Mahen sedang keliling kamar kamar adiknya. Memastikan tidak ada yang bermain HP setelah maghrib. Kamar pertama yang menjadi tujuannya tentu saja kamar si kembar Candra dan Jefran.
Tok! Tok!
"Candra,Jefran," panggil Mahen.
Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Pintu pun terbuka memperlihatkan Candra yang masih memakai sarungnya.
"Ada apa bang?" Tanya Candra.
"Kalian lagi apa?" Tanya Mahen balik.
"Candra abis shalat. Kalo Jefran lagi ngerjain PR," jawab Candra sambil membuka pintunya lebih lebar sehingga memperlihatkan Jefran yang sedang fokus mengerjakan tugas.
"Bagus. Abis maghrib ingat jangan main HP," pesan Mahen lalu pergi ke kamar selanjutnya. Kamar Nathan disebelah kamar si kembar.
"Nathan...Nathan?" Panggil Mahen. Lama tak ada sahutan. Mahen mengetuk pintu. Masih sepi. Mahen mencoba membuka pintu yang ternyata tak dikunci itu. Mahen menghela nafas melihat Johan yang terlelap dikasur Nathan masih memakai sarung dan wajah yang tertutup peci.
"Johan,hei Johan. Bangun ey. Abis maghrib jangan tidur," kata Mahen sambil menepuk pelan pipi Johan. Johan bangun sambil mengucek matanya. Dia duduk untuk mengumpulkan nyawanya.
"Abis maghrib kok tidur? Di kamar adeknya juga," Tanya Mahen heran.
"Em...maaf bang. Johan ketiduran. Tadi Johan shalat disini soalnya Haikal ganggu terus," jawab Johan dengan suara seraknya.
"Wudhu lagi gih. Terus Nathan dimana?" Tanya Mahen celingukan mencari sang pemilik kamar.
"Nathan....tadi katanya mau ikut bang Reyhan ke warung..hoooaaammm..." jawab Johan sambil menguap.
"Oh. Sana ambil wudhu. Biar nggak ngantuk baca buku aja sana. Belajar biar pinter," kata Mahen sambil menepuk pundak Johan. Johan mengangguk lalu beranjak ke kamar mandi Nathan untuk mengambil wudhu.
Mahen meninggalkan kamar Nathan kemudian beralih ke kamar didepan kamar itu. Kamar Johan dan Haikal. Samar samar terdengar suara Haikal yang tengah membaca Al-Qur'an.
"Tumben tu anak mau ngaji? Biasanya harus di ceramahin Reyhan dulu baru mau ngaji," gumam Mahen agak heran. Mahen membuka pintu kamar perlahan. Hatinya menghangat melihat Haikal yang fokus membaca surah yasin diatas tempat tidurnya. Senyum haru terbit diwajah Mahen. Tak lama Mahen melihat Haikal menutup buku yasinnya. Dia juga mengangkat kedua telapak tangannya keatas seolah tengah meminta.
"Ya Allah...Haikal udah baca Yasin malam ini. Jadi Haikal minta lindungi Haikal dari para setan berkuncir yang suka nongkrong dipojokan Ya Allah..."
Diam diam Mahen tertawa mendengar permintaan Haikal.
"...sama itu Ya Allah cewek yang suka ngintipin sambil ketawa nggak jelas,sama anak botaknya. Jangan sampai masuk kerumah. Nanti nyolong duit Haikal lagi. Haikal nggak punya duit Ya Allah. Kalau mau nyolong biar nyolong punya bang Mahen aja. Eh jangan ding. Nanti Haikal nggak dapet jatah lagi. Pokoknya jangan biarin setan setan itu masuk Ya Allah...Aamiin," Haikal mengusap wajahnya mengakhiri doanya. Dia menoleh ke arah pintu. Seketika itulah dia kaget hingga jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah!! Tuyul gundul tela telo eh tela telo," latah Haikal karena kaget. Tangannya memegang dadanya yang berdebar kencang jantungnya. Mahen tertawa lalu menghampiri Haikal.
"Abang ih ngagetin aja. Untung jantung Haikal nggak keluar," keluh Haikal masih kaget. Dia kembali duduk diatas kasurnya.
"Tumben baca Yasin? Biasanya nunggu diomelin Reyhan dulu baru mau," ejek Mahen sambil mengacak acak rambut Haikal gemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seven Brothers
Fiksi Penggemar"Kita itu saudara...jadi kita harus jadi penguat satu sama lain..." Kisah tujuh bersaudara yang ditinggal sang papi traveling katanya biar nggak cari mami baru dan anak anaknya jadi mandiri Kehidupan yang semula tenang perlahan terusik. Bahaya mende...
