"Rakaa?? ga salah denger gue cowo dingin itu? ga, ga mungkin!" Dewi menggelengkan kepala tak percaya.
Mala kemudian menunjukkan isi paper bag yang ia bawa. Paper bag yang berisi jaket kulit dengan tulisan Black Moon dipunggung jaketnya.
Dewi kaget dan tetap tidak percaya seorang Raka akan mengantar wanita yang baru saja ditemuinya.
Percaya ga percaya tapi itulah kenyataannya.
Mereka memasuki ruang kelas yang masih sepi terlihat hanya beberapa siswa saja.
Mala dan Dewi kemudian duduk dibangku masing-masing.
Tak selang beberapa lama, Vano datang sambil memainkan rambut coklatnya.
"Pagiii..." sapa Vano tersenyum lebar sambil mengelus rambut Mala.
"Hmmm" suara hembusan nafas mala yang membenarkan rambutnya.
Vano terus-terusan menggoda Mala padahal ia sudah memiliki Stella. Tapi dari berita-berita beredar yang Mala dengar, Stella hanyalah "Pacar Bayaran" Vano agar tidak terlihat jomblo sekaligus untuk memutuskan korban-korbannya yang terus menerus mengejar Vano. Wanita-wanita yang masih mengejar Vano akan otomatis berhenti ketika melihat Stella disisi Vano. Karena bagi mereka akan sangat melelahkan bila berhadapan dengan Stella.
Si cewe gila, begitulah orang-orang menjulukinya, bukan tanpa alasan melainkan karena Stella yang sering bertindak semaunya seperti menjambak, menyiram, mendatangkan preman, bahkan yang paling parah adalah berkelahi hingga satu korbannya masuk rumah sakit.
Bagi Stella tidak masalah orang mau menyebutnya apa, selagi uang mengalir ke rekeningnya karena menurut Stella hidup butuh uang bukan omongan.
Bel masuk berbunyi, pelajaran pun dimulai.
.............................
Bel berbunyi untuk kedua kalinya menandakan waktu istirahat tiba.
Dengan membawa paper bagnya Mala dan Dewi berjalan menuju kantin.
"Lo yang traktir kan??" tagih Mala.
"Iyaa, gue yang traktir tenang aja"
Sampai di kantin, Mala yang melihat Raka tengah duduk dengan sekumpulan teman-temannya kemudian meninggalkan Dewi dan mulai berjalan mendekati mereka dengan tujuan untuk mengembalikan jaket Raka.
"La mau kemana!!" teriak Dewi.
"Ngembaliin ini, lo cari tempat duduk dulu aja nanti gue nyusul" sahut Mala tanpa menoleh dan terus berjalan menuju meja mereka.
"Nih!!" sambil menyodorkan paper bag kepada Raka.
Siswi-siswi di kantin menatap Mala dengan wajah marah seperti tidak terima dan banyak yang mulai membicarakannya.
Mala tidak menghiraukan mereka karena niat Mala hanya mengembalikan jaket bukan untuk menggoda.
"Haii! Malaa" sapa Vano yang duduk disamping Raka.
Mala hanya melirik tanpa membalas sapaannya.
"Makasih juga" lanjut Mala yang masih menyodorkan paper bag.
Raka kemudian menerima paper bag itu tanpa membukanya karena sepertinya ia sudah tau isi paper bag itu.
"Cieee apaan tu boss?"
KAMU SEDANG MEMBACA
AMALA
Fiksi RemajaNigista Amala Pradivtha merupakan gadis cantik jelita dan penuh keceriaan. Tapi kehidupannya harus berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia menikah dengan cinta pertamanya. Seorang pria bernama Kalendra Raka Bimantara. Raka, sosok pria yan...
