[ Yang mau bacaan ringan, silahkan mendekat ]
Ramadan, bulan suci yang begitu banyak dilimpahi oleh rahmat dan kasih sayang-Nya, siapa sangka juga membawa berkah cinta untuk Haura Insiyyah.
Berawal dari beberapa insiden di sebuah masjid ketika akan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti suasana Ramadan pada biasanya, suara orang bertadarus Al-Qur'an di masjid seakan ramai terbawa oleh angin. Sampai-sampai alunan iramanya mampu terdengar oleh Insi yang terkapar tak berdaya di atas ranjang kasur. Gadis itu menengok jam yang tertempel pada dinding kamar, wajahnya menekuk ketika mendapati kenyataan bahwa masih ada sekitar empat jam-an lagi untuk menuju azan magrib.
Tatapan Insi kemudian berpindah ke langit-langit kamarnya seraya berpikir. Ia sudah menghabiskan segunung piring nasi, pun banyak-banyak meminum air putih di sahur pagi tadi, mengantisipasi agar perut yang biasanya diisi dengan rutin setiap beberapa jam sekali tak kambuh berbunyi sebelum waktu berbuka tiba. Namun, kini kenyataannya, lapar dan dahaga sudah kerap Insi rasakan. Padahal baru puasa hari pertama, lalu bagaimana dengan keesokan hari seterusnya?
"Udah lemes aja kamu, baru juga jam segini."
Insi memutar engsel lehernya, menengok Hafshah yang tengah berdiri di tepi ranjang dengan memakai daster biru floral andalannya. Hanya sedetik, karena setelah itu Insi langsung berpaling muka tanpa menyahut apa-apa.
"Coba ngapain gitu. Jangan diem aja di kasur kayak barang gak berguna. Sepet tahu Bunda lihatnya."
"Gak usah dilihat kalau gitu, Bun," kata Insi sembari berusaha meraih benda hitam persegi panjang di dekatnya. "Lagian emang aku salak, sampai bunda ngerasa sepet ngelihat aku?"
"Jawab terosssss."
Hening.
Merasa tak diacuhkan, Hafshah kembali menasihati Insi yang malah asyik memainkan ponsel kesayangannya. "Daripada main HP, mending ngelakuin hal lain yang bermanfaat. Baca Al-Qur'an gitu contohnya, apalagi di bulan puasa gini lebih bagus dan dapat pahalanya lebih banyak lagi."
"Udah tadi subuh," sahut singkat gadis itu.
Sontak saja, mood yang sedari tadi sudah tidak stabil akibat periode haid membuat Hafshah meledak juga akhirnya. Ia mendengus kesal. "Mending kamu angkat jemuran di luar, tuh!"
"Males ....," ceplos Insi tak sengaja.
Beberapa detik setelah sadar akan ucapannya, perlahan Insi melirik Hafshah dengan takut-takut. Kedua alis sang Bunda telah tertaut seraya terpampang wajah yang garang. Insi susah payah meneguk salivanya. Sebentar lagi, bala bencana akan bertandang kepadanya.
"Apa?! Coba ngomong sekali lagi? Bunda gak denger!" Hafshah menarik erat-erat daun telinga Insi.