Hari jumat yang cerah dengan sinar matahari yang hangat. Kepulan awan putih berdiam diri di sekitar sang surya, menghiasi langit yang berwarna biru.
Anjani baru saja selesai menjemur pakaian yang ia cuci. Gadis itu berjalan ke dapur sambil menenteng ember.
"Anjani, ikut Nini ngarewang yang hajatan yuk!" ajak Ni Mursih pada cucunya.
"Di rumah pak RT ya? Buat nikahan Ratna," tebak Anjani yang ternyata benar.
"Kok kamu tahu?"
"Kemarin Anjani ketemu sama Ratna, dia bilang mau nikah. Jadi Anjani tahu."
Ni Mursih mengangguk paham. ''Jadi, mau ikut enggak? "
”Ikut!"
"Ya udah atuh, sana siap-siap!" Ni Mursih menyuruh Anjani bersiap untuk pergi ke rumah pak RT. Selesai bersiap, mereka pun pergi menuju rumah pak RT. Rumahnya tidak jauh, hanya perlu waktu 5 menit saja jika berjalan kaki.
Anjani dan Ni Mursih sampai di tujuan. Ternyata sudah banyak orang yang datang untuk membantu. Halaman rumah Pak RT dipenuhi banyak orang. Kebanyakan dari mereka ibu-ibu, tapi ada juga para lelaki dan anak-anak.
Anjani tersenyum kecil melihat keramaian yang ada. Mereka yang bersenda gurau diselingi tawa ringan membuat hati Anjani menghangat. Di kota, mana ada pemandangan seperti ini. Kebanyakan orangnya cenderung individual.
Suasana hajatan di pedesaan berbeda dengan di kota. Di desa lebih terasa kebersamaannya. Tetangga dan sanak saudara datang untuk membantu. Terutama dalam urusan pembuatan prasmanan. Dapur dadakan akan dibuat untuk memasak makanan prasmanan. Biasanya dibuat di halaman rumah si empunya hajatan.
"Assalaamu'alaikum!" Ni Mursih mengucap salam, menyita perhatian ibu-ibu yang sedang memasak.
"Wa'alaikumsalam!" jawab mereka serempak.
"Eh, Ni Mursih dateng sama siapa?" tanya salah seorang ibu-ibu yang tengah memotong sayuran. Mata ibu itu tertuju kepada Anjani.
"Ah, masa gak kenal? Ini cucunya Nini, Anjani."
"Oh,'' mulut ibu itu membentuk lingkaran. ''Cucunya Ni Mursih. Eleuh-eleuh, cantik sekali. Sudah punya pacar belum?''
Anjani tersenyum segan. "Belum, Ceu!"
Dimana-mana, ibu-ibu itu pasti menanyakan hal yang sama. Tidak akan jauh dari sekolah, kuliah, kerja, pacar, menikah, dan anak.
Sepertinya itu topik yang wajib ditanyakan. Kalau tidak, mulut mereka bisa berbusa.
"Ah, masa sih? Kan udah enggak ketempelan jin lagi!"
"Heh, Inah!" ni Mursih memberi peringatan.
Ibu bernama Inah itu seketika diam. Sadar kalau dirinya sudah salah bicara.
Ketempelan ya? Anjani ingat pernah ketempelan waktu SMA. Walaupun ia tidak ingat kronologinya. Kalau kata ayahnya, jin itu suka kepada Anjani, makanya jin itu terus menempel dan enggan melepaskannya pada lelaki lain. Itu pula yang menjadi alasan kenapa Anjani tak pernah pacaran satu kali pun.
Tapi tenang saja. Anjani sudah diruqyah dan terbebas dari jin itu. Sekarang Anjani kerap mendengar pernyataan cinta dari kaum adam. Hanya saja, dialah yang tak punya perasaan apapun pada mereka. Jadi, tidak ada alasan Anjani untuk berpacaran.
"Itu mah emang saya aja yang enggak mau, Ceu," ucap Anjani yang dibalas senyuman oleh bu Inah.
Bu Inah mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan hal lain. Kali ini bukan tentang Anjani, jadi dia hanya menyimak sambil mengupas kulit kentang.
*****
Ni Mursih terbangun di jam dini hari karena ingin buang air. Ia lihat, suaminya masih tertidur pulas disampingnya. Ni Mursih berdiri secara perlahan sambil memegang pinggangnya yang terasa nyeri. Maklum, namanya sudah sepuh, jadi sering encok.
Ni Mursih tiba-tiba terdiam saat hidungnya mencium wangi ketela yang dibakar. Aromanya tipis, asalnya seperti jauh dari rumah. Pikiran buruk tiba-tiba muncul, namun segera ia tepis. Mungkin itu hanya anak-anak muda di pos ronda yang nongkrong sambil bakar singkong atau kentang.
Ni Mursih mencoba untuk tidak menghiraukannya dan pergi ke kamar mandi.
Saat lewat di depan kamar Anjani, beliau heran dengan pintu yang sedikit terbuka. Biasanya Anjani selalu mengunci pintu tiap kali tidur. Ni Mursih pun berinisiatif untuk mengintip ke dalam. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok hitam besar berdiri di samping ranjang Anjani. Sosok itu nampak tengah mengusap kepala Anjani dengan tangan berbulunya.
Ni Mursih menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Kakinya perlahan-lahan mundur dengan mata yang masih menatap sosok itu.
Makhluk itu sepertinya sadar akan keberadaan ni Mursih. Kepalanya berbalik ke arah pintu. Sepasang mata merah menatap tajam nenek malang itu. Makhluk itu membuka mulutnya, bibirnya bergerak seperti sedang mengucapkan sesuatu. Tetapi yang Ni Mursih dengar hanyalah suara dengungan yang melengking memekakkan telinga.
''Aaa...'' Ni Mursih menjerit. Jeritannya terdengar oleh sang suami hingga membuatnya langsung terbangun.
Ki Agung keluar dari kamar dan panik saat melihat istrinya meringkuk di lantai. Ia segera menghampiri istri tercintanya itu, lalu menenangkannya.
''Nini, ada apa? Kenapa duduk di sini?"
"Anjani, Ki, Anjani!" ni Mursih menunjuk ke arah kamar cucunya.
Ki Agung berjalan masuk ke dalam kamar. Tidak ada apa-apa di sana selain Anjani yang sedang tidur. Gadis itu memang sedikit 'kebo'. Walaupun ada keributan, ia tetep tertidur pulas. Tipe-tipe beban kalau ada kebakaran.
''Ada apa, Ni? Gak ada apa-apa di sini!"
Ni Mursih ikut masuk ke dalam kamar. Ia berjalan kesana kemari sambil celingukan. Kemana makhluk itu pergi? Tadi ada di sini. Sebelum ki Agung datang, makhluk itu masih berdiri di sini.
''Ta-tadi ada di sini!"
Ki Agung menghela napas, kemudian menarik istrinya keluar dari kamar. Setelah menutup pintu, ia kembali mencoba mengajak bicara istrinya.
''Sebenarnya ada apa, Ni? Kenapa kamu kelihatan tegang begitu?"
"Genderuwo, tadi ada genderuwo di kamar Anjani. Dia datang ke sini, Ki. Dia mau ambil Anjani!"
"Hush, ngawur! Gak mungkin dia balik lagi. Anjani kan sudah diruqyah, dia juga sudah dijauhkan dari tempat ini selama lima tahun. Kata pak Kyai, dia cukup dijauhkan dulu saja sampai makhluk itu lupa padanya. Lima tahun itu pasti sudah cukup. Jadi, jangan khawatir lagi, ya?"
Ni Mursih mengangguk walau enggan. Ia hanya bisa berharap kalau yang dikatakan suaminya itu benar. Semoga Anjani selalu dilindung oleh Yang Maha Kuasa.
*
*
*Maaf ya, chapter kali ini lebih pendek. Menurut kalian, cerita ini dapet gak sih vibes pedesaannya?
Bersambung...

KAMU SEDANG MEMBACA
Swastamita
RomanceAnjani datang ke desa untuk menemui kakek dan neneknya setelah sekian lama. Sejak tiba di sana, Anjani selalu bermimpi bertemu dengan seorang pria tampan di tengah hutan. Anjani juga jadi sering mengalami kejadian mistis yang tak pernah ia alami seb...