Segelas kopi mendarat dihadapan Kinanthi, gadis itu mendongak dan mendapati wajah Tiger sedang mengaum didepannya.Entah sudah berapa lama lelaki itu tidak istirahat dengan cukup karena kegiatannya yang sangat padat.
"Tidur bang."
"Melihat wajah adinda, kantuk abang langsung hilang." Kinanthi berdecak, tiada hari tanpa mendengar gombalan Tiger itu berasa makan sayur tanpa garam. Bukannya tersentuh, ia makin kebal dengan rayuan gombal ala Tiger.
"Bapakmu tidak jadi datang, dek?"
"Tidak jadi, bang. Hujan badai di Indonesia?"
"Baru kali ini abang dengar Indonesia hujan badai, jangan-jangan itu alasan bapakmu saja, dek, ngasih abang kesempatan buat mepetin anaknya."
"Kita bisa bersaudara saja bang, aku ngga tertarik untuk menjadikan abang kekasih apalagi suami."
"Kita pacaran pura-pura saja, dek. Biar tidak mengenaskan abangmu ini. Lagipula apa tidak cukup saudara laki-laki yang kau punya itu sampai kau menambah abang sebagai saudara lelakimu?"
"Biar abang tidak terlihat mengenaskan, kan lebih baik jadi saudara aku?"
"Haduuuuhhh, Kinanthi pujaan bang Tiger, abang ini masih normal, suka sama lobang bukan batangan, saudara kau yang mana yang mau kau kasih ke abang?"
"Bukan yang manapun. Bicara dengan abang ini mengesalkan."
"Hei, jangan merajuk, amboi anak perawan merajuk itu susahlah membujuknya. Sudah kita pacaran saja disini, nanti sekembalinya ke Indonesia kita putus, lagipula abang tidak yakin pangeranmu itu akan diam saja lihat kita berpacaran." Kinanthi menatap Tiger dengan tajam.
"Maaf, bukan maksud abang mengingatkanmu pada pangeran bandara. Tapi abang salut padanya berani mengungkapkan perasaan padamu didepan banyak orang. Benar-benar seorang pangeran sejati. Hatimu tidak tersentuh mendengar pernyataan cintanya?"
Kinanthi terdiam, apa ia tersentuh, entahlah, dia juga tidak tahu. Yang jelas dia kaget. Jeak digitalnya masih ada dan sesekali Kinanthi melihat rekaman Fajar Kusumo mengutarakan perasaannya. Ada apa dengan hatinya dia sendiri tidak tahu. Sampai saat ini sudah tiga bulan sejak Fajar Kusumo mengungkapkan perasaannya, dan sampai saat ini ia tidak mendapat kabar apapun tentang Fajar Kusumo. Berita tentangnya tidak lagi menghiasi portal online, seolah hal itu tidak pernah terjadi.
Kinanthi sedang memainkan alat tulisnya saat netranya menangkap sosok lelaki yang cukup dia kenal meski mereka sudah lama tidak bertemu. Kinanthi menggelengkan kepalanya tidak percaya, bahkan dia sampai berhalusinasi melihat penampakan orang itu. Sebenarnya ada apa dirinya dengan orang itu.
Tiger menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah Kinanthi. Gadis itu memberikan atensinya pada Tiger.
"Kamu lihat siapa?"
"Om om cabul." Kinanthi menjawab asal lalu membenahi buku dan alat tulisnya.
"Hei mau kemana, dinda?"
"Namaku kinanthi, bukan dinda."
Kinanthi berjalan meninggalkan Tiger yang mengejarnya sambil membawa gelas kopinya.
"Kin! Tunggu! Alamak, anak ini main tinggal saja. Awas saja kalau sampai dapat, tidak akan abang lepaskan!" Tiger berhasil menyusul Kinanathi dan segera merangkul bahu gadis itu. Kin tidak menolak, saat Tiger membawakan tas kanvasnya. Seseorang menabraknya, membuat Tiger mengumpat saat tas Kinanthi jatuh.
"Hei! Hati-hati kalau jalan!" Tiger segera mengambil tas Kinanthi dan memasukkan barang-barang yang berceceran. Lelaki yang menabrak mereka hanya terdiam menatap Kinanthi yang juga menatapnya. Tubuh Kinanthi mendadak kaku dan dengan cepat lelaki itu tiba-tiba memeluknya. Tubuh Kinanthi nyaris merosot kebawah jika lelaki itu tidak menahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR KINANTHI
Storie d'amoreKalau dedek Kinan ketemu Mas Fajar apa yang terjadi yaaa???
