Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
Jika aku bisa berubah menjadi Hulk versi perempuan, aku pasti akan berubah sekarang. Jeongyeon acuh tak acuh dengan segalanya. Dia tetap duduk di sana seperti patung, mengalihkan pandangan ke sekeliling ruang tamu. Menatap furnitur juga lukisan di dinding seolah belum pernah melihatnya sedekat itu.
"Kau tau?" Aku menarik napas dalam-dalam dan ia mulai memperhatikanku lagi. "Aku membencimu, Jeong!"
"Heh? Apa yang telah ku lakukan?" Jeongyeon berkedip, clueless. Aku menatapnya marah karena dia terdengar terlalu polos pada reaksinya.
"Pikir aja!" dengusku kesal. Dari sudut mata, aku melihat Jeongyeon termenung sambil menunjuk dirinya sendiri dan beberapa saat kemudian mengusap kepalanya dengan berantakan. Entah dia emang tidak tau atau hanya ingin menguji kesabaranku.
"Aku benar-benar ngga tau. Kenapa kamu begitu kesal denganku?" Jeongyeon berkata dan itu adalah titik kesabaran terakhirku.
"Kamu hangout sama Jennie hampir setiap hari dan kamu ngga merasa bersalah, ha?!"
Ya. Meskipun Jennie adalah sahabatku dan aku mengenalnya secara pribadi, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa cemburu karenanya.
Jennie mencuri waktuku dengan Jeongie. God, kekasih bodohku telah bersamanya seminggu terakhir ini. Itu terlalu banyak.
"Jennie? Ya tuhan Nay, aku cuma bantu seputar kuliahnya doang kok."
"Kamu pikir aku idiot?" Aku menggerutu dan melompat ke atasnya. Kami jatuh ke lantai. "Aku lihat kalian berdua di mall, tertawa dan menggoda satu sama lain seperti pasangan." desisku, melingkarkan tangan di lehernya dan meremasnya dengan sedikit kekuatan.
"Argh, Nay~"
"Kelas mana yang ada di mall, hah!"
"UHUK!" Jeongyeon tersedak hingga sesak napas. "Aku mengajaknya makan siang. Itu aja," dalihnya, berjuang untuk melepaskan diri dari kukunganku.
"Halah!"
"Kau harus percaya padaku, Nayeon." Dia memohon.
Beberapa minggu terakhir, hidupku sangat berubah karena tumpukan pekerjaan. Entah bagaimana, tapi Jihyo dan Chaeyoung berhasil membuatku terlibat akting. Ya, aku mulai ikut dalam syuting serial drama.
Sialan. Jihyo sungguh membuatku berpasangan dengan Sehun. Meskipun pada awalnya aku tidak setuju dengan kesepakatan itu, Jeongyeon meyakinkan ku bahwa aku juga bisa melakukan yang terbaik dalam berakting. Ini gila.
Namun, setelah perubahan dan peluang datang kepada ku seperti emas, semua itu membuat ku kehilangan hal berharga lainnya dalam hidup; yakni waktu yang kumiliki dengan Jeongyeon.
Tingkat kesibukan ku di luar ekspektasi. Aku meninggalkan rumah pagi-pagi dan kembali larut malam. Jeongyeon sangat pengertian dan toleran, tapi aku tau dia juga tidak senang dengan itu.