[ Yang mau bacaan ringan, silahkan mendekat ]
Ramadan, bulan suci yang begitu banyak dilimpahi oleh rahmat dan kasih sayang-Nya, siapa sangka juga membawa berkah cinta untuk Haura Insiyyah.
Berawal dari beberapa insiden di sebuah masjid ketika akan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk menghentikan pertikaian tersebut, Khaizan akhirnya membawa Eyang Nin masuk ke dalam rumah. Sedangkan, Insi menemani Sarah di luar rumah.
Insi lalu memapah Sarah untuk duduk di kursi teras. Air mata Sarah perlahan mengalir keluar. Dadanya berkecamuk. "Ternyata Mama masih belum bisa memaafkan Tante, In," katanya dengan tatapan sendu.
Insi tentu saja bingung. Namun ia tidak berani untuk bertanya. Apalagi sekarang situasinya sedang tidak tepat. Alhasil, Insi hanya bisa terus-menerus mengelus punggung Sarah, berharap bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Isakan demi isakan terdengar, membuat Insi menjadi tak tega. "Aku gak tahu ada masalah apa antara Tante dan Eyang Nin. Tapi kalau gak keberatan, Tante bisa cerita ke aku, walau aku juga gak tahu nanti bisa bantu Tante atau gak."
Sarah menoreh senyum sembari mengusap lembut bahu Insi. "Kamu memang anak baik, In."
Wanita itu kemudian menarik dan mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum mulai bercerita.
♡♡♡
Sekitar 20 tahun yang lalu....
Sarah adalah seorang gadis yang sangat jauh dari kata agama. Bahkan, ia dulunya bekerja sebagai seorang penyanyi di sebuah Bar. Hidupnya mungkin terlihat penuh dengan kebebasan. Namun, ia masih memiliki moral sebagai seorang wanita, tak seperti kebanyakan wanita penghibur lain yang kerap kali merendahkan harga dirinya. Jujur, ia pun sebenarnya terpaksa melakukan pekerjaan tersebut, demi menghidupi dirinya yang hidup sebatang kara.
Hingga suatu ketika, Sarah mengalami peristiwa yang membuat ia dipertemukan dengan Ibrahim. Seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter, pun pemuda yang amat religius.
Waktu itu, tiga orang laki-laki pengunjung Bar yang ternyata juga merupakan seorang preman, meminta Sarah untuk melayani mereka dan akan memberi imbalan uang. Tentu saja Sarah langsung menolak.
"Tugas gue di sini tuh cuma nyanyi, bukan buat jual diri!" ketusnya.
Salah satu preman tetap memaksa, hingga akhirnya Sarah menyiramnya dengan segelas wine. Preman itu tidak terima dan ingin membalas. Untung saja, Security Bar langsung datang, lalu mengusir ketiga orang tersebut.
Namun, masalah itu ternyata tak berhenti sampai di situ saja. Ketika Sarah dalam perjalanan pulang, para preman itu mencegatnya di tempat yang gelap dan sepi. Ketiga laki-laki itu pun berusaha melecehkannya. Sarah berusaha melarikan diri. Nahas, ia tertangkap. Ia akhirnya hanya bisa berteriak sekuat tenaga, meminta tolong.
"Berisik! Gak bakal ada yang nyelametin lo. Gak liat, di sini gak ada satu orang pun selain kita?!" bentak salah seorang preman.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghajar ketiga preman tersebut. Sepertinya dia jago bela diri, sampai-sampai bisa mengalahkan mereka bertiga hanya dalam sekejap.