12 | DIA DATANG MELAMAR?

1.6K 150 107
                                        

بِسْــــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Benda bulat di kamar Insi telah menunjukkan angka 10 pagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Benda bulat di kamar Insi telah menunjukkan angka 10 pagi. Namun seperti biasa, Insi belum kunjung bangun dari tidur. Ia masih nikmat dalam balutan selimut tebalnya, menyembunyikan diri dari sang surya. Tetapi, kenikmatan itu segera berakhir sebab alarm manusia Insi sudah bertitah.

Hafshah menghela napas kasar. "Bunda harus nasihatin kamu pakai gaya apalagi sih, supaya kebiasaan kamu ini bisa berubah?"

"Gaya freestyle, Bun," sahut Insi dengan setengah sadar, masih dalam tahap pengumpulan nyawa.

"Bunda gak mau tahu, pokoknya lima menit lagi kamu udah harus tampil rapi," titah Hafshah.

Insi membelalakkan mata. "Eh, kok tiba-tiba? Emang mau ngapain, sih, Bun?" keluhnya sembari berusaha mengangkat tubuh dari magnet kasur.

"Ada tamu."

"Tamu? Tamu Ayah-Bunda, kan? Berarti aku nggak perlu nemuin, dong."

"Oh gitu. Ya udah, berarti jatah jajan bulan ini nggak ada, ya."

"Ih, kenapa gitu?" sahut Insi yang tak jadi kembali merebahkan tubuh.

Melihat Hafshah yang hanya mengedik bahu, Insi pun berdecak kesal. "Emang siapa, sih, tamunya?!"

Seketika itu juga, Insi langsung melesat pergi ke luar kamar sembari langkah kakinya bergemuruh.

"Lho, In. Mau kemana?"

Sepertinya Insi telah kehilangan akal sehat. Karena merasa sebal tidurnya terganggu, bukannya ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri, ia malah pergi menuju ruang tamu untuk meluapkan kekesalan hati.

Ada-ada saja bukan?

Begitu sampai, Insi benar-benar menunaikan niatnya. Tanpa banyak basa-basi ia langsung bersuara dengan lantang.

"SIAPA, SIH, YANG DATANG?! GANGGU TIDUR GUE AJ-"

Kedua pasang mata Insi membulat dan bibirnya membeku, saat mengetahui bahwa yang bertamu adalah Khaizan, seseorang yang beberapa hari ini selalu ia pikirkan. Bahkan bukan hanya dia, tetapi juga ada Sarah beserta dengan Eyang Nin.

Semenjak keterlibatannya dengan masalah keluarga Eyang Nin di tiga hari yang lalu, Insi terus saja memikirkan perkataan Khaizan, hingga akhirnya ia cukup frustasi. Bagaimana tidak? Insi seperti diberi sebuah harapan, wajar bila ia menunggu Khaizan untuk merealisasikannya.

Tetapi setelah kejadian hari itu, Khaizan seakan menghilang. Insi selalu mendapati sebelah rumahnya kosong. Entah pergi kemana para penghuninya. Sebenarnya bisa saja ia bertanya kepada Eyang Nin. Sayang, gengsi Insi lebih besar dibanding rasa penasarannya.

Dehaman dari Khalid membuat Insi lekas tersadar. Bentuk wujudnya kini sungguh menyedihkan. Rambut acak-acakan, serta bekas liur yang masih tercetak di setiap sudut bibir. Parahnya lagi, pakaian yang ia kenakan kini sungguh tak layak untuk dipandang oleh khalayak ramai.

Ramadan CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang