Part 2 - Cry For Love

8.3K 277 2
                                        

Apa yang sedang mereka bicarakan disana? Kuseret langkahku perlahan-lahan menuju Ruang Musik dan berhenti tepat di depan pintu yang setengah terbuka. Aku melihat ada Ravindra, dan ketiga sahabatnya (Danesh, Arsa, dan Reiki) yang rupanya sedang membicarakan hubunganku dengan Ravindra.

"Rav, lo serius mau nembak Jenny hari ini?" tanya Reiki, salah satu sahabat Ravindra sekaligus Wakil Ketua Tim Basket SMA Mahawira.

"Yupp, serius banget Rei. Kenapa lo tanya kayak gitu?"

"Wah kacau lo Rav! Terus Rosa mau dikemanain?" tanya Arsa, sahabat Ravindra lainnya, anggota Tim Basket SMA Mahawira sekaligus Mantan Ketua OSIS SMA Mahawira.

"Loh, kalian kan tahu sendiri kalau gw sama Rosa nggak benaran pacaran. Kami cuma pacaran terpaksa. Lagian gw juga cuma kasihan aja sama penantiannya si Rosa. Dia aja baru kali ini pacaran. Dan, kalian juga tahu kan kalau gw mau ngelakuin hal nggak berguna kayak gini cuma gara-gara Jimmy dan Rena. Gw nggak mau ngecewain Jimmy." jawab Ravindra dengan nada ketus.

Sungguh kali ini airmataku kembali menetes, sesak itu kembali lagi. Aku putuskan untuk tidak mendengar kelanjutannya lagi. Akupun berjalan meninggalkan Ruang Musik menuju kelasku, XII IPA 5.

*****

Jam menunjukkan tepat pukul 16.00, aku segera merapikan tasku dan beranjak keluar dari kelas. Seharusnya sudah dari pukul 15.00 tadi pelajaran sekolah usai, namun hari ini jadwalku dan keempat teman sekelasku yang lain untuk Piket.

"Ros, lihat! Bukankah itu Ravi dan Jenny?" ungkap Kyra, tepatnya Kyra Yunita, sahabatku satu-satunya yang kupunya di sekolah ini.

Jangan heran, aku ini memang introvert. Dari awal masuk sekolah ini hingga kini aku hanya mempunyai satu orang sahabat. Dan beruntungnya aku mempunyai seorang sahabat seperti Kyra yang sangat mengerti diriku. Bahkan Kyrapun juga sama sepertiku, ia merupakan sosok yang introvert. Jadi, Kyra juga hanya punya aku sebagai satu-satunya sahabat yang ia punya.

"Iya, Kyr. Itu memang mereka." jawabku.

Seketika itu juga, Kyra menghentikan langkahnya dan terbelalak kaget melihat peristiwa yang sedang terjadi di depan mata kami.
Disana, di Lapangan Basket terlihat Ravi yang sedang memeluk sembari mengecup kening Jenny dengan mesra.

Sementara Jenny terlihat menangis bahagia sembari memeluk Ravi. Terdengar sorakan beserta siulan beberapa siswa siswi yang juga teman-teman dekat Ravi dan Jenny.

Airmataku mengalir tanpa kuduga. Kyra yang melihatku segera menarik tanganku dan pergi darisana.

"Benar-benar manusia tidak punya perasaan." ucap Kyra dengan ketus sembari terus menarik tanganku dan berjalan dengan cepat.

Sepanjang perjalanan, aku tak henti menangis. Kyrapun ikut menangis sembari memelukku erat.
Aku tidak pedulikan lagi reaksi Pak Cipto, supir pribadi yang ditugaskan oleh Papa dan Mama untuk mengantar dan menjemputku sehari-hari.
Biarlah kalaupun Pak Cipto nantinya akan mengadukan hal ini kepada Papa dan Mama.

Look at Me, PleaseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang