Lima belas

795 52 2
                                    

''Hihihi, bukankah mereka sangat serasi, Tuan? Pria itu terlihat alim, cocok sekali dengan Anjani!" ucap seorang wanita bersuara cempreng dan berkulit pucat yang duduk di dahan pohon. Gaun putihnya menjuntai hingga menutupi kedua kakinya.

Wanita itu menyeringai ke arah tuannya seolah mengejek. Separuh wajahnya tertutup rambut hitamnya yang panjang.

Makhluk yang disebut tuan itu mengeram, tidak senang dengan ucapan si wanita. Melihat Anjani yang ditepuk pundaknya oleh Galuh saja sudah cukup membuatnya marah, ditambah ucapan provokasi wanita itu yang membuat naik darah.

''Diam lah, Surti. Sebelum aku merobek mulutmu!"

"HIHIHI,'' wanita bernama Surti itu tertawa dengan suara melengking. ''Jangan marah, Tuan! Saya hanya bercanda."

Si tuan menatap tajam Surti dengan netra merahnya seolah memberi peringatan. Matanya lalu kembali memerhatikan sekumpulan orang di depan sana.

''Ngomong-ngomong, kenapa manusia-manusia itu berkumpul di wilayahku?"

''Saya dengar, mereka mencari seorang anak perempuan.''

''Anak perempuan yang sering bermain dengan Anjani?"

Surti mengangguk. ''Tepat sekali. Anda pasti tahu siapa pelakunya kan, Tuan?"

Kali ini si tuan yang mengangguk. Siapa lagi yang suka menculik anak-anak di waktu maghrib selain si Kalong Wewe? Sosok wanita tua keriput dengan payudara yang terlihat panjang dan menggantung itu suka sekali menculik dan menyembunyikan anak-anak.

''Kau tahu dia di mana, Surti?"

''Ya, dia ada di sarangnya, seperti biasa. Tunggu, Tuan! Apa anda mau menemuinya? Tuan, sebaiknya anda jangan ikut campur. Biarkan saja itu menjadi urusan manusia!" ucap Surti, menahan tuannya agar tidak ikut campur.

''TUAN BAGASPATI!" Surti berteriak saat melihat tuannya telah menghilang. Makhluk besar berbulu itu sangat keras kepala. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan saran dari para bawahannya.

Sesosok makhluk lain muncul di bawah pohon tempat Surti berdiam diri. Makhluk yang terbalut kain putih itu mendongak menatap Surti.

''Di mana Tuan?" tanyanya.

''Ke sarang si nenek tua penculik!"

Makhluk itu mendengus. Jadi sekarang ia harus pergi ke sarang Kalong Wewe? Yang benar saja. Dari tadi ia sudah berkeliling hutan mencari sang tuan. Tahukah kalau dirinya sudah lelah dengan sikap tuannya yang suka loncat ke sana ke sini dan bertindak sesuka hati itu?

''Hihihi, sabar Jajang. Tuan kita itu memang menyebalkan, tapi ia tampan!" kata Surti sambil terkikik.

''Wujud manusiaku lebih tampan!" ujar Jajang tidak mau kalah.

''Aku tidak sedang membahas wujud manusianya."

Jajang menatap Surti dengan dahi berkerut, sedangkan wanita itu malah menyeringai lebar.

*****

Bagaspati sampai di sarang Kalong Wewe dalam hitungan detik saja. Sebuah gua yang lembab dan gelap adalah sarangnya.

Sesampainya di sana, ia meringis jijik melihat anak perempuan yang tengah memakan kotoran dengan lahap. Sebuah kebiasaan buruk bagi Kalong Wewe, mereka suka memberi makan anak-anak yang diculik dengan kotoran miliknya.

Hal itu bertujuan agar si anak menjadi bisu serta tidak bisa menceritakan apa yang dia alami dan dia lihat.

''Darmi!" panggil Bagaspati dengan suara bassnya.

SwastamitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang