[ Yang mau bacaan ringan, silahkan mendekat ]
Ramadan, bulan suci yang begitu banyak dilimpahi oleh rahmat dan kasih sayang-Nya, siapa sangka juga membawa berkah cinta untuk Haura Insiyyah.
Berawal dari beberapa insiden di sebuah masjid ketika akan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Masih dalam dekapan Eyang Nin, netra cokelat Insi yang berair mengambil tatap ke arah Khaizan. Tadinya lelaki itu beringsut menjauh. Insi telah menduga Khaizan akan pergi kemana. Tepat sekali. Khaizan kembali hadir dengan membawa seseorang.
"Ma."
Suara sayup tersebut terhantar pada pendengaran Eyang Nin, membuat atensinya memperoleh Sarah yang tengah berdiri di belakangnya. Tanpa pikir panjang, Eyang Nin mengulurkan kedua tangan sembari isaknya tertahan. Tentu Sarah dengan senang hati langsung menerima. Dalam pautan satu sama lain, tangis keduanya pun perlahan berurai. Bukan tangisan duka, melainkan tangisan bahagia.
Rekam memori Eyang Nin tayang kembali dalam kepalanya. Rasa yang menyakiti dahulu tak ia rasakan lagi sekarang. Beban yang dipikulnya pun benar-benar lenyap tak bersisa. Sejatinya, hati yang dipenuhi amarah dan dengki tak akan pernah bisa merasakan ketenangan dan kedamaian yang hakiki.
"Sarah minta beribu maaf, Ma. Maafkan Sarah."
Eyang Nin menerbitkan senyum, lantas menggeleng. "Seharusnya Mama yang minta maaf. Maafkan Mama yang egois ini. Padahal selama ini kamu selalu baik sama Mama. Tapi Mama nggak pernah sedikit pun menganggap kebaikan itu ada. Mama benar-benar minta maaf, Sar."
"Pertama kalinya Mama meluk Sarah. Setelah kehilangan orang tua sejak kecil, Sarah nggak pernah lagi merasakan pelukan hangat mereka. Dan sekarang Sarah bersyukur karena bisa dapat pelukan itu lagi dari Mama, pelukan yang penuh dengan kasih dan sayang. Makasih, Ma," ungkap Sarah pilu.
"Kamu tenang aja. Untuk seterusnya, Mama akan sering-sering meluk kamu."
Suasana haru menyelimuti lingkungan sekitar. Hari yang cerah, tidak panas pun tak mendung. Serta angin sepoi yang berhembus merdu, seolah alam ikut bersuka-cita dengan adegan yang baru saja terjadi. Begitu pula kedua orang lain yang terenyuh mematung di tempat. Khaizan berusaha tegar agar kaca bening yang timbul pada bola matanya tak pecah. Sedangkan Insi berjerih payah menyeka bulir yang sedari tadi menitik kian deras.
Dalam kebisuannya, Insi amat tak menyangka. Setan apa yang merasuki dirinya? Tunggu! Tetapi bukankah setan selalu berbuat buruk? Jadi seharusnya yang benar, malaikat apa yang merasuki Insi sehingga dirinya yang begitu jauh dari kata bijak, pun yang masih saja suka bertingkah laku sembrono, mampu membuka pintu kesadaran seseorang?
Sementara, Khaizan juga sedang terkagum-kagum dengan tindakan Insi yang tadi tercipta. Ajaib sekali. Selama ini lelaki itu telah banyak melakukan berbagai cara untuk membenahi benang kusut di hati Eyang Nin. Namun, hanya kegagalan yang senantiasa mengikuti Khaizan.
"Sihir apa yang kamu gunakan?"
"Sihir? Sihir apaan?" tanya Insi sembari menyipitkan kedua pasang matanya. Ia tak paham dengan pertanyaan Khaizan yang terkesan tiba-tiba. "Lo ngatain gue nenek sihir?"