Mala terbangun ditengah malam, karena kehausan. Disampingnya terasa kosong yang artinya Raka belum juga pulang. Benar Raka sempat mengabari akan lembur, tapi Mala tak menyangka akan selarut malam ini. Mala pun memutuskan untuk keluar kamar dan turun ke lantai dasar untuk mengambil air. Diambilnya gelas dari rak khusus tempat menyimpan gelas dan berjalan santai menuju dispenser untuk mengambil minum.
Selesai minum, Mala kembali naik ke lantai atas untuk kembali ke kamarnya. Baru saja Mala merebahkan dirinya di atas kasur dan memejamkan mata, tiba-tiba terdengar pintu kamar yang kembali dibuka. Ya, Mala memang tak mengunci pintu kamarnya saat tidur, kalau-kalau Raka pulang saat dirinya sedang terlelap. Apalagi baru-baru ini Raka sering lembur di kantornya. Mala merasa itu Raka, tapi kenapa pria itu tidak bersuara sama sekali.
"Aku tau kamu belum tidur sayang" sontak Mala langsung membuka mata saat mendengar Raka disampingnya.
"Kamu baru pulang? Aku pikir kamu ga akan pulang"
"Aku kangen sama kamu. Memangnya kamu ga kangen aku? Sejak kamu hamil aku ga boleh lagi nyentuh kamu kaya gini.." ungkap Raka sembari memeras kasar dada Mala.
"Ugh..Raka jangan aneh-aneh deh" Mala berusaha menahan Raka "Kamu minum?" sambung Mala mencium aroma alkohol.
"Raka mau ngapain?!" tanya Mala panik saat Raka mulai merangkak naik ke atas tubuhnya dan menindihnya. Bisa ia rasakan sesuatu menusuk perutnya saat ini.
Raka memegang erat tangan Mala "Tentu saja bercinta dengan istriku yang cantik ini" balas Raka membelai rambut Mala.
"Kita ga boleh lakuin itu. Aku lagi hamil" Raka terlihat aneh malam ini. Sepertinya pria itu benar-benar minum.
"Emangnya kenapa kalo kamu hamil? Dokter juga udah ngebolehin"
"Jangan hari ini sayang, badan aku sedikit ga enak" Raka menggelengkan kepala, sikapnya persis seperti ia yang dulu. Seorang berandalan. Malam ini ia bukan seperti Raka.
"Selama kamu masih jadi istriku, maka kamu wajib melayani dengan baik sayang"
"Tapi Rak..." Mala tidak jadi melanjutkan ucapannya, saat Raka langsung mendaratkan ciuman dibibirnya.
"Ga sopan panggil nama. Aku mau panggilan yang lain!"
Ya. Raka benar, Mala adalah istrinya dan ia tidak berhak menolak melayani suaminya. Mala hanya takut bayinya kenapa-napa karena Raka dalam pengaruh alkohol. Tapi Mala rasa bayinya sudah kuat dan dalam buku yang ia baca, disitu tertulis bahwa 'berhubungan intim saat hamil, aman dilakukan pada trimester kedua yaitu 13-26 minggu'
"Mas...." Mala pasrah dan memilih menikmati sentuhan Raka disetiap inci tubuhnya.
"Aku suka panggilan itu sayang" Raka kembali menikmati tubuh sexy sang istri.
"Ugh..Mas lebih cepat, aku mau sampai" Raka pun menuruti kemauan Mala dengan mempercepat permainan, karena dirinya juga akan mendapatkan pelepasan.
Setelah keduanya sama-sama mendapatkan pelepasan bersama, Raka menjatuhkan diri disamping Mala sembari mengatur napasnya.
"Makasih sayang" gumam Raka tersenyum puas setelah menunggu lama menginginkan wanita itu. Tak lama, Raka tertidur lebih cepat begitu pun dengan Mala yang kelelahan, ikut tertidur memeluk Raka.
****
Hangat, Nyaman dan Tenang. Bak anak bayi, Mala terus mendusel mencari kenyamanan di dada bidang milik sang suami. Tanpa Mala sadari sejak tadi Raka sudah bangun akan tetapi, Raka tetap diam tanpa mengeluarkan suara. Tubuh Mala kembali merapat.
"Bangun sayang" Raka berusaha menganggu tidur Mala agar wanita itu bangun.
Mala membuka kelopak matanya. Dilihatnya samar-samar Raka yang sudah wangi dengan rambutnya yang masih sedikit basah, selesai mandi. Mala melepaskan pelukannya dan beralih membelakangi Raka.
"Maaf sayang, kemarin aku ga sengaja minum" tidak ada sahutan dari Mala, ia memilih kembali menutup kelopak matanya.
Raka yang didiamkan tentu saja kesal, ia menciumi leher Mala dan sesekali membuat tanda merah disana.
"Ish..sakit tau mas" Mala merubah panggilannya yang membuat Raka salting sendiri. Menurut Mala memang selama ini ia tidak sopan memanggil suaminya hanya dengan nama.
"Mas minta maaf ya, ya, ya" kini Raka beralih mengecupi pipi Mala.
"Ih..udah Iya aku maafin, tapi kalo kamu ulangi lagi, aku bakal marah selamanya!" Raka memeluk Mala.
"Aku janji ga akan ngulangi lagi, maaf sayang" Raka mengelus lembut surai rambut Mala. Ia mendongkak dan langsung mendapatkan kecupan dibibirnya yang lama kelamaan kini beralih menjadi ciuman.
****
"Hari ini kamu ga ke kantor mas?" tanya Mala melihat Raka yang masih bersantai duduk menonton televisi.
"Engga sayang, hari ini aku mau anter kamu cek kandungan" ucap Raka menepuk sofa sebelahnya, mengisyaratkan Mala untuk ikut duduk.
Mala membawakan secangkir kopi dan juga camilan, duduk di sebelah Raka. Hari ini ia sedikit tidak nyaman, sesekali merasakan bayinya yang bergerak dan perutnya yang terlalu kencang.
"Kenapa sayang?" tanya Raka meletakkan kopinya dan merangkul bahu Mala.
"Sedikit sakit" keluh Mala mengelus perutnya diikuti oleh Raka yang juga ikut mengelusnya.
"Anak papa seneng banget ya habis papa jenguk" tangan Mala memukul bahu Raka yang membuatnya menampilkan senyum jahil.
"Tapi jangan terlalu seneng sayang. Kasian mama kamu kesakitan" kembali Raka berbicara kepada anaknya.
Dug..
Tendangan kecil dari dalam perutnya membuat Mala meringgis terkejut.
"Dia nendang sayang!" Raka menempelkan telinganya berusaha mendengar suara didalamnya. Bayinya merespon suara Raka dengan gerakan kecil yang membuat senyum keduanya merekah.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
AMALA
Teen FictionNigista Amala Pradivtha merupakan gadis cantik jelita dan penuh keceriaan. Tapi kehidupannya harus berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia menikah dengan cinta pertamanya. Seorang pria bernama Kalendra Raka Bimantara. Raka, sosok pria yan...
