatku terkejut hari ini akan kuhadiahi piring cantik yang biasa didapat gratis dari pembelian detergent bubuk atau sabun colek.
"Astaga Alfa! Bisa nggak sih nggak usah heboh gitu. Suaramu itu seperti toa tahu. Kan bisa kamu manggil saya tunggu dekat dulu."
"Hehehe... Maafkan saya Ibu DirCan, saya memanggil Ibu dari jauh biar Ibu tahu eksistensi saya." jawab Alfa cengar cengir.
Ravi, Arsa, dan Noura yang merupakan sekretaris utama DARR Company kulihat ikut bersama dengan Alfa dan hanya diam melihat interaksiku dengan Alfa. Tidak sengaja tatapanku dan tatapan Ravi bertemu beberapa detik, Arsa yang rupanya melihat kami berdua sedang bertatapan pun segera menyikut lengan Ravi dan Ravipun membuang tatapannya ke arah Alfa.
"Maaf Bu, saya mohon izin untuk ke ruangan ya Bu. Terima kasih banyak atas pengertian dari Ibu. Permisi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak." pamit Shanly yang segera bergegas pergi meninggalkan kami berlima.
"Eksistensi apa Alfa? Emangnya kamu makhluk halus apa? yang harus banget diketahui eksistensinya." tanyaku.
"Aihhh... Si Ibu bisa aja ngelawaknya. Mana ada sih Bu, makhluk halus cantik kayak saya. Yasudah Bu, saya sama Pak Ravi, Pak Arsa, dan Mbak Noura mau pergi meninjau Perumahan. Kemarin Ibu kan yang menugaskan saya. Jadi, kami berangkat dulu ya Bu. Bye Ibu DirCan. Jangan kangen sama saya ya Bu." ujar Alfa dengan senyuman lebar dan lambaian tangan.
"Permisi Ibu Rosa." pamit Noura dengan senyum dan anggukan kepala.
"Ibu Rosa, kami pergi dulu ya. Sayang sekali Ibu Rosa tidak bisa ikut bersama dengan kami agar Ibu bisa melihat secara langsung kinerja DARR Company." ujar Arsa.
"Sudahlah Sa, percuma juga lo ngomong sama si tuan putri. Nggak bakal didengarin. Tunggu aja sampai pembangunan selesai baru dia bakal percaya sama kita." sindir Ravi yang segera beranjak pergi diikuti oleh Arsa, Alfa dan Noura sudah lebih dahulu pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Look at Me, Please
RomanceRosalind Fredella Zvonimira mencintai Ravindra Yoshi Callum sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Akan tetapi, Ravindra hanya mencintai Jenny Dorelia Isvara seorang. Rosalind - Ravindra akhirnya berpacaran di bangku SMA. Namun, itu semua hanya keterpa...
