[ Yang mau bacaan ringan, silahkan mendekat ]
Ramadan, bulan suci yang begitu banyak dilimpahi oleh rahmat dan kasih sayang-Nya, siapa sangka juga membawa berkah cinta untuk Haura Insiyyah.
Berawal dari beberapa insiden di sebuah masjid ketika akan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di bawah atap sudut taman, Insi berdiam diri memandangi guyuran air yang makin saja lebat. Terbawa oleh suasana hujan, pikiran gadis itu melayang. Ia menahan senyum ketika dalam kepalanya terlintas bayangan Hafshah yang mungkin kini tengah bingung atas kehilangan dirinya. Pasti wanita itu tengah sibuk mengomel dan tentu Khalid yang menanggung akibatnya. Kasihan sekali sang Ayah, padahal tak bersalah tapi harus mendengar celoteh Hafshah yang sudah dipastikan tak akan ada habisnya.
Mengingat sang Bunda, membuat Insi menyadari bahwa malam nanti adalah malam yang begitu istimewa, sebab kehadirannya amat begitu dinanti oleh seluruh saudara umat islam.
Benar sekali. Malam pertama Ramadan.
Pantas saja hujan. Pasalnya sering kali tatkala memasuki bulan tersebut, langit akan menghujani bumi seolah menangis haru sebab berjumpanya kembali dengan bulan suci penuh kemuliaan.
"Alhamdulillah, gue masih dikasih kesempatan buat ketemu lagi sama Ramadan."
Tentu saja Insi merasa bersyukur. Ia termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung. Banyak yang berkeinginan sedemikian rupa, namun sayang tidak tercipta karena ajal yang tiba-tiba telah menyapa.
Gadis itu melambungkan pikirannya lagi. Momen-momen bahagia saat tarawih, buka bersama, sahur, dan ngabuburit, alias jalan-jalan sembari menunggu azan magrib adalah suasana yang kerap kali Insi rindui dan ia nanti-nantikan kembali. Perasaannya menghangat kala mengingat itu semua. Hanya orang bodoh yang tidak akan senang bila berjumpa kembali dengan bulan mulia tersebut. Bahkan ada orang yang saking gembiranya menyambut sang Ramadan, ia sampai-sampai meneteskan air mata dengan begitu derasnya.
Ramadan, bulan yang tak hanya menyimpan banyak kemuliaan. Ampunan pun tidaklah sulit untuk Dia beri bila kita bersungguh-sungguh dalam memintanya. Belum lagi kasih dan sayang yang Dia torehkan dengan begitu berlimpah. Banyak amalan-amalan dilipatgandakan. Salah satunya yang terkecil, hanya dalam membaca satu huruf kitab suci-Nya saja sudah bisa mendapatkan sepuluh kebaikan. Maka nikmat-Nya yang mana engkau sekalian dustakan?
♡♡♡
Hari sudah mulai sore, tetapi Insi masih tetap bertahan mengerami bayang bambu milik Eyang Nin. Ia benar-benar menghabiskan waktu dan harinya di sini.
Jemari Insi terlihat sedang mengutak-atik laptop yang memang sengaja ia bawa sewaktu melarikan diri pagi tadi. Sekalian saja Insi mencicil tugas-tugasnya yang masih menumpuk. Mumpung sekarang penyakit malasnya sedang tak kumat.
"Rajin banget, In." Eyang Nin datang memunculkan diri, lalu mengambil tempat di sebelah Insi. "Dari tadi gak ada berhentinya natap laptop."