Anjani terbangun dari tidurnya. Tangannya bergerak mengucek mata kanannya yang terasa gatal. Saat itulah Anjani baru sadar, jikalau ada yang berbeda darinya.
Dahi Anjani berkerut, heran sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ada benda kecil yang melingkar di jari manisnya dengan batu berwarna merah pekat yang bersinar terkena pantulan cahaya matahari. Dia tidak salah lihat kan? Itu, cincin yang diberikan Agas bukan?
Sedetik kemudian, senyumnya merekah. Melihat bukti nyata seperti itu, menjelaskan kalau sebenarnya Agas bukan hanya pria dalam mimpi. Pria itu benar-benar ada di suatu tempat. Mungkin mimpi adalah media pertemuan bagi mereka.
Anjani mengecup singkat cincin di jarinya.
''Aku tahu kamu nyata, Agas!''
Anjani menggeleng dengan mata terpejam. Saat membuka mata, penglihatannya kembali ke masa sekarang. Hal yang pertama ia lihat adalah Agas yang tersenyum padanya.
Seketika air mata Anjani kembali jatuh. Ia percaya sekarang kalau Agas itu nyata, Agas itu ada, hanya saja ada dinding yang membatasi mereka. Karena itu, Agas tidak bisa bertemu langsung dengan Anjani.
''Agas, maaf karena tidak percaya padamu!" ucap Anjani dengan air mata bercucuran. Dia menyesal telah meragukan Agas.
Agas tersenyum, lalu mengusap air mata Anjani dengan ibu jarinya. ''Tidak apa-apa, sayangku! Aku mengerti perasaanmu,'' ujar Agas sambil membawa tubuh Anjani ke dalam dekapannya.
Agas mengelus surai hitam Anjani , sementara gadis itu bersandar di dadanya.
''Cincin itu, di mana ya? Aku tidak pernah melihatnya lagi,'' Anjani bertanya pada dirinya sendiri. ''Dan, kenapa aku bisa lupa akan keberadaanmu dulu?" Anjani lanjut bertanya. Kali ini ditujukan pada Agas.
''Ada orang-orang jahat yang ingin memisahkan kita, sayang!"
Agas melepaskan pelukan mereka. Tangannya bergerak menangkup kedua pipi Anjani. ''Anjani tersayang, menikahlah denganku agar kita bisa terus bersama. Aku berjanji akan membuatmu bahagia, kekasihku!"
''Menikah?" ulang Anjani. Agas mengangguk. Pria itu berlutut di hadapan Anjani, lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin.
''Menikahlah denganku, Anjani!"
Itu ... cincin yang Agas berikan padanya dulu. Sama seperti lima tahun lalu, Agas melamarnya. Tapi kali ini, jawaban Anjani berbeda dengan sebelumnya. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk.
''Ya, aku mau, Agas. Aku mau menikah denganmu!"
Agas tersenyum mendengar pernyataan Anjani. Pria itu memakaikan cincin di jari manis Anjani, lalu mengecup tangannya singkat.
Anjani mengangkat tangannya ke udara dan melihat cincin itu dengan seksama. Sedetik kemudian ia tersenyum. Agas berdiri, lalu kembali memeluk Anjani.
Dagu Agas bersandar ke kepala Anjani, lalu ia berkata, ''Sayangku, jika kamu ingin bertemu denganku, pergilah ke bukit belakang. Aku akan menunggumu di sana dan kita akan menikah!"
Mata Anjani terbuka dan mengerjap beberapa kali, menyesuaikan dengan pencahayaan ruangan. Seperti biasa, Anjani terbangun di kamarnya, namun kali ini bukan di pagi hari. Anjani terbangun di tengah malam dengan cahaya remang-remang dari lampu tidur.
Tanpa berkata apa-apa, gadis itu bangun dari ranjang dan berjalan keluar kamar menuju pintu belakang. Anehnya, pintu yang biasanya tertutup rapat itu kini terbuka lebar, seolah mengundang Anjani keluar.
Tanpa pikir panjang, Anjani me langkahkan kakinya keluar dari rumah. Tepat setelah Anjani menginjakan kakinya di tanah, pintu pun tertutup dengan sendirinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Swastamita
RomanceAnjani datang ke desa untuk menemui kakek dan neneknya setelah sekian lama. Sejak tiba di sana, Anjani selalu bermimpi bertemu dengan seorang pria tampan di tengah hutan. Anjani juga jadi sering mengalami kejadian mistis yang tak pernah ia alami seb...