Anjani berlari tak tentu arah, masuk semakin jauh ke dalam hutan. Satu-satunya hal yang Anjani pikirkan adalah cara agar dia bisa terbebas dari anjing yang mengejarnya. Anjing itu terus menggonggong keras sambil berlari.
Gadis itu tak mengerti dengan situasi ini. Entah kenapa ia tiba-tiba ada di hutan dan dikejar anjing gila itu. Anjing berwarna hitam legam dengan air liur yang terus menetes dari mulutnya. Seram sekali. Dari kecil, Anjani takut sekali dengan anjing. Mengigat, dulu ia pernah diserang sampai mendapat luka besar di betisnya dan harus dijahit.
Anjani tersandung akar pohon dan terjatuh. Saat ia hampir putus asa, tiba-tiba, seorang pria datang mencekik leher anjing itu dan mengangkatnya ke udara. Cengkramannya sangat kuat hingga memperlihatkan urat-urat di tangannya yang menonjol.
Anjing itu meronta sambil mengikik kesakitan. Setelah memastikan anjing itu mati, si pria melemparnya jauh entah ke mana.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu kepada Anjani.
Anjani tertegun melihat perawakan pria itu. Tubuhnya tinggi, dadanya bidang, pundaknya lebar, dan lengannya berotot. Tubuhnya nampak tegap nan gagah perkasa.
Wajah pria itu juga begitu rupawan. Mata monoloid, bibir yang seksi, dan kulit cokelat . Jangan lupakan gigi taring juga lesung pipinya yang menjadi nilai tambah untuknya.
Pria itu mengingatkan Anjani kepada idolanya. Yang membedakan hanya kulit eksotis dan gigi taringnya saja.
Ngomong-ngomong, pria itu nampak sangat keren dengan setelan serba hitam. Celana bahan dan kemeja hitam dengan dua kancing atas yang terbuka. Anjani jadi salah fokus pada dada pria itu yang mengintip dari balik kemeja
"Neng?"
"Ah, iya. Aku tidak apa-apa." jawab Anjani gelagapan.
Pria itu tersenyum melihat reaksi Anjani yang menurutnya lucu. Lesung pipi di kedua sisi bibirnya semakin jelas saja saat tersenyum. Membuat Anjani semakin terpesona.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini? Apa kamu tersesat?" tanya pria itu.
"Mmm, entahlah, mungkin."
"Ayo, aku antar kamu keluar dari sini!" pria itu menggenggam tangan Anjani, kemudian menariknya entah kemana.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka melihat jalan keluar. Anjani menatap pria itu yang juga sedang menatapnya.
"Pulanglah!" ucap pria itu.
"Kamu tidak ikut?"
"Tidak. Aku akan tetap berada di sini."
Pria itu menyelipkan rambut Anjani ke belakang telinganya. Anjani baru sadar kalau dia tak memakai kerudung. Ia jadi malu.
Anjani melepaskan genggaman tangan mereka, kemudian berjalan keluar dari hutan tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Sampai jumpa nanti, Anjani!"
Anjani bangun dari tidurnya. Ia melamun di posisinya yang masih terbaring. Ini di mana? Kamar ini tidak terlihat seperti kamarnya.
Ah, iya. Anjani baru ingat kalau dia sedang berada di kampung. Gadis itu mengecek jam di ponselnya. Matanya melotot melihat angka yang tertera di layar. Ternyata sudah jam enam pagi. Ya ampun, dia terlambat sholat subuh.
Anjani bangun dari ranjangnya, lalu berlari menuju kamar mandi. Panggilan dari sang nenek ia abaikan. Pokoknya dia harus segera melaksanakan sholat subuh. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
*****
Bukit belakang, bukit yang ada di belakang kampung. Bukit itu menyatu dengan hutan yang luasnya sampai jalan menuju keluar kampung. Bukit belakang bagai sebuah pantangan bagi warga sini. Tidak ada yang boleh datang ke sana tanpa tujuan yang jelas. Konon katanya, dulu pernah ada seorang anak yang pergi ke bukit belakang karena mengejar kelinci. Tapi dia tidak pernah kembali pulang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Swastamita
RomanceAnjani datang ke desa untuk menemui kakek dan neneknya setelah sekian lama. Sejak tiba di sana, Anjani selalu bermimpi bertemu dengan seorang pria tampan di tengah hutan. Anjani juga jadi sering mengalami kejadian mistis yang tak pernah ia alami seb...