Your Ecstasy - Anxious

192 26 19
                                        

   Hari ini entah mengapa waktu terasa begitu cepat bagi Jeongyeon, terdengar bagaimana bel tanda kegiatan sekolah telah usai dan anak-anak dari keluarga papan atas berseragam sekolah menengah atas itu sudah berlarian keluar gerbang untuk menghampiri sopir pribadi mereka masing-masing. Beberapa membawa kendaraannnya sendiri-dengan menyogok satpam atau pihak sekolah agar memperbolehkan mereka berkendara lantaran mereka masih dilarang menaiki kendaraan bermotor diusianya yang sekarang-, mobil mewah dengan tampilan mengkilap mulai menyusuri jalanan, terkadang anak-anak itu nampak patuh berkendara, namun sisanya terlihat tidak mempedulikan lalu lintas dengan memacu mobilnya kencang. Melesat begitu saja meninggalkan debu dan asap yang menjengkelkan. Seorang pemuda bersurai kecoklatan yang sangat Jeongyeon hafal keluar saat kerumunan anak-anak telah habis, sosoknya berjalan perlahan menghampiri Jeongyeon dengan wajah masam. Tadinya Jeongyeon ingin menyapa pemuda tersebut, Park Jimin, namun urung saat melihat ekspresi tidak bersahabat miliknya.

"Aku tidak ingin pulang." Jimin menghela nafas kesal sebelum memejamkan matanya, membuat Jeongyeon yang sudah bersiap menyalakan mesin mobil beralih menaruh pandangannya di kaca kecil di atas kepalanya.

"Tuan ingin pergi ke suatu tempat? Saya dapat mengantarkannya."

"Ya, pergi ke rumahmu."

"Maaf? Tuan ingin pergi ke rumah saya?" Jeongyeon mengulang perkataan Jimin, memastikan jika telinganya tidak salah dengar atau semacamnya sembari terus memperhatikan Jimin yang masih memejamkan maniknya di kursi belakang.

"Aku hanya bercanda, bawa aku ke manapun, terserah kau. Aku tidak peduli. Aku hanya belum mau menjejakkan kaki ku di rumah itu."

"Baik Tuan, apa Tuan muda ingin saya antarkan ke cafe?"

"Tidak. Cafe terlalu berisik. Bawa aku ke tempat yang hening."

"Apa Tuan ada-"

"Terserah kau, jangan tanya kepadaku, pilihlah tempat semaumu." pemuda ini, Jeongyeon baru saja mendapat permen cokelat darinya dan berpikir jika hari ini akan lebih baik dari hari-hari biasanya namun tetap saja. Jimin tetap pada sifat keras kepala, egois, penyuruh, dan semua itu cukup untuk menguji emosi Jeongyeon. Meskipun begitu, Jeongyeon tetap menurut dan membawa Jimin ke tempat hening seperti yang diinginkannya. Setelah berkendara cukup lama, Jeongyeon menghentikan mobil yang dikendarainya. Gadis itu tersenyum puas sebelum memanggil Jimin yang tampaknya sedikit terlelap.

"Tuan muda, kita sudah sampai." dengan sabar, Jeongyeon menepuk bahu Jimin beberapa kali hingga pemuda bermata sabit itu membuka maniknya.

"Oh sudah sampai? Bagus." merenggangkan tubuhnya sebentar, Jimin keluar dari dalam mobil mengikuti jeongyeon. Wajah masamnya yang semula nampak menghilang setelah tertidur kini kembali. Manik sabit miliknya menatap tajam ke arah Jeongyeon.

"Perpustakaan kota? Kau gila ya? Manusia mana yang mau menghabiskan waktunya di tempat seperti ini."

"Tuan sendiri yang mengatakan kepada saya untuk memilih tempat yang hening, di perpustakaan hening bukan, Tuan? Dan jangan lupa jika Tuan mengatakan jika saya boleh mengantar Tuan ke manapun, terserah saya."

"Cih, aku tidak bisa mendapatkan soju dari tempat ini. Tidak ada supermarket didekat sini juga, bagaimana aku akan membeli bir?"

"Tuan memilih untuk masuk ke dalam perpustakaan atau saya antar Tuan kembali ke rumah? Dan jangan coba-coba untuk memasukkan bir, soju, atau semacamnya di tas. Saya akan menggeledah tas Tuan Muda dengan paksa jika Tuan melakukan itu." Mendengar ancaman Jeongyeon membuat Jimin mendengus, pemuda itu mendekat ke arah Jeongyeon lantas menatap si bodyguard dengan datar.

"Permen cokelat yang aku berikan untukmu berhasil membuatmu tampak lebih manis, kau cantik, tapi sepertinya permen itu tidak membantu mengubah sifatmu. Kau masih gadis menyebalkan." setelah mengatakan kalimat tersebut, Jimin berjalan angkuh ke dalam perpustakaan. Meninggalkan Jeongyeon yang masih terdiam di tempat. Perlahan ranumnya terangkat, dia tidak tahu jika mendapat kalimat semacam itu dari Tuan Mudanya membuat dia sesenang ini.

Jeongyeon mengikuti Jimin untuk memasuki perpustakaan tepat saat dirinya mulai tersadar dari lamunannya. Setelah sempat kehilangan pemuda itu dari pandangannya, Jeongyeon melihat Jimin tengah duduk dibagian belakang perpustakaan. Tempat yang jarang dipilih oleh orang-orang lantaran terkesan sedikit lembab juga gelap. Namun Jeongyeon rasa pemuda itu menyukainya, di tangannya terletak salah satu buku karya penulis terkenal, JK. Rowling. Dengan hati-hati Jeongyeon mendekati Jimin, gadis itu duduk dikursi kosong yang terletak tepat disebelah Tuan Mudanya.

"Tuan Muda menyukai Harry Potter?" tanya Jeongyeon pelan. Mendengar pertanyaan tersebut membuat Jimin menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku hanya penasaran saja, beberapa temanku menyukai wizarding world semacam ini." Dirinya masih fokus membuka lembar demi lembar buku yang tengah dipegangnya.

"Aku tidak mengerti, apa yang bagus dari dunia sihir? Tidak ada bedanya dari dunia yang saat ini kita tempati. Apakah memang sehebat itu? Apa keinginanmu dapat terpenuhi hanya dengan sihir belaka?" dari manik jeongyeon, dia dapat melihat bagaimana Jimin terus membaca serentetan kalimat serta dialog yang terdapat di buku di hadapannya. Seakan-akan mencoba mencari jawaban atas ketidaktahuannya, berusaha mencari sesuatu yang dapat menarik perhatiannya.

"Mungkin saja Tuan benar, dunia sihir tidak ada bedanya dengan dunia yang saat ini kita tempati, dunia yang kita tahu. Mungkin juga sihir tidak sepenuhnya dapat membuat keinginan kita terpenuhi, dan lebih penting hal semacam itu hanya dapat kita temui dengan mudah di dalam novel-novel fiksi," seulas senyum tercipta di ranum indah milik Jeongyeon. Dirinya memandang lekat ke arah Jimin sebelum meneruskan kalimatnya.

"Tetapi tidak ada salahnya menyukai sesuatu dan berharap dari apa yang kita sukai. Jika Tuan bertemu teman-teman Tuan yang menyukai sihir atau percaya tentang keajaiban, meskipun hal itu terdengar mustahil tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Terkadang berharap pada hal-hal mustahil itulah yang menjadi alasan teman-teman Tuan masih bertahan sampai saat ini." Untuk beberapa saat terdengar hening diantara mereka, bahkan Jeongyeon yang baru saja mengucapkan hal tersebut mulai ragu jika Jimin mendengarkan seluruh ucapannya. Dia merasa baru saja mengatakan sesuatu yang hanya akan menjadi omong kosong serta angin lalu bagi Jimin.

"Apa kita diizinkan untuk bertahan karena hal-hal kecil bahkan bodoh seperti ini?" sebelum Jeongyeon meneruskan kegiatan berburuk sangkanya, suara Jimin lebih dahulu menyapa rungunya. Membuat dia menoleh dan entah sejak kapan Jimin tidak lagi menaruh fokusnya pada buku Harry Potter yang semula dibacanya melainkan kepada Jeongyeon.

"Er.. bodoh?" Jeongyeon tersenyum masam, "Bodoh ya? Dasar anak ini." batin Jeongyeon. Namun kemudian dia mengangguk.

"Tentu saja. Tidak ada peraturan yang mengharuskan kita bertahan hanya untuk sesuatu yang besar dan hebat. Tuan bisa mulai mencari hal-hal kecil di sekitar Tuan untuk dapat bertahan, mempercayai sesuatu, atau bahkan menyukai sesuatu. Semua itu dapat Tuan Muda lakukan."

"Sejujurnya aku tidak peduli dengan apapun dihidupku, tentang menyukai sesuatu, atau mencari alasan untuk bertahan. Tetapi.." Jimin menutup buku tersebut lantas ke arah Jeongyeon.

"Kau, aku akan berharap kau mencintaiku. Dan aku akan menjadikan hal ini sebagai alasanku bertahan jika suatu saat aku merasa ingin menyerah dengan hidupku, karena menyerah hal yang mudah bagiku. Aku dapat kapan saja mengakhiri kehidupanku saat ini, tidak ada siapapun yang bisa melarangku melakukan apapun yang aku mau. Bahkan jika itu menyangkut nyawaku, tetapi aku akan mendengarkan saranmu." Pemuda itu kembali membuka buku Harry Potter yang beberapa saat lalu diabaikannya. Meninggalkan jeongyeon membeku dengan degup jantungnya yang seakan berlomba-lomba untuk menciptakan dentum paling keras.

"Jadi Yoo Jeongyeon, bersiaplah untuk jatuh cinta kepadaku. Aku sudah mengingatkanmu."


To Be Continued


Huhuuu maafff hiatus selama.. err setahun(?) Ai as author lagi sibuk-sibuknya sama perkuliahan. Semoga kalian semua ga capek nungguin update story ini dari Ai  meskipun Ai sering ngilang T____T Have a great daayy everyonee, semoga chapter ini bisa menuntaskan rasa kangen kalian sama pasangan JimJeong kita. Untuk kedepannya Ai usahakan update lebih cepeett. Wufyuu all 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 20, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Your EcstasyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang