Part 18 - Deep Disappointment

4.5K 102 2
                                        

"Non, ini Pecak Ikan dan Ayam Gorengnya saya taruh di meja makan sekarang? Atau bagaimana?" tanya Mbok Tini yang sedang memegang 2 piring berisi Pecak Ikan Gurame dan Ayam Goreng Mentega yang sudah selesai aku masak.

Hari ini aku memang memutuskan untuk memasak sendiri semua makanan yang akan kami makan. Mbok Tini dan Mbok Ayu hanya membantu menyiapkan bahan-bahannya dan mencuci printilan-printilan memasak yang kupakai.

Kebetulan kami memang hanya akan makan siang bertiga saja hari ini ditambah dengan beberapa Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah ini.

Tiga hari yang lalu Mama dan Papa pergi untuk honeymoon kesekian kalinya ke Ukraina dan Rusia.

Semenjak aku kembali ke Indonesia, aku memang sudah tidak pernah memasak lagi, jadi aku putuskan saat ini untuk memasak kembali agar kemampuan memasakku tidak menurun.

Menurutku sih begitu. Tapi aku tidak tahu juga kebenarannya. Karena memasak itu juga skill, yang aku tahu kalau kita punya skill tapi tidak pernah diasah atau distop begitu aja ya sama aja bohong.

"Nggak apa-apa Mbok, minta tolong ditaruh sekarang aja ya di Meja Makan. Makasih ya Mbok." jawabku sembari menuangkan tomat yang sudah kupotong kecil-kecil ke kuali yang berisi minyak panas. Aku masih harus memasak sambal bawang dan tumis kangkung.

"Nggih Non." Mbok Tini pun berjalan menuju Ruang Makan.

"Non ini ngapain toh harus repot-repot masak. Capek toh non. Seharusnya tadi biarkan saya dan Bulik Tini saja yang memasak." celetuk Mbok Ayu yang sedang mencuci piring sambil melirikku.

"Ora opo toh Mbok. Aku tuh udah lama nggak masak semenjak sampai di Indonesia loh Mbok, jadi rindu sekali masak. Hehehe."

"Weleh-weleh... Non. Ana-ana wae, masak aja toh pakai dirindukan. Hehehe. Tapi jujur saja Non, masakan Non mantap sekali kelihatannya. Jadi lapar si Mbok."

"Sabar ya Mbok. Hehehe. Bisa aja nih si Mbok. Nanti kalau sudah dicicipin aja baru komen ke aku gimana rasanya. Masakanku belum apa-apanya masakan Mama, Mbok Tini dan Mbok Ayu kok."

"Ibu DirCan!"

"Kakak!"

Aku menoleh ke belakang saat mendengar panggilan berbarengan dari Rena dan Alfa. Mereka berdua tersenyum manis dan mendekatiku.

"Wah... Masak-masak nih Bu. Jadi lapar tiba-tiba nih. Boleh numpang makan dong Bu? Mumpung masakan Ibu kayaknya mantap tuh." ucap Alfa sembari menepuk-nepuk perutnya pelan.

"Boleh banget loh Kak Alfa. Kakak tuh harus cobain masakan Kak Rosa. Waktu aku liburan ke Seoul, 1 minggu full aku dimasakin makanan yang enak-enak banget sama Kak Rosa." timpal Rena.

"Ngapain kamu kesini Alfa? Saya nggak ada suruh kamu datang loh hari ini." tanyaku kepada Alfa.

Aneh saja, ngapain juga weekend seperti ini dia malah datang kesini.

"Aihhh... Si Ibu. Jangan begitu dong Ibu Direkturku yang cantik. Tadi tuh saya sama Pak Ravi diajakin Jimmy kesini. Yaudah saya ngikut aja. Pak Ravinya juga oke-oke aja Bu. Jangan sewot gitu ah Bu sama saya. Nanti lama-lama Ibu jadi cepat kangen loh sama saya. Hehehe." kekeh Alfa.

"Astaga Alfa! Kamu tuh kepedean banget ah. Yaudah kalian kesana aja dulu! Ini saya masih masak. Nanti kita makan siang bareng."

"Asyikk... Makan gratis. Tapi kita disini ajalah Bu. Apa yang mau dibantuin Bu? Masa kita duduk-duduk aja nggak ada kerjaan. Biar para pria aja yang berbincang-bincang. Kita yang wanita-wanita masak." seloroh Alfa.

"Kalian boleh bantu disini tapi nggak ngerecokin ya. Mbok Tini, Mbok Ayu nggak apa-apa istirahat aja dulu. Soalnya aku dapat 2 bala bantuan ini. Hehehe. Makasih banyak ya Mbok udah bantuin aku masak." ucapku dengan senyuman indah yang kuterbitkan kepada dua orang yang sudah sangat lama mengabdi pada keluargaku.

Look at Me, PleaseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang