Bab 16 : Piring Pecah

2.2K 150 6
                                        


Pagi-pagi Mala di kagetkan dengan suara jam alarm yang diaturnya. Perempuan cantik yang sudah mendapat gelar istri itu baru saja membuka matanya.

Posisi yang semula berbaring dengan perlahan ia ubah dengan posisi kini duduk. Ia mengusap matanya dengan lembut.

Dengan keadaan setengah sadar ia melihat-lihat seisi kamar dan tidak dilihatnya Raka yang tadi malam tidur di sofa. Terdengar gemericik suara air yang jatuh ke lantai kamar mandi membuat Mala tau Raka sedang mandi.

Mala bangkit dan menyiapkan pakaian untuk dikenakan Raka di hari pertamanya bekerja di kantor. Diletakkannya pakaian itu di atas kasur lengkap dengan dasinya.

Mala lalu turun untuk menggunkan kamar mandi di bawah sekaligus menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia di sibukkan dengan alat-alat dapurnya. Sebenarnya ia tidak tau akan memasak apa karena ia tak tau makanan kesukaan Raka.

Dibuatlah nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, dengan resep yang ia lihat di internet.

Raka berjalan menuju meja makan. Perasaan Mala sangat senang melihat Raka memakai pakaian yang ia pilihkan. Setidaknya kini Mala memiliki harapan kecil untuk mempertahankan rumah tangganya, meskipun waktu satu tahun bukanlah waktu yang lama.

Raka tiba-tiba mengeser piringnya dengan kasar hingga jatuh dan pecah di atas keramik.

"Bisa masak ga sih! Makanan apa itu rasanya ga jelas begitu. Bikinin gue makanan yang lain! Ga sudi gue makan makanan yang rasanya ga jelas gitu!!"

"Ta-tapi Rak, udah ga ada bahan lagi di kulkas. Gue masakin mie instan ya?"

"Lo pikir gue suka makan mie instan?!" matanya menatap tajam ke arah Mala sebelum akhirnya meninggalkan meja makan.

Hati Mala terasa sangat sakit. Air matanya keluar dengan sendirinya. Mala menangis sambil memunguti pecahan piring di lantai. Hari pertama di rumah baru mereka Mala harus mengalami rasa sakit yang tak berdarah seperti ini.

Baru saja dirinya merasa senang melihat Raka memakai pakaian pilihannya, Mala kembali harus merasakan sakit hati karena sikap Raka kepadanya. Apakah Mala akan kuat menjalani rumah tangga bersama dengan Raka?

Suara deru mobil terdengar meninggalkan rumah, yang artinya Raka sudah pergi.

Mala segera membersihkan dapur bekas memasak tadi dengan deraian air mata.

"Gue ga boleh kalah dari pertarungan ini. Gue udah terlanjur berperang maka gue harus berjuang sampai akhir. Masalah kalah atau menang urusan belakangan, setidaknya gue ga nyerah di awal. Syukur-syukur gue lah yang menang!" ucap Mala menyemangati dirinya sendiri.

"Gue ga boleh nangis lagi. Gue harus tegar berurusan dengan Raka!" sambungnya sembari mengusap air mata dipipinya.

......................

Hari pertama Raka di kantor disambut senang oleh semua karyawan. Anton memperkenalkan Raka kepada seluruh bawahannya.

"Mulai hari ini anak saya yang akan menggantikan saya memegang perusahaan ini!" ujar Anton yang di sambut tepukan ramai semua karyawan.

"Perkenalkan saya Raka, yang akan menggantikan papa saya mengurus perusahaan ini" Raka memperkenalkan diri dengan senyum tipisnya.

Raka langsung pergi menuju kantornya. Dihari pertamanya, Raka sudah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk tanpa pengajaran dari papanya. Karena Anton yakin anak sepandai Raka dapat dengan cepat beradaptasi dan mudah menyelesaikan pekerjaannya.

Tidak terlihat adanya asisten disana, Raka hanya sendirian di ruang pribadinya membaca berkas-berkas dan fokus menatap layar komputer bergambar apel dibelakangnya.

Tok...Tok...Tok...

Suara pintu diketuk membuat Raka menoleh ke arah pintu.

"Masuk" teriaknya.

Terlihat seorang karyawan perempuan membawa nampan dengan air putih dan secangkir teh diatasnya.

"Ini pak minumnya" diletakkan air itu diatas meja Raka.

"Ya makasih" Raka kembali fokus menatap layar komputer.

"Kamu!!" panggil Raka membuat karyawan itu berhenti berjalan dan menoleh lagi.

"Iya pak?" tanya karyawan yang dipanggilnya.

"Siapa nama mu??"

"Ica pak"

"Oh ya Ica. Tolong belikan saya sarapan!"

"Baik pak" Ica berjalan keluar meninggalkan ruangan Raka.

Setelah beberapa saat dibawakannya masuk makanan yang Raka suruh dan diletakkan di meja panjang depan sofa ruangan Raka.

"Permisi pak" ucap Ica setelah meletakkan makanan Raka dan pergi meninggalkan ruangan itu.

Raka yang sedari tadi menahan lapar karena meninggalkan rumah tanpa sarapan, memakan lahap habis makanan di atas meja.

Bersambung...

AMALA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang