Sepuluh

793 44 5
                                    

Siti mendengus. Rasanya jengkel ketika mengingat masa lalu yang berhubungan dengan Anjani.

''Seharusnya kau tidak usah kembali lagi ke sini. Tinggal saja di kota untuk selamanya!" Siti berkata lirih.

''Eh, ada Siti ternyata!'' ucap Anjani setelah sadar mengenai keberadaan Siti.

''Emang dari tadi gak liat? Buta ya?" sinis Siti

''Aduh maaf ya, enggak lihat. Soalnya mataku agak burem."

Siti membuang wajahnya, tak ingin melihat Anjani. Anjani tersenyum menyeringai. Senang sekali melihat Siti kesal. Maafkan Anjani yang sedikit nakal, tapi itu menyenangkan.

''Siti, ayo main lagi!" ajak Wawan.

''Enggak, ah!"

Kehadiran Anjani membuat perasaan Siti menjadi buruk. Ia jadi tidak punya semangat untuk ikut bermain lagi.

''Anjani, Nini kira kamu sudah pulang."

Ni Mursih dan Ki Agung baru saja datang.

Sebelumnya, Anjani dan Galuh memilih untuk jalan duluan. Soalnya nenek dan kakek Anjani memilih untuk mengobrol dahulu dengan para petani lain. Daripada menunggu lama, mereka berdua pilih jalan terus saja.

''Iya, Jani nungguin Nini sama Aki.''

''Ya udah atuh, ayo pulang!'' Ajak Ki Agung.

''Iya, duluan ya guys! Assalamualaikum," Ucap Anjani sambil menyimpan kartu-kartu remi ke lantai dari tangannya.

''Waalaikumsalam!"

Anjani berjalan mengikuti pasutri lansia di depannya. Sesekali Anjani tersenyum saat melihat kakeknya menggoda sang nenek dengan menoel pipinya. Lucu sekali interaksi mereka. Anjani jadi berpikir, bisakah ia menemukan pasangan yang akan bersamanya sampai hari tua seperti mereka?

Di era sekarang ini, masih adakah manusia yang tidak bosan hanya dengan satu pasangan hidup saja? Jangankan rekan hidupnya nanti, Anjani saja tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Ya Tuhan, tolong berilah Anjani jodoh dunia akhirat.

*****

''Sepertinya kamu populer ya?" celetuk Agas tiba-tiba.

Anjani yang sedang bersandar di dadanya tiba-tiba menjauhkan kepalanya dan balik menatap Agas.

Kenapa pria itu tiba-tiba menanyakan hal aneh?

''Populer?"

"Iya. Banyak laki-laki di sekelilingmu dan aku tidak suka itu. Terutama pria bernama Radit dan Galuh itu," kata Agas dengan nada ketus. Tatapan matanya datar. Nampak sekali ia sedang kesal.

''Radit itu sepupuku, dan Galuh...kami hanya teman,'' kata Anjani menjeda sebentar ucapannya.

Terkadang Anjani heran, dari mana Agas tahu semua hal tentangnya. Keluarganya, orang-orang yang ada di dekatnya, teman-temannya, atau hal apa yang terjadi kepada Anjani, Agas tahu. Anjani yakin, ia tak pernah menceritakan kisah lengkap hidupnya pada Agas. Terutama tentang Galuh.

Kalau iya itu karena Agas selalu berada di dekatnya, lantas kenapa Agas tidak menampakan diri di hadapan Anjani?

''Lagipula, kamu tahu mereka dari mana?"

''Sudah aku bilang, Anjani. Aku selalu ada di sekitarmu, mengawasimu, dan melindungimu dari segala bahaya yang mungkin bisa terjadi," Agas lelah menjelaskan. Ia pernah mengatakan hal itu sebelumnya, tapi Anjani masih saja meragukannya.

''Kalau benar kamu selalu di dekatku, kenapa kamu tidak pernah menemuiku? Pernah sekali kamu muncul di hadapanku, namun saat aku ingin bicara padamu, kamu menghilang!'' Anjani hampir menangis saat mengatakan itu. Entahlah, ia hanya merasa sedih saja.

SwastamitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang