Part 8 - Ravi's Promise

9.2K 209 0
                                        

Di dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, Ravi terus saja tersenyum setelah mendapatkan telepon dari Jenny tadi. Ravi merasa lega telah memutuskan hubungannya dengan Rosa. Ia tidak merasa bersalah lagi dengan Jenny karena sudah membohongi Jenny selama ini.

Flashback

“Rav, sebenarnya kamu sama Rosa ada hubungan apa sih? Aku lihat kayaknya Rosa tuh punya perasaan spesial deh ke kamu. Terus kenapa juga beberapa kali kamu dan Rosa malah pulang bareng?” tanya Jenny dengan nada lirih.

“Astaga Jenn, nggak usah cemburu gitu kali ah! Ravi tuh cuma cinta sama lo doang kok.” tutur Arsa yang mencoba untuk membantu Ravi.

“Sayang, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Rosa. Rosa itu kan sepupu iparnya Danesh dan Danesh juga dimintain tolong beberapa kali sama orang tuanya Rosa untuk antarin Rosa pulang. Eh tapi Danesh malah nggak bisa. Jadi Danesh minta tolong sama aku. Kamu kan tahu sendiri kalau rumah aku dengan rumah Rosa itu searah. Sedangkan rumah Danesh, Rei, sama Arsa nggak searah.” jawab Ravi sembari membantu merapikan beberapa helai rambut Jenny yang beterbangan terbawa arus angin, kemudian menyampirkannya ke daun telinga Jenny.

Ravi kemudian melanjutkan perkataannya lagi “Kamu percaya sama aku sayang. Di hati aku cuma ada kamu seorang. Kalau memang Rosa suka sama aku, itu hak dia sayang. Aku kan nggak bisa larang dia untuk suka sama aku. Tapi kalau dia mencoba untuk menjadi duri dalam hubungan kita, aku nggak akan tinggal diam. Maafin aku ya sayang udah buat kamu ragu sama aku.”

“Lagian jangan terlalu lebay lah Jenn! Lo tenang aja, Ravi nggak akan berpaling dari lo. Nggak usah dikit-dikit ngambekan!” ujar Reiki tiba-tiba yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ravi, Danesh, dan Arsa.

Reiki yang tidak peduli dengan tatapan tajam ketiga sahabatnya tersebut segera beranjak pergi. Diantara mereka berempat, Reiki memang tidak terlalu suka dengan hubungan Ravi dan Jenny.

Menurutnya Ravi itu tipe bulol, alias bucin tolol yang mau mengikuti apapun perintah Jenny. Reikipun menilai Jenny terlalu posesif. Semakin sering bertemu dengan Jenny, semakin kesal juga Reiki. Jenny itu gadis egois menurutnya.

“Rei tuh kenapa ya? Kok kayaknya akhir-akhir ini dia sensi gitu sama aku? Aku ada salah apa sih sama dia?” tanya Jenny masih dengan nada lirih.

“Kamu nggak usah pikirin omongan Rei ya sayang.” jawab Ravi.

“Iya Jenn, omongan Rei nggak usah dipikirin.” ucap Danesh.

“Kayak lo nggak tahu tabiat Rei aja sih Jenn. Besok-besok juga dia bakalan normal lagi.” tutur Arsa.

“Iya sih. Yaudah Rav, kamu janji ya nggak ada yang lain selain aku. Pokoknya aku nggak suka kalau kamu bohong sama aku.” ujar Jenny.

“Janji sayang. Aku nggak akan pernah bohongin kamu.” Ravipun menautkan jari kelingking tangan kanannya dengan jari kelingking tangan kanan Jenny sebagai simbol untuk janjinya terhadap gadis yang sangat dicintainya tersebut.

Flashback Off

Ravi berjanji, ia pasti akan memperjuangkan hubungannya dengan Jenny. Ia akan membuat maminya mengerti bahwa perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Ia juga akan mengatakan semuanya kepada Jimmy, walaupun selama ini Ravi tahu kalau Jimmy dan Renata memang benar-benar mengetahui hubungan seperti apa yang dijalani oleh Ravi dan Rosa.

Ravi sama sekali tidak berbohong dengan Rosa tentang perasaannya yang sesungguhnya kepada Jenny. Ravi hanya mencintai Jenny seorang. Tidak ada secuilpun perasaan terhadap Rosa.

Ravi tidak akan membiarkan Rosa terus berharap padanya. Ravi yakin suatu saat nanti Rosa akan mendapatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus dan Ravi yakin itu bukan dirinya.

*****

“Jadi hubungan kalian udah benar-benar selesai Bang?” tanya Jimmy.

“Iya Jim, sorry banget gw emang benar-benar nggak bisa lanjutin semua ini lagi. Gw capek pura-pura terus di depan Jenny. Gw nggak mau nyakitin Jenny terlalu lama karena gw takut suatu saat Jenny akan mengetahui semuanya.” jawab Ravi.

“Okelah Bang. Thank you banget untuk semua bantuan lo buat gw dan Rena. Sorry juga Bang karena gw lo jadi ngorbanin perasaan lo. Gw harap hubungan lo dan Kak Jenny langgeng selamanya.” ucap Jimmy.

“Santai ajalah Jim. Kayak sama siapa aja lo. Gw abang lo dan apapun yang lo butuhkan, jangan ragu bilang ke gw. Kalau masih bisa gw bantu, pasti gw bantu. Tolong sampaikan permintaan maaf gw ke Rena ya.” tandas Ravi.

“Siap Bang. Kok lo jadi ngerasa bersalah gitu sih Bang? malah gw sama Rena yang berterima kasih banget sama lo. Kak Rosa juga udah sampaiin semuanya ke Rena, Kak Rosa bilang ini semua bukan kesalahan lo Bang melainkan semua karena sikap egois Kak Rosa.” tutur Jimmy lagi.

“Oh Rosa ngomong gitu. Bagus deh kalau dia sadar sendiri. Yaudah Jim, gw pergi dulu ya. Anak-anak pasti udah nunggu gw. Kalau lo mau ikutan main basket, nyusul aja ya.” tutur Ravi sembari beranjak pergi.

Jimmy tersenyum miris mendengar perkataan Ravi barusan. Sejak awal memang seharusnya Ravi dan Rosa tidak menjalin hubungan pura-pura seperti ini. Jimmy sungguh merasa bersalah kepada Ravi dan Rosa.

Terlebih kepada Rosa, kemarin saat Jimmy berkunjung ke rumah keluarga Zvonimira, terlihat Rena dan Rosa yang berpelukan erat sembari menangis. Saat Jimmy dan Rena meminta maafpun, Rosa hanya mengangguk dan berbicara tidak sebanyak biasanya.

Jimmy sangat tahu sedalam apa perasaan cinta yang Rosa miliki dan seterluka apa saat ini Rosa. Jimmy hanya bisa berharap agar Tuhan segera memberikan pengganti terbaik untuk Rosa. Biar bagaimanapun Jimmy sudah menganggap Rosa sebagai kakak kandungnya.

*****

“Kyra, kau sedang apa disini?” tanyaku kepada Kyra yang tiba-tiba saja ku lihat sedang duduk di sofa yang berada di dalam kamarku sambil bermain ponsel.

“Astaga Rosa! Kamu kok nanyanya gitu sih? Emang nggak boleh gitu aku mengunjungi sahabatku yang sedang patah hati?” tanya Kyra dengan nada ketus.

“Boleh banget Kyra, tapi kamu kan bisa hubungin aku dulu sebelumnya. Kasih tahu dulu kek kalau mau datang. Jangan tiba-tiba kayak gini!” ujarku.

“Ah ilah Ros, bilang aja kamu nggak mau ketahuan aku kalau kamu mewek terus. Kelihatan banget loh itu mata kamu bengkak dan hitam. Kata orang rumah kamu tuh udah 2 hari belakangan ini nggak bisa tidur.” ucap Kyra lagi.

“Gitulah Kyr.” ucapku singkat, padat, dan jelas.

Kyra menghela nafas “Gitulah apaan? Ngomong tuh yang jelas Rosalind! Udahlah cepat kamu siap-siap, aku sama Rafa mau ajak kamu shopping.”

“Shopping? Nggak ah Kyr. Aku malas kemana-mana. Kamu aja gih sama Rafa yang pergi.”

“Dih ogah banget kalau cuma berdua sama Rafa. Dikira aku pacaran sama Rafa nanti.”

“Lah… Emang kenapa? Rafa kan ganteng, baik lagi. Emang kamu nggak mau sama Rafa?”

“Ros, jangan ngadi-ngadi deh dan jangan coba-coba untuk comblangin aku dan Rafa. Aku masih menanti Babang Jimin tahu. Lagian aku sama Rafa itu ngajakin kamu pergi biar kamu nggak mewek terus. Biar kamu cepat move on. Bukannya aku sama Rafa doang yang mau pergi.” Kyra kemudian beranjak dari sofa menuju ke arahku berdiri dan segera mendorongku pelan menuju Walk in Closet yang terletak di dalam kamarku dan menyuruhku untuk segera berganti pakaian dan berdandan.

Kamipun memutuskan untuk pergi shopping ke Mall dan khusus hari ini Kyra dan Rafa yang membayari semua belanjaanku. Kyra dan Rafa benar-benar mentreatku dengan baik hari ini.

Melihat senyuman orang-orang di sekitarku membuatku menyadari bahwa aku harus benar-benar menyudahi perasaan cintaku kepada Ravi. Aku akan mulai mencoba untuk membuka hatiku untuk pria lain di luar sana.

Look at Me, PleaseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang