Hari ini aku bahagia sekali, semalam Ravi meneleponku dan mengajakku untuk pergi ke Mall menemani Tante Astrid shopping, meskipun Ravi mengatakan bahwa itu atas paksaan dari Tante Astrid. Ah, rupanya itu salah satu rencana Tante Astrid untuk mendekatkan kami berdua.
Tadi pagi untungnya Papa dan Mama mengijinkanku untuk pergi bersana Ravi dan keluarganya. Biasanya mana boleh aku dan kedua adikku pergi di hari Minggu. Bagi kami sekeluarga, hari Minggu itu adalah hari khusus untuk Tuhan dan keluarga. Jadi, biasanya di hari Minggu itu dimulai dari kami berlima yang akan berangkat ke Gereja bersama setelah itu kami akan menghabiskan waktu bersama, entah itu bersantai di rumah atau jalan-jalan keluar rumah.
Sepanjang menemani Tante Astrid yang ternyata juga ditemani oleh Om Keenan (ayah kandung Ravi), Ravi banyak diam, hanya sesekali Ravi berbicara, itupun kalau ditanya oleh Tante Astrid ataupun Om Keenan. Padahal aku selalu mencoba untuk mengajaknya bicara, tapi Ravi terlalu acuh denganku.
Disaat aku dan Ravi sedang berada di Counter Parfum, tiba-tiba ponsel Ravi berdering, ketika Ravi mengambil ponselnya dari kantong celananya dan melihat layar, aku lihat binar kebahagiaan tampak di wajahnya.
Ravipun menjawab panggilan tersebut sembari beranjak meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tante Astrid dan Om Keenan sudah pulang duluan tadi sehabis kami makan siang bersama. Tante Astrid memaksa aku dan Ravi untuk tetap berada di Mall. Tante Astrid memaksa Ravi untuk menemaniku kemanapun tempat yang aku tuju. Jujur saja, aku sangat senang mendengarnya tadi. Ravipun tidak membantah sama sekali perintah dari ibunya tersebut. Tapi setelah Tante Astrid dan Om Keenan pulang, Ravi benar-benar terlihat kesal padaku, beberapa kali Ravi berbicara ketus denganku.
"Ros, gw pulang duluan ya. Jenny tiba-tiba nggak enak badan. Gw harus segera ke rumah Jenny sekarang!" ujar Ravi yang tiba-tiba sudah berada disampingku.
"Loh, tapi tadi kamu udah janji ke Tante Astrid dan Om Keenan untuk temanin aku belanja, Rav? Terus kalau kamu pulang duluan, aku gimana pulangnya?" tanyaku.
"Ros, please lah! Jenny lebih penting daripada urusan belanja lo. Lagian jangan manjalah, lo kan bisa telepon supir lo atau pulang naik taksi, grab, atau apalah. Udahlah gw cabut duluan ya. Ingat! gw nggak mau sampai Mami dan Papi tahu." Ravipun segera beranjak pergi meninggalkanku sendiri disini. Air mataku menetes kembali, tanganku spontan mengusapnya, lalu beranjak keluar dari Counter Parfum yang tadi kami kunjungi.
Aku memutuskan untuk pulang menggunakan taksi, karena aku jadi tidak mood untuk menelepon supirku ataupun memesan grab melalui aplikasi. Di dalam taksi, aku duduk di pinggir jendela, lagi dan lagi air mataku menetes dan aku dengan cepat juga mengusapnya kembali agar Bapak Supir Taksi tidak kebingungan melihat penumpangnya menangis.
Sepanjang perjalanan aku hanya memandang ke luar, menikmati perjalanan ini sekaligus memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
*****
"Ma, kenapa mama nggak ikut sama Papa, Rafa dan Rena ke rumah Kak Livi?" tanyaku kepada Mama yang aku lihat sedang sibuk memasak di dapur ditemani oleh Mbok Ayu dan Mbok Tini. Aku lihat wajah mama yang juga sembab, sepertinya mama banyak menangis tadi.
Pagi tadi memang kami sekeluarga mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan dari Bang Johan dan Kak Livi. Bang Johan merupakan salah satu sepupu kandungku sekaligus keponakan kandung Mama. Sedangkan Kak Livi itu istrinya Bang Johan, sekaligus kakak kandung dari seorang Danesh Hatorangan Marbun, salah satu sahabat Ravi.
Bang Johan mengabarkan kepada kami bahwa Tulang (Paman) Parlin, ayah kandung Kak Livi dan Danesh meninggal dunia subuh jam 04.30 pagi.
Kami benar-benar kaget mendengarnya. Tadi pagi begitu mendengar kabar tersebut, Mama, aku, dan Rena benar-benar langsung menangis sedangkan Papa dan Rafa hanya terdiam sedih. Kami memang sangat dekat dengan keluarga Kak Livi.
Orang tua Kak Livi yang kami panggil dengan panggilan Tulang dan Nantulang (Bibi) memang sangat baik. Tidak jarang aku, Rafa, ataupun Rena menginap di rumah Tulang dan Nantulang ataupun di rumah Bang Johan dan Kak Livi.
"Mana mungkin Mama tinggalkan kamu sendiri di rumah sayang? Kamu kan masih demam. Mama nggak tega sayang." ujar Mama dengan senyum yang sangat indah menurutku. Mamaku, Lovie Nayara Zvonimira, sungguh aku sangat menyayangi beliau. Sosok ibu tangguh yang benar-benar hanya menjadikan Papa, aku, beserta kedua adikku sebagai pusat dunianya.
"Selesai masak, Mama akan antar makanan kamu ke atas sayang. Udah sana istirahat lagi ya!" perintah Mama yang kemudian mengecup keningku dengan lembut.
"Terima kasih Mamaku sayang. Love you so much Mama." ujarku dengan senyum bahagia sembari memeluk erat Mamaku.
Rasanya hari-hari berat yang kujalani sebelumnya terbayar lunas dengan pelukan, kecupan, dan senyuman mama hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Look at Me, Please
RomanceRosalind Fredella Zvonimira mencintai Ravindra Yoshi Callum sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Akan tetapi, Ravindra hanya mencintai Jenny Dorelia Isvara seorang. Rosalind - Ravindra akhirnya berpacaran di bangku SMA. Namun, itu semua hanya keterpa...
