Bab 64 : Lupa

505 50 7
                                        


"Hai kak Mala. Aku boleh masuk?" terlihat Bella yang berdiri di depan pintu dengan membawa paper bag yang entah apa isinya, Mala tidak penasaran.

"Boleh, ayo" Mala mengajak Bella untuk duduk di ruang keluarga.

"Gimana kabar kamu?"

"Bella udah gapapa kak" jawab gadis itu, sambil memainkan jarinya. Mala mengelus punggung Bella.

"Saat ini Bella udah ga punya siapa-siapa lagi, tapi Bella lupa kalo masih punya kak Raka" Mala sedikit terusik dengan jawaban itu.

"Kak Raka yang udah kaya kakak kandung Bella" mendengar itu Mala tersenyum, ia hampir saja salah paham dengan ucapan Bella.

Bella menceritakan masa kecilnya dengan Raka yang membuat Mala excited untuk mendengarkan. Bella berkata bahwa dari kecil, Raka begitu baik menjaga dan menyayanginya. Ia sering bepergian kemanapun dengan Raka dan Raka juga yang melawan anak laki-laki yang sempat menganggu nya waktu itu. Bella tersenyum mengingat masa-masa itu. Sungguh masa kecil yang ia rindukan. Jika bisa terulang kembali tentu saja ia akan kembali.

"Setelah kepergian bundanya, kak Raka harus ikut Papanya untuk pindah. Dan sebelum kami berpisah ia pernah berjanji untuk menikahi Bella saat kami dewasa" ucap Bella yang tiba-tiba membuat senyum Mala seketika pudar. Menatap lekat ke arah Bella, seperti tatapan bertanya "maksudnya?".

"Tapi siapa yang akan percaya dengan ucapan anak umur 11 tahun" sambung Bella dengan tawa, mencairkan suasana.

Mala sedikit tersenyum, apa maksud Bella menceritakan hal itu kepadanya. Toh itu hanya masa lalu bukan?

Tint...

Suara klakson mobil yang sudah pasti milik Raka, mengakhiri tatapan sengit keduanya. Bella cepat-cepat mengeluarkan isi paper bag yang ternyata isinya adalah sebuah kue ulang tahun dan bergegas menemui Raka.

Sedang Mala melihat tanggal dilayar ponselnya. Sial, Mala lupa hari ini ulang tahun Raka. Ia juga belum menyiapkan apa-apa untuk suaminya. Mala yang bingung memilih pergi ikut menghampiri Raka, untuk hadiah dan lainnya biar ia pikirkan nanti saja.

Saat Raka akan memegang gagang pintu. Pintu sudah lebih dulu ditarik dari dalam.

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you. Selamat ulang tahun kak Raka" Bella bernyanyi dengan membawa kue yang lilinnya sudah menyala.

Raka tersenyum lebar sembari mengacak-acak rambut Bella. Mala hanya memperhatikan dari jarak yang tak terlalu dekat sembari bertepuk tangan. Ia merasa bersalah karena di hari penting suaminya, ia malah tidak menyiapkan apa-apa dan bahkan ia sendiri lupa akan hal itu.

"Tiup lilinnya kak" Raka bersiap untuk meniupnya.

"Eh..tapi sebelum itu make a wish dulu kak" Raka memejamkan mata cukup lama dan kemudian meniup lilinnya.

"Yeay" sorak Bella langsung memeluk Raka, yang mendapat balasan juga dari Raka. Hingga ia melihat istrinya yang berdiri sembari tersenyum kearahnya. Raka melepaskan pelukan itu dan menghampiri Mala.

"Selamat ulang tahun mas" ucap Mala ragu-ragu.

"Hadiahnya?" tanya Raka memegang bahu Mala dengan kedua tangannya, berusaha melihat kebelakang Mala. Tidak ada apa-apa ditangan Mala membuat Raka kembali menatap Mala, sedikit memiringkan kepalanya seolah bertanya.

   Mala mengecup singkat bibir Raka yang membuatnya tersenyum. Raka mendekatkan wajahnya untuk membalas ciuman itu namun, ditahan oleh Mala yang melihat Bella tengah memperhatikan mereka. Raka menoleh kebelakang memastikan.

"Kita lanjut nanti sayang" bisiknya ditelinga Mala.

"Ayo masuk Bella" ajak Raka memegang pinggang Mala, berjalan lebih dulu. Dan diikuti oleh Bella dibelakangnya.

   Saat sudah di dapur Bella berinisiatif memotong kue nya dan diberikan kepada Raka yang tentu saja diterima. Bukan untuk dimakan sendiri tapi, ia menyuapkan kue itu kepada Mala yang membuat Bella tersenyum getir.

"Bella mau dong kak" Raka memotong kue lain dan menyuapkan kepada Bella yang membuat nya tersenyum puas.

"Oh iya, ini hadiah buat kakak " Bella memberikan paper bag lain yang berukuran lebih kecil.

"Makasih Bella"

"sama-sama kak"

"Oh ya, kado dari kak Mala mana?" sambung Bella menyindir.

"Eeee..." Mala bingung harus menjawab apa. Raka juga ikut memperhatikannya yang membuat ia semakin gugup. "R-Rahasia" jawabnya spontan yang membuat Raka senyum-senyum.

   Bella mengalihkan topik pembicaraan mereka. Mala terus menyuapkan kue kedalam mulutnya. Sementara Raka dan Bella sedang asik berbincang mengenang masa kecil mereka.

"Awss.."

"Kenapa sayang?" Raka dibuat panik dengan ringisan Mala.

"Gapapa mas, anak kamu nendang" sepertinya bayi itu tau ibunya sedang diabaikan.

   Raka mengelus perut Mala dan berbicara kepada bayinya. Mala tertawa saat Raka sedikit mengelitiknya. Ditengah senda gurau keduanya, Mala tak sengaja melihat tatapan Bella kepadanya dengan wajah begitu tak suka.

"Bella pulang dulu ya kak" Raka menoleh.

"Mau kakak anter?" tawar Raka.

"Ga usah kak, Bella masih ada urusan"

"Ohh..kalo gitu hati-hati"

"Iya kak" Bella bangkit dari duduknya sementara Raka melanjutkan aktivitasnya bebicara dengan bayi.

"Muak gue liatnya!" gumam Bella yang dapat didengar Mala. Senyumnya pudar. Tidak paham dengan kata-kata yang baru di dengar. Apakah Bella dari awal memang tidak menyukainya? Atau hanya memang sifatnya. Sungguh pertanyaan itu muncul di kepala Mala.

***

"Mana hadiahnya sayang?" sampai malam hari Raka masih saja menanyakan itu. Mala kebingungan harus menjawab apa.

"Eee..sebenarnya.." Mala mengantungkan kalimatnya. Ia mengengam tangan Raka "Ma-Maaf mas, aku ga nyiapin apa-apa, karena aku lupa hari ini ulang tahun kamu" jujur Mala menundukkan pandangannya.

   Raka hanya diam dan melepaskan gengaman tangan mereka.

"Sekali lagi maaf mas.." ucap Mala kini menatap Raka.

"Gapapa" balas Raka mengelus rambut istrinya. Tapi dapat dilihat dari sorot matanya bahwa benar pria itu kecewa. Ia sangat berharap ucapan pertama dari Mala dan mengharap sebuah kejutan dari istrinya. Tapi nihil, istrinya saja bahkan lupa. Raka tidak mengutarakan kekecewaannya ia memilih pergi keluar kamar.

"Mas.."

    Mala menatap punggung Raka, ia mengigit jarinya berpikir apa yang harus ia lakukan agar Raka tidak kecewa dan memaafkannya. Tidak lama berpikir, Mala memutuskan akan keluar untuk membeli hadiah. Jika bertanya pada Raka mungkin ia tidak akan mengijinkannya, jadi Mala akan pergi diam-diam.

   Mala pergi ke ruang kerja Raka yang ternyata gelap, artinya Raka tidak ada disana. Ia lanjut berjalan dan tidak menemukan keberadaan Raka dimana pun. Kemana pria itu? tapi bukankah bagus, Mala bisa pergi dengan leluasa dan pulang sebelum Raka kembali tanpa ketahuan oleh nya.

***

Selesai dari toko yang Mala tuju, ia bergegas menuju mobilnya. Saat membuka pintu mobil, matanya tak sengaja menangkap sosok seperti Raka yang tengah di cafe tak jauh dari tempat nya sekarang. Mala mencoba mendekat untuk memastikan apakah diseberang sana memang benar Raka atau hanya orang yang mirip dengannya saja.

Banyaknya kendaraan yang berlalu lalang membuatnya susah untuk memastikan dan menyebrang. Saat kendaraan mulai sedikit Mala baru bisa melihat nya dengan jelas. Dan yap itu benar Raka, tapi dengan siapa? Seorang wanita?

Bersambung...

AMALA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang