[ Yang mau bacaan ringan, silahkan mendekat ]
Ramadan, bulan suci yang begitu banyak dilimpahi oleh rahmat dan kasih sayang-Nya, siapa sangka juga membawa berkah cinta untuk Haura Insiyyah.
Berawal dari beberapa insiden di sebuah masjid ketika akan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selesai menunaikan salat Asar, Insi termenung sejenak dalam keheningan. Seseorang terlintas dalam kepalanya. Reka episode pertemuan antara ia dengan Khaizan terputar kembali. Mulai dari Khaizan yang tak sengaja menabraknya. Insiden kehilangan sandal limited edition, katanya. Padahal banyak saja toko kelontong yang menjual benda tersebut. Berlanjut dengan perihal-perihal yang selalu membuat Insi terkait dan terlibat bersama lelaki itu.
Tanpa sadar, sebuah lengkungan tercetak di bibir Insi sembari pikirannya masih terhanyut mengingat ulang bayang-bayangnya.
"YAH! INSI KENAPA, YAH?!"
Teriakan sang Bunda membuyarkan lamunan Insi. Gadis itu kebingungan melihat tingkah aneh Hafshah yang melolong seraya menampakkan air muka khawatir. Insi mengecek bagian setiap sudut anggota tubuhnya. Apa yang salah dari dari dirinya?
Muncul Khalid yang datang dengan tergesa-gesa. "Kenapa, Bun. Insi kenapa?"
Tak menanggapi sang Suami lebih dulu, Hafshah cepat-cepat memegang dahi Insi, lalu membolak-balikkan telapak dan punggung tangannya.
Merasa sedikit kesal Insi pun menepis tangan wanita itu. "Apaan sih, Bun!"
"Nggak panas kok, Yah." Hafshah mengelih pada Khalid sehabis memeriksa suhu badan Insi. Ia pikir anaknya itu sedang tidak sehat.
"Emang Insi kenapa, Bun?" tanya Khalid sebab belum mengerti atas apa yang menyebabkan kehebohan sang Istri tadi.
"Tauk nih Bunda!" imbuh Insi.
"Kamu gak kerasukan jin tomang, kan?" Hafshah mengguncang kuat tubuh Insi, sampai-sampai kepala gadis itu terpental ke depan dan ke belakang.
"Gak, Bun. Nggak, astagaaa!"
"Habisnya kamu senyum-senyum sendiri. Bunda takut kamu kesambet apa gitu."
"Lagi kasmaran kali, Bun," celetuk Khalid.
Seketika netra Insi membulat. "Hah?! Siapa yang lagi kasmaran? Ayah ngada-ngada deh!" elaknya.
"Tapi kok tiba-tiba salting gitu?"
"Nggak ih, aku biasa aja!" Lagi-lagi Insi mengelak.
Khalid melihat pipi Insi yang memerah. Ia tersenyum menggoda sembari melirik ke arah istrinya. "Tapi sama siapa ya, Bun?"
"Sama tetangga baru yang di sebelah itu kali, Yah," timpal Hafshah.
Perihal kepergian Insi kemarin bersama dua orang yang bertempat tinggal di samping rumahnya itu memang sudah terdengar ke telinga Khalid dan Hafshah.
"Ih, apa sih, Yah, Bun! Udah ah, kita kemusuhan!" Insi melipat kedua tangannya ke dada seraya memalingkan wajah.
Khalid tergelak puas karena berhasil mengusili Insi, begitu pun Hafshah yang tak henti-hentinya tersenyum karena melihat Insi yang menjadi salah tingkah.